KONTRIBUSI PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN TRADISIONAL ...

of 18 /18
Volume 2 (1), 2020 |Medikom | Jurnal Ilmu Pendidikan dan Dakwah 17 KONTRIBUSI PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN TRADISIONAL TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER BANGSA Nur Hidayat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Email : [email protected] Abstract Pondok Pesantren is one of the oldest education in Indonesia, because before the era of independence this educational model already existed, between the 7th century to the 13th century and has contributed a lot to the nation and state. In general, the style of Islamic education in Indonesia consists of three types; first, traditional, second, modern, and third, a combination of the two. In practice, pesantren education uses all three models of education to adapt to the development and needs of pesantren alumni. One of the characteristics of pesantren education is the study of the yellow book or old books written by scholars around the 7th-13th century AD. Another prominent feature of pesantren education is that there are no classics and classifications, not limited by time, special certificate, not work oriented, school and school of thought are the same, teacher becomes a source of knowledge, there is no standard curriculum. Different from other education, pendidikan pesantren has its own methods starting from bandongan, sorogan, Imla ' (dictation), taqror (repetition), tahfidz or muraja'ah (memorization), halaqoh (small circle), munadzarah or mujadalah (argumentation to mind) and khithabah (public speaking). No less important, pesantren also hold principles such as heocentricity, voluntary service, wisdom, simplicity, collectivity and much more. With all the uniqueness of pesantren education and the application of learning methods and holding certain educational principles, pesantren have contributed in shaping the nation's character, including the value of independence, the value of simplicity and sincerity, the value of learning enthusiasm (Tafaqquh fi al-Diin), the value of orientation life, flexibility and openness and brotherhood values. Keyword: pesantren education, traditional, salafiyah, modern, characteristic, yellow book, learning methods, values, principles, contributions, national character, simplicity, openness, brotherhood.

Embed Size (px)

Transcript of KONTRIBUSI PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN TRADISIONAL ...

17
Abstract
Pondok Pesantren is one of the oldest education in Indonesia, because
before the era of independence this educational model already existed,
between the 7th century to the 13th century and has contributed a lot to
the nation and state. In general, the style of Islamic education in
Indonesia consists of three types; first, traditional, second, modern, and
third, a combination of the two. In practice, pesantren education uses
all three models of education to adapt to the development and needs of
pesantren alumni. One of the characteristics of pesantren education is
the study of the yellow book or old books written by scholars around
the 7th-13th century AD. Another prominent feature of pesantren
education is that there are no classics and classifications, not limited
by time, special certificate, not work oriented, school and school of
thought are the same, teacher becomes a source of knowledge, there is
no standard curriculum. Different from other education, pendidikan
pesantren has its own methods starting from bandongan, sorogan, Imla
' (dictation), taqror (repetition), tahfidz or muraja'ah (memorization),
halaqoh (small circle), munadzarah or mujadalah (argumentation to
mind) and khithabah (public speaking). No less important, pesantren
also hold principles such as heocentricity, voluntary service, wisdom,
simplicity, collectivity and much more. With all the uniqueness of
pesantren education and the application of learning methods and
holding certain educational principles, pesantren have contributed in
shaping the nation's character, including the value of independence, the
value of simplicity and sincerity, the value of learning enthusiasm
(Tafaqquh fi al-Diin), the value of orientation life, flexibility and
openness and brotherhood values.
characteristic, yellow book, learning methods, values, principles,
contributions, national character, simplicity, openness, brotherhood.
18
perkembangan sejarah umat Islam. Pendidikan yang diartikan sebagai
sesuatu yang mampu merubah kondisi yang lebih baik juga mengalami
perkembangan dan perubahan baik dari segi tujuan, metode, sistem
serta alat untuk mengukur keberhasilan dari proses pendidikan tersebut.
Untuk mengetahui perkembangan pendidikan haruslah diruntut
menurut sejarah pemikiran yang dikembangkan oleh para pemikir,
penggagas, penggerak dan pelaku pendidikan dari masa ke masa. Mulai
dari pendidikan yang paling awal hingga paling modern saat ini.
Undang-undang No. 20 Th 2003 Bab I, ayat 1, tentang Sistim
Pendidikan Nasional menyebutkan, bahwa: “Pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian
diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 1
Sedangkan pengertian Pendidikan Islam menurut hasil rumusan
Kongres se-Dunia Ke II tentang Pendidikan Islam melalui seminar
tentang Konsepsi dan Kurikulum Pendidikan Islam Tahun 1980
dinyatakan bahwa:
keseimbangan pertumbuhan dari pribadi manusia secara
menyeluruh melalui latihan-latihan kejiwaan, akal pikiran,
kecerdasan, perasaan dan pancaindera". Oleh karena itu.
pendidikan Islam harus mengembangkan seluruh aspek
kehidupan manusia, spiritual, intelektual, imajinasi (fantasi),
jasmaniah, keilmiahan, bahasanya, baik secara individual maupun
kelompok serta mendorong aspek-aspek itu ke arah kebaikan dan
ke arah pencapaian kesempurnaan hidup. 2
Dalam prakteknya pendidikan Islam mengalami perkembangan-
perkembangan yang sedemikian maju mengikuti perkembangan
zamannya, mulai dari bentuk privat, halaqoh, madrasah, pesantren,
sekolah formal, yayasan-yayasan, universitas dan lain sebagainya.
