PT BAHTERA ADIMINA SAMUDRA Tbk. - akses.ksei.co. · PDF file Surat Pernyataan Direksi/...

Click here to load reader

  • date post

    28-Jan-2019
  • Category

    Documents

  • view

    269
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PT BAHTERA ADIMINA SAMUDRA Tbk. - akses.ksei.co. · PDF file Surat Pernyataan Direksi/...

No. 026/RW-AK/LAP/0310

Laporan Keuangan/Financial Statements

Beserta/with

Laporan Auditor Independen

Independent Auditors Report

PT BAHTERA ADIMINA SAMUDRA Tbk.

Per 31 Desember 2009

Dengan angka perbandingan 2008

As of December 31, 2009

With comparative figure for 2008

PT BAHTERA ADIMINA SAMUDRA Tbk.

Daftar isi/ Table of Contents

Halaman/

Page

Surat Pernyataan Direksi/ Directors Statement Letter

Laporan Auditor Independen/ Independent Auditors Report i - iii

Neraca/ Balance Sheets 1a 1b

Laporan Laba Rugi/ Statements of Income 2

Laporan Perubahan Ekuitas Pemegang Saham/ Statements of Changes in ShareholdersEquities 3

Laporan Arus Kas/ Statements of Cash Flows 4

Catatan Atas Laporan Keuangan/ Notes to the Financial Statements 5 35

i

No: 026/RW-AK/LAP/0310

Laporan Auditor Independen Independent Auditors Report

Pemegang Saham, Dewan Komisaris dan Direksi

PT Bahtera Adimina Samudra Tbk.

The Stockholders, Boards of Commissioners and

Directors PT Bahtera Adimina Samudra Tbk.

Kami telah membuat perikatan untuk mengaudit

neraca PT Bahtera Adimina Samudra, Tbk

("Perseroan) tanggal 31 Desember 2009 dan 2008,

dan laporan perhitungan laba (rugi), laporan

perubahan ekuitas pemegang saham, dan laporan

arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal

tersebut. Laporan keuangan adalah tanggung jawab

manajemen Perseroan.

We have been engaged to audit the accompanying

balance sheets of PT Bahtera Adimina Samudra, Tbk

(the Company) as of December 31, 2009 and 2008,

and the related statements of income, changes in

shareholders equities, and cash flows for the year

then ended. The financial statements are the

responsibility of the management.

Seperti yang dijelaskan dalam Catatan 7 dan 8 atas

laporan keuangan, pada tanggal 31 Desember 2009

Perseroan mencatat aset tetap dengan nilai buku

sebesar Rp 99,64 miliar (2008: Rp 172,54 miliar) dan

aset kapal yang tidak dapat dioperasikan dalam akun

aset lain-lain sebesar Rp 0 (2008: Rp 3,29 miliar).

Dimana di dalam nilai buku aset tetap tersebut

terdapat aset kapal per 31 Desember 2009 dengan

nilai buku sebesar Rp 120,65 miliar. Dan atas nilai

buku tersebut, Perseroan telah melakukan

penyisihan penurunan nilai aset kapal pada tahun

2009 sebesar Rp 23,40 miliar dengan menggunakan

angka laporan appraisal yang dilakukan pada tahun

2005 sebagai dasar perhitungan. Karena penilaian

yang digunakan adalah angka appraisal tahun 2005,

maka kami belum dapat memperoleh keyakinan

yang memadai terhadap nilai yang dapat diperoleh

kembali atas nilai tercatat aset kapal. Kami juga tidak

dapat melakukan pemeriksaan fisik aset kapal ke

lokasi aset tetap dan tidak dapat melakukan

prosedur audit lain untuk memperoleh keyakinan

memadai atas nilai wajar dan keberadaannya. Di

samping itu, seluruh kapal perusahaan tidak

beroperasi, sehingga dalam tahun 2009 dan 2008

tidak ada yang menghasilkan. Seperti yang diminta

oleh prinsip akuntansi, maka aset yang tidak

digunakan dalam operasi harus disajikan sebagai

aset lain-lain.

As disclosed in Note 7 and 8 to the financial

statements, as of December 31, 2009 the Company

recorded fixed assets with book value amounted

Rp 99,64 billion (2008: Rp 172,54 billion) and the not

operated vessels which recorded in other assets

account at the amount of Rp 0 billion (2008: Rp 3,29

billion). Where in the book value of fixed assets are

the vessels as of December 31, 2009 with the book

value of Rp 120,65 billion. And the book value, the

Company has made allowance for impairment in

value of vessels in 2009 of Rp 23,40 billion with using

appraisal reports conducted in 2005 as the basis for

calculation. Because the assessment used is the

appraisals report year 2005, then we can not obtain

reasonable assurance to the recoverable amount of

vessels. We were also unable to do physical check to

the location of fixed assets and also unable to

perform alternative audit procedures to acquire

reasonable assurance on the fair value of the assets

and theirs existence. All the Company's vessel were

not operated, and in the year 2009 and 2008 they did

not generate income. In conformity with accounting

principles, those non operating assets should be

presented as other assets.

ii

Laporan keuangan terlampir telah disusun dengan anggapan bahwa Perseroan akan melanjutkan usahanya secara berkesinambungan. Catatan 29 atas laporan keuangan berisi pengungkapan dampak memburuknya kondisi industri perikanan terhadap Perseroan, serta tindakan dan rencana yang dibuat oleh manajemen Perseroan untuk menghadapi kondisi tersebut.