Perkembangan selanjutnya dari pendidikan Islam ini mengalami pasang
1 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional dan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,
Jakarta: Visimedia , 2007, Cet. Ke-1, hal. 2 2Second World Conference on Moslem Education, Internasional Seminar on
Islamic Education Consep and Curricula, recommendation, 15th – 20th March, 1980,
Islamabad. Dalam Prof. HM. Arifin, M.Ed., Filsafat Pendidikan Islam, Jakarata:
Bumi Aksara, 1996, Cet. Ke-5, hal. 16
|Nur Hidayat
|Medikom | Jurnal Ilmu Pendidikan dan Dakwah 19
surut, ada yang sudah mati, ada yang mati suri, ada yang masih tetap
bertahan, ada yang ganti kulit, dan ada juga yang berkembang cukup
maju, hal ini sangat tergantung dari managemen dan kapabilitas para
pengampunya. Namun ada lembaga pendidikan Islam yang cukup tua
namun masih tetap eksis, dengan model pendidikan lama yang bercorak
tradisional atau salafiyah, di tengah-tengah perubahan zaman dan
kehidupan yang serba cepat ini yaitu Pendidikan Pondok Pesantren.
Dalam artikel ini, penulis hanya akan menguraikan pengertian
pendidikan dalam kontek pendidikan Islam tradisional di pesantren,
berikut segala aspek yang melingkupinya, kemudian apa kontribusinya
bagi pendidikan nasional secara umum dan juga bagi pembentukan
karakter bangsa ( nation character building).
B. Corak Pemikiran Dalam Pendidikan Islam
Secara umum corak pendidikan di duinia Islam, khususnya yang
berkembang di Indonesia terdiri dari tiga macam; pertama, tardisional,
kedua, modern, dan ketiga, gabungan dari keduanya.
Corak pendidikan Islam tradisional, biasanya cenderung
mempertahankan sesuatu yang lama yaitu pikiran-pikiran para "ulama"
ahli fikih, hadits, tafsir, tauhid, dan tasawuf yang hidup antara abad ke-
7 sampai dengan abad ke-133. Model pendidikan ini telah dianut oleh
sebagian besar orang dengan pemikiran dan madzhab yang sama, yang
diajarkan secara terus-menerus dari generasi ke generasi tanpa banyak
mengalamai perubahan, baik materinya maupun polanya. Dalam istilah
pendidikan di pesantren, pola ini disebut pendidikan salafiyah artinya
"yang terdahulu". Karena, kitab-kitab kajian yang dipakai adalah kitab-
kitab yang dikarang oleh para ulama sekitar abad ke 7-13 M (salaf).
Corak pendidikan salafiyah di pesantren inilah yang masih dianggap
"genuine", asli, pendidikan pesantren.
dengan kebutuhan pada masanya. Maka dalam corak pendidikan Islam
modern ini pendidikan Islam mengalami dinamika yang sangat
fluktuatif sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zamannya.
Dinamika ini tidak saja berkembang dalam hal materi pelajarannya saja,
tetapi juga pola, cara, dan orientasinya. Pendidikan modern dewasa ini
mengambil bentuk klasikal dalam lembaga-lembaga sekolah formal dan
atau kampus-kampus Islam, dengan spesifikasi dan jurusan-jurusan
yang disesuaikan dengan kebutuhan zamannya.
Sementara corak pendidikan yang ketiga adalah gabungan dari
corak tradisional dan modern. Corak ini berusaha mempertahankan
3 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup
Kyai, Jakarta: LP3ES, 1994, Cet. Ke-6, hal. 1
Kontribusi Pendidikan Pondok Pesantren……|
20
sesuatu yang lama dan telah mapan di masyarakat, sambil terus mencari
penyesuaian dengan realitas zamannya. Meminjam istilah Imam Syafi'I
yaitu berusaha ” "
menjaga/mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil
tradisi yang baru, yang lebih baik. Dalam sebagian lembaga pendidikan
Islam dewasa ini corak yang ketiga ini lebih banyak digunakan, karena
dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan jaman. Artinya pesantren
berusaha mempertahannya ciri khasnya yaitu kajian nilai-nilai
keagamaan secara tradisional/salafiyah, sambil merespon
perkembangan zaman/kemodernan, sehingga tidak ketinggalan zaman.
Pendidikan pesantren yang menggunakan corak ketiga ini,
disebut pesantren terpadu/gabungan. Dalam praktek pesantren terpadu
ini juga sudah menggabungkan pendidikan formal dengan pendidikan
tradisonal/salafiyah, yang dalam perkembangannya seringkali terjadi
tarik menarik antara keduanya. Dan dalam banyak kasus pendidikan
salafiyah "terkalahkan" oleh pendidikan formal, sehingga pada
gilirannya kesan pesantrennya seringkali menjadi bias.
Menurut data dari Statistik Pendidikan Agama dan Keagamaan
tahun 2003-2004, jumlah pesantren di Indonesia pada tahun 2003-2004
terdapat 14.656 pesantren. Sebanyak 4.692 (32%) merupakan
pesantren salafiah, 3.368 (23%) merupakan pesantren moderen, dan
6.596 (45%) sebagai pesantren kombinasi. Jumlah santri saat itu sekitar
3.369.193 baik santri yang menetap (mukim) maupun yang tidak
menetap (kalong).4
pendidikan pesantren, adalah pesantren tradisional/salafiyah, dengan
maksud agar keaslian pola pendidikan pesantren yang lebih genuine
dapat digali untuk dikaji sebagai sumbangan dalam pemikiran
pendidikan Islam.
1. Pengertian dan Asal Usul Pesantren
Dalam kajian tentang lembaga pendidikan Islam di Indonesia
kita kenal ada istilah pondok pesantren5, di samping sekolah, madrasah,
4Lihat, Statistik Pendidikan Agama dan Keagamaan Tahun 2003-2004,
(Jakarta:Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama, Tahun
2004), dalam Nurhayati Djamas, Dinamika Pendidikan Islam di Indonesia Pasca
Kemerdekaan, Jakarta: Rajawali Press, 2009, hal. 19 5 Kehadiran pesantren sendiri di tengah-tengah masyarakat, diduga
pertamakali dibawa oleh Wali Songo sebagai penyebar Islam pertama di Jawa, yaitu
di daerah Gresik yang didirikan oleh Maulana Malik Ibrahim Gresik atau Syaikh
Maulana Maghribi, sebagai sesepuh wali Songo. Namun Tokoh Wali yang dianggap
berhasil mendirikan Pondok Pesantren dalam arti sesungguhnya adalah Raden
|Nur Hidayat
yayasan, kampus, dll.. Pondok Pesantren sendiri berasal dari dua suku
kata yaitu pondok dan pesantren. Pondok artinya tempat menginap,
sementara pesantren adalah para santri. Jadi pondok pesantren adalah
tempat menginap para santri.6 Namun secara lazimnya sebuah tempat
di namakan pesantren apabila tempat itu memiliki ciri-ciri sebagai
berikut;
2. Ada masjid sebagai tempat belajar dan megajar, serta tempat
kegiatan peribadatan
ilmu dan teladan
5. Ada pengajian/belajar kitab kuning7
pada sejumlah pesantren, biasanya klasifikasi belajar santri tidak
didasarkan pada batasan umur/usia murid, tetapi kepada kemampuan
murid dalam menguasai seperangkat ilmu tertentu.
Dalam dunia pesantren, masalah kurikulum pendidikan juga
tidak ada aturan yang baku, karena setiap pesantren mempunyai
kurikulumnya masing-masing, yang didasarkan pada kebijakan sang
kyai. Tetapi yang hampir pasti adalah, materi/kitab-kitab kajian yang
diajarkan di pesantren mempunyai ciri-ciri yang sama, baik secara fisik,
substansi, maupun kalasifikasinya.
Secara fisik, kitab kajian yang diajarkan di kalangan pesantren
adalah kitab-kitab lama yang ditulis oleh ulama pada sekitar abad ke 7-
13 M,8 dengan huruf arab dan dalam bahasa Arab, dalam lembaran-
lembaran kertas yang berwarna kuning. Walaupun dalam
perkembangan selanjutnya mengenai warna kitab ini mengalami
perubahan karena berkaitan dengan masalah percetakan, yaitu dengan
Rahmat (Sunan Ampel) yang mendirikan pesantren di Kembang Kuning. Lihat, dalam
Wahjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren:Pendidikan Alternatif Masa Depan,
Jakarta: Gema Insani Press, 1997, hal. 70-71 6 Istilah pondok sendiri sulit ditelusuri asal-usulnya, apakah berasal dari
bahasa Arab Funduq yang artinya hotel atau asarama, atau dari bahasa sunda, yaitu
tempat tinggal yang terbuat dari bambu. Bahkan belakangan juga nama pondok
menjadi nama tempat penginapan, rumah makan, tempat istirahat, dan lain
sebagainya. Sedangkan kata pesantren, berasal dari kata santri yang mendapat awalan
pe- dan ahiran –an. Yang berarti tempat tinggal santri. Kata santri sendiri dalam
pengamatan Prof. Johns berasal dari bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji,
sedangkan C.C. Berg berpendapat kata santri bersal dari kata shastri yang dalam
bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci Agama Hindu, atau seorang
sarjana ahli kitab suci Agama Hindu. Lihat dalam Zamakhsyari Dhofier, Tradisi
Pesantren, hal. 18 7 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, hal. 44 8 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, hal. 1
Kontribusi Pendidikan Pondok Pesantren……|
22
kitab ini kemudian dikenal di kalangan pesantren dengan kitab kuning.9
Dalam penelitian Martin Van Bruinessen, kitab-kitab kuning
yang diajarkan pesantren-pesantren Indonesia, tidak banyak mengalami
perbedaan satu sama lain, karena berada dalam satu koridor kajian yang
sama yaitu; dalam kajian Aqidah mengikuti paham Asy'ariyah yang
dikembangkan oleh Imam Al-Asy'ari, dalam bidang fiqih mengikuti
madzhab Imama Syafi'I, dalam bidang tasawuf mengikuti Imam Al
Ghazali dan Ibnu 'Athoillah as-Sakandari.10 Dalam bidang gramatika
(Tata Bahasa Arab) yang paling terkenal adalah Karya Ibnu Malik,
yaitu kitab Al Fiyah Ibnu Malik.
2. Ciri Pendidikan Islam Tradisional di Pesantren
Berbeda dengan sistem pendidikan yang berkembang selama
ini, pendidikan pesantren mempunyai kekhasan pada dirinya. Di antara
ciri khas pola pendidikan pesantren adalah;
Tidak ada klasikal dan penjenjangan
Dalam pesantren biasanya para santri belajar secara bersama
dalam suatu ruangan atau dalam aula masjid untuk menyimak,
mendengarkan, dan mencatat pelajaran yang dibacakan oleh
sang guru/kyai. Setiap santri yang merasa sudah mampu
mengikuti, tanpa dibatasi usianya, boleh mengikuti kajian ini,
karena memang terbuka untuk umum. Metode pengajian seperti
ini disebut sistem bandongan.
sesuai dengan keinginan dan kemampuannya, dapat belajar
secara pribadi kepada seorang guru/kyai yang dianggap mampu.