The financial statements have been prepared with the assumption that the Company will continue as a going concern. Note 29 to the financial statements discloses the effect of adverse condition of fishery industry on the Company, actions that have been implemented or to be implemented by management to cope with the condition.

Penjualan Perseroan sejak tahun 2004 menunjukkan penurunan yang terus menerus. Penurunan penjualan tersebut terjadi karena penurunan yang signifikan dalam jumlah kapal yang dapat beroperasi. Seperti yang dijelaskan dalam Catatan 29, dari 34 kapal besi penangkap ikan dan 8 kapal kayu penangkap ikan milik Perseroan sejak tahun 2007 tidak beroperasi seluruhnya. Kapal tidak dapat beroperasi karena pencabutan ijin operasi kapal oleh Departemen Kelautan dan Perikanan, kenaikan harga dan kelangkaan bahan bakar minyak, dan beberapa peraturan yang tidak kondusif bagi usaha perikanan.

The Company's sales since 2004 are continuously decreasing. The decrease of sales was resulting from significant decrease in number of vessel which can be operated. As discloses in Note 19, the 34 steel vessels and 8 wooden vessels owned by the Company since 2007 did not operated entirely. The vessels which can not be operated was caused by cancellation of vessels license by Ministry of Marine and Fisheries, the increasing in price and scarcity of oil fuel, and some not supporting regulations of fisheries.

Seperti yang dijelaskan dalam Catatan 9, Perseroan memiliki hutang ke PT Bank Negara Indonesia Tbk dengan jumlah pokok keseluruhan sebesar USD=9,30 juta (setara dengan Rp 87,40 miliar per 31=Desember 2009 dan Rp 102,77 miliar per 31=Desember 2008). Sejak tahun 2004 Perseroan tidak dapat melunasi kewajiban pembayaran pokok dan bunga seperti yang dijadwalkan sehingga Bank sesuai dengan perjanjian kredit memiliki hak untuk menagih seluruh piutangnya seketika, baik yang telah jatuh tempo maupun yang belum jatuh tempo. Sampai tanggal laporan ini hutang tersebut masih dalam proses restrukturisasi.

As discloses in Note 9, the Company owned debt to PT Bank Negara Indonesia Tbk with total principle of USD 9,30 million (equivalent to Rp 87,40 billion as of December 31, 2009 and Rp 102.77 billion as of December 31, 2008). Since 2004, the Company is unable to keep up with the installment of principal and interest, so that the Bank, in accordance with the loan agreement, has the right to demand immediate payment of the entire principal and interest, either due or undue. Until the date of this report the loans are under restructuring process.

Seperti yang dijelaskan dalam Catatan 15, Perseroan memiliki hutang obligasi yang telah direstrukturisasi sebesar Rp 75 miliar. Perseroan gagal dalam memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan dalam perjanjian restrukturisasi. Perseroan tidak dapat melunasi bunga sejak 5 September 2006 dan denda atas keterlambatan pembayaran bunga sebelumnya. Hal tersebut dapat mengakibatkan hutang obligasi tersebut menjadi jatuh tempo seketika.

As discloses in Note 15, the Company has the rescheduled bonds payable at amount of Rp 75 billion. The Company failed to meet the terms stated in restructuring agreement. The Company has not paid accrued interest since September 5, 2006 and penalty resulting from the lateness in payment of previous interest. Accordingly, such condition could make the entire bonds payable due at once.

iii

Kondisi tersebut mempunyai dampak signifikan terhadap tingkat pendapatan, hasil usaha dan modal kerja Perseroan. Pada tanggal 31 Desember 2009 dan 2008, Perseroan memiliki akumulasi rugi masing-masing sebesar Rp 367,71 miliar dan Rp=304,83 miliar. Faktor-faktor tersebut menimbulkan ketidakpastian signifikan yang mungkin mempengaruhi operasi Perseroan di masa yang akan datang, tentang apakah Perseroan dapat merealisasikan aset dan menyelesaikan kewajiban pada saat jatuh tempo. Hasil akhir dari hal-hal yang diuraikan di atas belum dapat ditentukan saat ini. Laporan keuangan terlampir tidak mencakup penyesuaian yang mungkin timbul dari ketidakpastian ini.

Such conditions have significant effects on the Company's level of revenue, net income and working capital. As of December 31, 2009 and 2008, the Company has accumulated losses at amount of Rp 367,71 billion and 304,83 billion respectively. Accordingly, those factors resulting a significant uncertainty which could possibly influence the Company operation in the future, whether the Company can realize its asset and pay its obliga