Metode seperti ini di kalangan pesantren dikenal dengan metode
sorogan.
Tidak dibatasi oleh waktu Tidak seperti pada lembaga pendidikan formal atau pendidikan
moderen yang di batasi dengan waktu, misalnya SMP 3 tahun,
SMA 3 tahun, dalam pendidikan pesantren selesainya belajar
bisa sangat panjang atau sangat pendek, ditentukan oleh kondisi
masing-masing santri. Misalnya karena tidak betah, karena
9Istilah kitab kuning diduga berkaitan dengan warna kertas yang dipakai
untuk cetakannya yang berwarna kekuning-kuningan dan terkesan sedikit agak
kusam. Biasanya dicetak dalam ukuran kuarto, tidak dijilid secara utuh, melainkan
dipilah-pilah ke dalam beberapa lembaran (korasan). Korasan adalah bagian kitab
kuning yang berjumlah sekitar 20 halaman yang bisa dilipat guna memudahkan para
santri untuk membawa bagian kitab yang akan dipelajarinya dalam bentuk halaqoh
dengan kyai. Lihat, Nurhayati Djamas, Dinamika Pendidikan, hal. 36 10 Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat, Bandung:
Mizan, 1995, hal. 19
pindah, karena disuruh pulang oleh orang tua, menikah, dll.
Tetapi umumnya pendidikan di suatu pesantren dianggap
selesai, sesudah santri dianggap telah cukup menguasai
berbagai jenis ilmu yang dikaji di pesantren tersebut, sehingga
menurut penilaian sang kyai telah cukup mumpuni untuk
mengembangan keilmuannya di masyarakat. Maka tidak
mengherankan jika ada yang tinggal di suatu pesantren hingga
10, 15, bahkan 20 tahun.
Tidak ada ijazah/sertifikat khusus
kelulusan hanyalah berdasarkan penilaian secara faktual oleh
sang guru/kyai, kemudian memberikan do'a restu untuk
mengembangan ilmunya di tengah-tengah masyarakat. Dalam
falsafah pesantren ujian sesungguhnya bagi lulus atau tidaknya
seorang santri adalah masyarakat. Masyarakatlah yang akan
menilai kemampuan dan sekaligus memberi penghargaan
kepada kepada santri.
Tidak berorientasi kerja
munkar di tengah-tengah masyarakat. Masalah pekerjaan santri
yang telah lulus dari pesantren, tergantung dari usaha, keuletan,
dan peluang dari masing-masing santri. Bisa jadi pedagang,
petani, buruh, atau pekerjaan apapun yang halal. Yang pasti
pesantren tidak pernah menjanjikan pekerjaan apapun kepada
para santrinya. Tetapi dengan ilmu agama yang dimiliki,
semangat hidup yang tinggi, dan ridha kyai/guru, menjadi modal
utama santri untuk dapat menjalani kehidupannya di tengah-
tengah masyarakat.
Dalam dunia pesantren, materi yang dikaji adalah
mengkhususkan diri dalam kajian ilmu-ilmu agama seperti, al-
qur'an, tafsir, hadist, fiqh, ushul fiqh, tauhid, ilmu alat, sejarah,
ahklah, dan tasawuf. Hal ini sesuai dengan tujuan utama
pesantren yaitu untuk tafaqquh fi al-diin (mendalami ilmu-ilmu
agama), ilmu-ilmu yang lain hanyalah sekedar sampingan atau
bahkan tidak dipelajari sama sekali. Bukannya tidak perlu,
tetatpi bukan dipesantrenlah tempatnya.
Meskipun kitab-kitab yang dikaji di kalangan pesantren tidak
semua sama, tetapi ada benang merah yang dapat ditarik dari
materi kajian di pesantren yaitu dalam hal madzhab pemikiran.
Dalam bidang teologi kalangan pesantren mengikuti teologi
Asy'ari, dalam bidang fiqh mengikuti madzhab Imam Syafi'I,
Kontribusi Pendidikan Pondok Pesantren……|
24
'Atoillah al-Sakandari.11
yang terpisah dari masyarakat sekitarnya, maka guru/kyai
menjadi pusat ilmu dan teladan. Di sinilah kepekaaan orang tua
atau santri sendiri untuk memilih pesantren dan guru/kyai yang
sesuai dengan harapanyya kelak. Ada yang berharap menjadi
ahli nahwu, ahli tafsir, ahli fiqh, ahli ilmu falaq dan lain-lain.
Tidak ada kuriklulum yang baku
Tidak ada kesepakatan khusus di pesantren tentang materi
kajian yang akan diajarkannya sebagaimana kurikulum di
sekolah. Bahkan hampir semua pesantren tidak ada yang sama
persis dalam hal kurikulum kajian serta kitab-kitab yang
dipelajarinya. Hal ini sangat tergantung kepada kebijakan sang
guru/kyai yang mengasuhnya. Kalaupun ada hanyalah
kecenderungan masing-masing pesantren untuk
misalnya tafsir, nahwu-sharaf, Al Qur'an dan sebagainya. Sehingga menjadi trade mark bagi pesantren tertentu. Misalnya
pesantren Tremas terkenal dengan kyai yang ahli tata bahasa
Arab (ilmu alat), pesantren Tebu Ireng terkenal dengan ilmu
Haditsnya, pesantren, Jampes Kediri terkenal dengan ilmu
Tasawufnya, pesantren Daruttafsir Bogor terkenal dengan Ilmu
Tafsirnya, dan lain-lain.12
bahasa Arab, maupun dalam bahasa lokal atau disebut juga
dengan "kitab Kuning".
pesantren adalah dalam bahasa arab asli dan tanpa harakat (kitab
gundul). Oleh karenanya penguasaan ilmu nahwu-sharaf atau
ilmu alat (gramatika) mutlak diperlukan untuk dipelajari. Ilmu
alat (gramatika) adalah pintu masuk untuk mempelajari dan
menguasai kitab kuning. Disinilah sesungguhnya, nilai
keunggulan pesantren dibanding lembaga pendidikan agama
lainnya.
1) Bandongan atau sering disebut juga weton, dalam sitim
ini sekelompok murid biasanya antara 5-500 orang
mendengarkan seorang guru yang membaca,
11 Ibid. 12 Lihat dalam Zamakhsyari, Tradisi Pesantren, h. 22
|Nur Hidayat
menerjemahkan, dan menerangkan serta mengulas
buku-buku Islam dalam bahasa arab. Setiap murid
memperhatikan bukunya sendiri-sendiri dan membuat
catatan-catatan kecil (nyoret) mengenai hal yang belum
diketahuinya. 13 Biasanya catatan itu ditulis di bawah
teks bahasa arabnya.
untuk mengkaji suatu kitab tertentu. Biasanya guru
membacakan kitabnya, kemudian setelah selesai murid
disuruh mengulanginya persis seperti apa yang diajarkan
guru. Atau sang murid membacakannya sendiri kitab
yang dikajinya, dan guru hanya mendengarkan dan
mengoreksinya. Setelah dianggap lancar, baru sang
murid baru boleh pindah halaman atau temanya. Sistem
sorogan dalam pengajian ini dianggap bagian yang
paling sulit dari keseluruhan sistem pendidikan Islam
tradisional. Sebab sistem ini menuntut kesabaran,
kerajinan, ketaatan dan kedisiplinan pribadi dari murid.
3) Imla'/dikte, yaitu guru hanya membacakan pelajaran
dalam bahasa arab tanpa mencatat, sedangkan murid
disuruh mencatat persis seperti apa yang dibacakan oleh
guru. Metode ini hanya mungkin dilakukan bagi murid
yang telah mengenal huruf arab, bisa membaca, dan
memahami struktur kalimatnya.
untuk mengulang-ulang pelajaran yang telah
diberikannya. Sang guru kemudian memberikan
pertanyaan-pertanyaan mengenai materi yang telah
diajarkan untuk kemudian dijawabnya. Mula-mula
melalui penunjukkan, tetapi kemudian memberikan
kesempatan kepada siapa yang bisa menjawabnya. Sama
seperti cerdas cermat. Dari sini potensi santri dapat
dipantau dan dikatahui.
pelajaran dalam pesantren harus dihafal di luar kepala,
terutama kitab-kitab) ilmu alat (nahwu-sharaf), dan
kitab nadzam (yang berisi bait-bait syair) dalam
berbagai disiplin ilmu.
berkumpul untuk mengkaji kitab tertentu dari seorang
guru.
diikuti oleh santri-santri senior yang sudah menguasai
seperangkat ilmu tertentu. Di sini para santri dilatih
untuk menguasai masalah, memberikan argumentasi,
13 Lihat Ibid., hal. 28
Kontribusi Pendidikan Pondok Pesantren……|
26
sayangnya metode ini sekarang sudah mulai
ditinggalkan oleh kalangan pesantren.
dibimbing atau dipandu oleh kyai atau guru.
9) Muhadlarah/retorika/pidato. Latihan ini daterapkan
dalam rangka melatih para santri untuk belajar
berdakwah dan berani tampil di tengah-tengah
masyarakat. Karena bagaimanapun seorang santri
nantinya akan senantiasa diminta tausiyahnya oleh
masyarakat dan mengisi kegiatan-kegiatan keagamaan
ditengah masyarakat.
Dalam penelitian disertasinya di Institut Pertanian Bogor
(IPB), Mastuhu menyimpulkan tentang prinsip-prinsip pendidikan
Pesantren sebagai berikut;
kejadian berasal, berproses, dan kembali kepada kebenaran
Tuhan. Oleh karenanya semua aktifitas pendidikan di pesantren
dipandang sebagai ibadah kepada Tuhan. Belajar di pesantren
tidak dipandang sebagai alat, tetapi dipandang sebagai tujuan.
2. Sukarela dan mengabdi, karena semua orientasinya untuk
beribadah kepada Tuhan, maka penyelenggaraan pesantren
dilaksanakan secara suka rela dan mengabdi kepada sesama
dalam rangka mengabdi kepada Tuhan.
3. Kearifan, kearifan yang dimaksud disini adalah bersikap dan
berperilaku sabar, rendah hati, patuh kepada aturan hukum
agama, mampu mencapai tujuan tanpa merugikan orang lain,
dan mendatangkan manfa'at bagi kepentingan bersama.
4. Kesederhanaan. Sederhana yang dimaksud di sini bukan
kemiskinan, tetapi identik dengan kemampuan bersikap dan
berfikir wajar, proporsional, dan tidak tinggi hati.
5. Kolektifitas. Dalam dunia pesantren berlaku pendapat bahwa
"dalam urusan yang menyangkut hak, orang mendahulukan
kepentingan orang lain". Tetapi dalam hal kewajiban orang
harus mendahulukan kewajiban diri sendiri sebelum orang lain.
6. Mengatur kegiatan bersama. Hampir semua kegiatan dalam
pesantren di atur oleh santri. Mulai dari pembentukan
organisasi, mengatur waktu belajar, kegiatan keamanan dan
lain-lain.
kebebasan untuk mengatur urusannya sendiri, tetapi tetap harus
|Nur Hidayat
taat kepada aturan umum pesantren yang telah digariskan oleh
kyai (tata tertib), artinya tidak bebas secara liar.
8. Kemandirian. Dalam pesantren tradisional, para santri
mengurus seluruh keperluannya sendiri, seperti masak, mencuci
pakaian, merencanakan belajar, dan mengatur keuangannya,
dan bahkan tidak sedikit para santri yang mencari uang sendiri
dengan bekerja apa saja, untuk membiayai keperluan hidupnya
selama di pesantren.
9. Tempat mencari ilmu dan mengabdi, di pesantren para santri
memfokuskan dirinya untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya
setiap saat selagi ada kesempatan, dan mengabdikan dirinya
untuk kepentingan pesantren. Mereka yakin ilmu kyai adalah
benar sehingga tidak perlu diperdebatkan, apalagi
dipertentangkan. Ilmu kyai haruslah diamalkan.
10. Tanpa ijazah. Keberhasilan santri bukanlah pada ijazah dan
angka-angka. Tetapi sejauhmana ia dapat meraih ilmu
sebanyak-banyaknya dan kemudian diakui oleh masyarakatnya,
serta direstui oleh kyainya.
11. Restu kyai, hal terpenting yang lain dalam dunia pesantren
adalah restu kyai. Karena bagaimanapun pinternya santri
dianggap tidak akan bermanfa'at ilmunya jika ia tidak direstui
Kyai. Oleh karenanya masarakat pesantren sangat hormat dan
ta'at kepada kyai serta berusaha semaksimal mungkin agar tidak
melakukan hal-hal yang tidak berkenan di hati kyai.14
12. Keteladanan dan kaderisasi/pencangkokan, kyai/guru dalam
pesantren merupakan faktor terpenting dalam transmisi
keilmuan Islam. Apa yang dilakukan dan diajarkan kyai
dianggap sebagai sumber kebenaran bagi santri. Perilaku kyai
inilah yang kelak akan ditiru oleh para santri saat mereka telah
menjadi alumni sebuah pesantren/ atau saat mereka menjadi
kyai baru.
1. Konsep waktu
detik, menit, dan jam, tetapi dengan ukuran waktu shalat
lima waktu; ba'da subuh, ba'da dzuhur, ba'da ashar, ba'da
magrib, ba'da Isya dan lain-lain. Konsep waktu seperti ini
digunakan untuk melakukan perjanjian, pengajian, dan
pertemuan-pertemuan antar masyarakat pesantren.15
h.62-66 15 Ibid. hal. 36
Kontribusi Pendidikan Pondok Pesantren……|
28
barokah lebih tinggi nilainya dari sekedar restu kyai.
Konsep barokah muncul karena adanya keyakinan bahwa
kyai adalah segala-galanya, orang suci (karena ilmu dan
ibadahnya), sumber kebenaran, teladan hidup, dan
panutannya. Sehingga apapun yang berkaitan dengan
kyai sering dianggap dapat membawa kebaikan
hidupnya. Misalnya, sisa air minumnya, air cuci
tangannya, bersalaman dengannya, menyentuh
termasuk juga kepatuhan kepada ulama-ulama
sebelumnya dan pengarang kitab-kitab yang
dipelajarinya. Bahkan menurut pengamat dari luar,
kepatuhan kepada kyai dianggap lebih penting daripada
usaha menguasai ilmu itu sendiri.16
3. Konsep kesehatan
bersih dan sehat secara medis, tetapi dikaitkan dengan
pengertian agama (fiqih), yaitu suci atau tidak suci, dan
halal-haram. Maka tidaklah mengherankan jika sebagian
santri dipesantren terkesan kumuh, kudisan atau
"Gudigan" dalam Bahasa Jawa dan apa adanya. Bahkan
ada istilah di pesantren yaitu "santri undig", artinya santri
belum dinamakan santri kalau tidak gudigan/kudisan.
Tetapi bukan berarti mengabaikan kesucian. Karena bisa
jadi yang bersih belum tentu suci, dan yang suci juga
belum tentu bersih.
4. Konsep Thariqah/tirakat
keberhasilan belajar santri selain tekun belajar, adalah
konsep "tirakat", yaitu melakukan laku batin tertentu
seperti puasa, wirid, baca do'a-do'a tertentu, menghindari
makan-makanan tertentu, dan sebagainya. Bahkan sering
diyakini pula bahwa santri yang rajin tirakat, dapat
memperoleh ilmu laduni yaitu ilmu yang di dapat tanpa
belajar. Hal ini karena tradisi pesantren bernafaskan
sufistik ubudiyah. Banyak kyai yang berafiliasi kepada
16 Lihat, Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning, hal. 18
|Nur Hidayat
D. Kontribusi Nilai-nilai Pendidikan Pesantren terhadap
Pembentukan Karakter Masyarakat (Social Character
Building)
belum stabil. Bangsa yang mandiri, adalah bangsa yang
mampu menciptakan lapangan kerjanya sendiri tanpa
menggantungkan hidupnya kepada Negara atau orang
lain, bahkan akan mempunyai nilai lebih lagi jika mampu
memberikan manfa'at bagi orang lain. Kontribusi nilai
kemandirian pesantren ini telah mampu menciptakan
petani-petani tangguh, wiraswasta yang unggul, dan
entrepreneur sejati yang lahir dari pola pendidikan
pesantren..
Nilai-nilai ini akan menjadikan bangsa ini apapun
jabatannya, menjadi manusia-manusia yang tidak gila
jabatan dan gila dunia. Sebab orientasi hidupnya adalah
pengabdian kepada Negara, dan beribadah kepada Allah.
Bukan sekedar "aji mumpung", menikmati jabatan, harta
kekayaan, popularitas, dan lain sebaginya, sebagimana
yang kita saksikan selama ini.
3. Nilai Semangat Belajar (Tafaqquh fi al-Diin)
Nilai semangat belajar merupakan salah satu elemen
penting pembangunan karakter bangsa (nation building).
Karena bangsa yang maju dan beradab sangat ditentukan
oleh tingkat kependidikan warga bangsanya, apalagi
pendidikan yang berbasis moral-spiritual akan
mengantarkan bangsanya menjadi bangsa yang unggul,
bermoral, dan mampu berdiri sejajar di tengah-tengah
bangsa lain.
17 Ibid. hal.20
30
berorientasi ibadah. Implikasinya ia tidak mau mengotori
aktifitasnya dengan sesuatu yang dilarang dalam agama.
Nilai ini akan mengantarkan manusia menjadi manusia
yang jujur, bertanggungjawab, amanah dan semangat
pengabdian. Dunia hanyalah ladang untuk menuju
kehidupan akherat.
terbuka dan toleran. Mereka mudah bergaul dengan
kalangan manapun dan dan dari etnis manapun. Karena
mereka memandang semua manusia sama dihadapan
Tuhan, hanya taqwalah yang membedakannya. Karena
faktor fleksibilitas inilah seringkali, santri bergaul
melampuai batasnya, sehingga santri/kyai seringkali
mendapatkan banyak kritikan dari kalangan muslim yang
lain.
oleh nilai-nilai yang suci yaitu persaudaraan karena
Allah. Mereka meyakini bahwa bertemuanya mereka,
tidur bersama, makan bersama, mengaji bersama, dan
mengurus segala urusan hidup bersama dan jauh dari
orang tua adalah karena Allah, yaitu mencari ilmu.
Sehingga kalaupun mereka harus berpisah juga karena
Allah, yaitu berdakwah dan mengajarkan ilmu. Inilah,
salah satu ajaran dari Hadits Nabi bahwa di antara 7
golongan yang akan masuk surga adalah “Dua orang
yang bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah”
E. Kritik terhadap Budaya Pesantren
1. Kurang memperhatikan kedisiplinan
dipegang. sehingga tidak heran jika kita lihat kalangan
santri kalau shalat lima waktu tidak tepat pada awal
waktu, perjanjian sering molor, dan kalau rapat sering
terlambat. Yang penting masih dalam koridor waktu
shalat. Sementara dalam prinsip agama islam
memperhatikan waktu adalah sesuatu yang sangat
penting.
2. Kurang memperhatikan kebersihan
pesantren. Konsep "kebersihan sebagian dari Iman"
hanyalah sekedar slogan dan spanduk saja. Maka jangan
kaget bila kamar mandi, toilet, dan tempat wudlu di
pesantren-pesantren tradisional sangat kotor bahkan tidak
terawat sama sekali. Kumuh lecek, kotor, rambut
panjang, kudisan, adalah bagian dari budaya umum
masyarakat santri di pesantren, tetapi tentu saja sangat
memperhatikan masalah kesucian.
Masyarakat pesantren sangat bangga dengan ilmu-ilmu
agama yang mereka dapatkan dari pesantren. Karena
mereka menganggap ilmu agamalah yang akan menuntun
hidup manusia di dunia dan akherat. Hal ini mungkin
terpengaruh oleh kajian-kajian kitab kuning yang
membagi-bagi ada ilmu wajib dan ilmu yang tidak wajib,
bahkan ada ilmu yang tidak boleh di pelajari.18 Padahal
semua jenis ilmu adalah dari Allah dan boleh kita
pelajari, tinggal bagaimana kita dapat memiilih dan
memilahnya.
Keterbukaan masyarakat pesantren, ternyata hanya dalam
hal pergaualan sosial saja, tetapi dalam hal intelektual
ternyata masyarakat pesantren tidak mudah menerima
kritik. Hal ini mungkin karena budaya pesantren yang
menganggap bahwa figur kyai adalah segalanya,
pendapatnya selalu benar, dan tidak perlu
dipertentangkan. Sehingga tidak terbiasa menerima kritik
dari orang lain, lebih-lebih jika yang mengkritiknya
dianggap lebih rendah status dan derajat keilmuannya.
5. Lebih Dominan Ajaran Kitab Kuningnya dari pada
mendahulukan Al-Qur’an dan Sunnah
18 Dalam kajian Zamakhsyari, ada delapan jenis cabang ilmu yang biasa
dipelajari di pesantren; Nahwu (syntax), Saraf (morfologi), fiqh, ushul fiqh, tafsir,
hadis, tauhid, tasawuf, dan etika, serta cabang-cabang lain, seperti balaghoh, dan
tarikh Islam. Namun dari semua cabang ilmu yang lazim dipelajari di pesantren semua
fokus pada ilmu-ilmu agama, tanpa ada satupun yang mempelajari ilmu-ulmu umum
secara khusus. Lihat dalam Zamakhsyari Dzofier, Tradisi Pesantren, hal. 50
Kontribusi Pendidikan Pondok Pesantren……|
32
Thaharah), perhatian kepada urusan dunia (konsep
keseimbangan hidup), saling mengingatkan kesalahan
(tawasaw bil haq wa tawasaw bi al-Shabr), adalah
konsep Syari’at Islam (al-Qur’an dan As-Sunnah). Tetapi
seringkali diabaikan atau kurang diperhatikan dalam
tradisi pesantren, hal ini dikarenakan budaya dan tradisi
pesantren yang terbentuk oleh doktrin kitab kuning yang
berorientasi kepada paham sufistik-ubudiyah, lebih
dominan. Dan tentu saja mengabaikan doktrin pokok (al-
Qur’an dan Sunnah), dengan lebih berorientasi kepada
doktrin kitab kuning, menurut hemat penulis, hal ini
kurang bijaksana. Oleh karena itu, tradisi dan budaya
pesantren yang sudah tidak relevan lagi perlu dibuang
jauh-jauh dan lebih disesuaikan dengan tradisi Al Qur’an
dan Hadis.
F. Kesimpulan
artikel ini berkaitan dengan pendidikan Islam dalam pemahaman
masyarakat tradisional pesantren yaitu sebagai berikut :
1. Pendidikan Pesantren dengan segala dinamikanya adalah
merupakan sub kultur pendidikan Islam dan pendidikan
nasional, artinya pendidikan di pesantren mempunyai
metodologi dan kurikulumnya sendiri yang terus dipertahankan
dan tetap eksis hingga saat ini, dan terbukti telah melahirkan
banyak orang cerdik pandai dan tokoh -tokoh nasional
2. Pesantren sebagai sub kultur bangsa Indonesia juga mempunyai
tradisi dan budayanya sendiri, yang juga telah memberikan
kontribusi yang positif terhadap pembentukan budaya bangsa;
kemandirian, kesederhanaan, kejujuran, keikhlasan,
lebih memberdayakan masyarakat
perkembangan seharusnya tidak sampai mencerabut akar
idiologis dan budayanya, tetapi dalam rangka perbaikan dan
penyempurnaan
menghadapi tantangan zaman selama ratusan tahun, tetapi
bukan berarti telah sempurna. Perlu adanya aspek-aspek budaya
pendidkan pesantren yang harus mendapat perhatian khusus
demi perbaikan citra pendidikan Islam, terutama konsep
kedisiplinan, kebersihan/kesehatan, keras kepala/tidak mudah
|Nur Hidayat
menerima kritik, dan orientasi kehidupannya di dunia, yang
lebih sesuai dengan semangat Al-Qur’an dan as-Sunnah.
Demikianlah, artikel kontribusi pendidikan pondok pesantren
tradisional terhadap pembentukan karakter bangsa. Mudah-mudahan
dapat memberikan gambaran, walau tidak utuh, mengenai pola
kehidupan pesantren tradisional. Kritik dan saran bagi perbaikan artikel
ini sangat penulis harapkan.
Kontribusi Pendidikan Pondok Pesantren……|
34
AMZAH, 2009, Cet. Ke-1
Modernisasi Menuju Millenium Baru, Jakarta: Logos Wacana
Ilmu, 1999, Cet. Ke-1
Djamas, Nurhayati, DR., MA., Dinamika Pendidikan Islam di
Indonesia, Jakarta: Rajawali Press, 2009
Indra, Hasbi, DR. M.Ag, Pesantren dan Transformasi Sosial; Studi
Atas Pemikiran KH. Abdullah Syafi'ie dalam Bidang
Pendidikan Islam, Jakarta: Penamadani, 2003, cet. Ke-1
Kartanegara, Mulyadhi, Tradisi Ilmiah Islam, Jakarta: Serambi, 2005
Madjid, Nurcholis, DR. Bilik-bilik Pesantren: Sebuah Potret
Perjalanan, Jakarta: Paramadina, 1997, Cet. Ke-1
Mas'ud, Abdurrahman MA, Ph.D, Intelektual Pesantren: Perhelatan
Agama dan Tradisi, Yogyakarta: LKiS, 2004Cet. Ke-1
Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, Jakarta: INIS, 1994
Muhtarom, H.M, Dr., Reproduksi Ulama di Era Globalisasi:
Resistensi Tradisional Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005
Sukarta, Mad Rodja Menjaga Visi dan Tradisi Pesantren, Bogor: DM
Grafika, 2009, Cet. Ke-1
Bandung: Mizan, 1995, Cet. Ke-1
Wahjoetomo, Dr. dr., Perguruan Tinggi Pesantren: Pendidikan
Alternatif Masa Depan, Jakarta: Gema Insani Press, 1997, cet.
Ke-1
Pemberdayaan dan Transformasi Pesantren, Bandung: Pustaka
Hidayah, 1999, Cet. Ke-1
Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1962, Cet. Ke-4
Zaini, A. Wahid, KH. Drs. SH, Dunia Pemikiran Kaum Santri,
Yogyakarta: LKPSM NU DIY, 1994, Cet. Ke-1