Berlian 328 346 Jurnal MIX, Volume V, No. 3, Oktober 2015 … · 2019-11-11 · Berlian 328 – 346...

of 19/19
Berlian 328 346 Jurnal MIX, Volume V, No. 3, Oktober 2015 328 KOMPARASI KINERJA KEUANGAN ANTARA KELOMPOK PERUSAHAAN BERTIPOLOGI PROSPECTOR DAN DEFENDER PADA EMITEN SEKTOR MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA Felicia Barlian STIE Trisakti [email protected] Abstract. The objective of this research in to examine the difference of financing performance between prospector and defender firms. Four variable used as performance measures as follows : income growth, sales growth, return on investment, and return on sales. Life cycle theory is used to analyze the difference between from financing performance measures. Four variables are used to determine prospector and defender firms : the ratio of employees to sales, the price-to-book value ratio, the ratio of capital expenditure to market value equity, and the ratio of capital expenditures to total asset. Based on common factor analysis and the four other variables, 109 prospector and 109 defender firms are derived from manufacturing companies listed at Indonesian Stock Exchange from 2011 until 2014. Data of this research are analyzed using Mann-Whitney U Test. The results showed that each variable and proxies that are used will be shown mixed results depending on the circumstances , conditions and organizational strategies used by these companies. Keywords: prospector, defender, life cycle theory, financial performance Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kinerja keuangan antara perusahaan bertipologi prospector dan defender. Empat variabel yang digunakan untuk mengukur kinerja adalah sebagai berikut : pertumbuhan penjualan, pertumbuhan laba, return on investment,dan return on sales. Teori siklus hidup perusahaan digunakan untuk menganalisis perbedaan antara pengukuran kinerja keuangan perusahaan. Empat variabel yang digunakan untuk menentukan perusahaan bertipologi prospector dan defender yaitu : jumlah karyawan dibagi dengan total penjualan bersih, price book value, capital expenditure dibagi dengan market value equity, capital expenditure dibagi dengan total asset. Berdasarkan analisis faktor dan empat variabel lainnya, 109 perusahaan prospector dan 109 perusahaan defender yang berasal dari perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2011-2014. Data dari penelitian ini dianalisis dengan menggunakan uji Mann-Whitney U. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa setiap variabel dan proksi yang digunakan akan menunjukkan hasil yang beragam tergantung dengan situasi, kondisi dan strategi organisasional yang digunakan oleh perusahaan tersebut Kata kunci : prospector, defender, teori siklus hidup perusahaan, kinerja keuangan PENDAHULUAN Keadaan perekonomian dewasa ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan dunia usaha. Dengan adanya perkembangan tersebut maka akan timbul berbagai persaingan. Persaingan merupakan suatu hal yang dapat menjadi inti kesuksesan ataupun menjadi penyebab kegagalan sebuah perusahaan, karena persaingan dapat memberikan arah bagi
  • date post

    02-Mar-2020
  • Category

    Documents

  • view

    1
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Berlian 328 346 Jurnal MIX, Volume V, No. 3, Oktober 2015 … · 2019-11-11 · Berlian 328 – 346...

  • Berlian 328 – 346 Jurnal MIX, Volume V, No. 3, Oktober 2015

    328

    KOMPARASI KINERJA KEUANGAN ANTARA KELOMPOK

    PERUSAHAAN BERTIPOLOGI PROSPECTOR DAN DEFENDER PADA EMITEN

    SEKTOR MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA

    Felicia Barlian

    STIE Trisakti

    [email protected]

    Abstract. The objective of this research in to examine the difference of financing

    performance between prospector and defender firms. Four variable used as performance

    measures as follows : income growth, sales growth, return on investment, and return on sales.

    Life cycle theory is used to analyze the difference between from financing performance

    measures. Four variables are used to determine prospector and defender firms : the ratio of

    employees to sales, the price-to-book value ratio, the ratio of capital expenditure to market

    value equity, and the ratio of capital expenditures to total asset. Based on common factor

    analysis and the four other variables, 109 prospector and 109 defender firms are derived from

    manufacturing companies listed at Indonesian Stock Exchange from 2011 until 2014. Data of

    this research are analyzed using Mann-Whitney U Test. The results showed that each variable

    and proxies that are used will be shown mixed results depending on the circumstances ,

    conditions and organizational strategies used by these companies.

    Keywords: prospector, defender, life cycle theory, financial performance

    Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kinerja keuangan antara perusahaan bertipologi prospector dan defender. Empat variabel yang digunakan untuk

    mengukur kinerja adalah sebagai berikut : pertumbuhan penjualan, pertumbuhan laba, return

    on investment,dan return on sales. Teori siklus hidup perusahaan digunakan untuk

    menganalisis perbedaan antara pengukuran kinerja keuangan perusahaan. Empat variabel

    yang digunakan untuk menentukan perusahaan bertipologi prospector dan defender yaitu :

    jumlah karyawan dibagi dengan total penjualan bersih, price book value, capital expenditure

    dibagi dengan market value equity, capital expenditure dibagi dengan total asset. Berdasarkan

    analisis faktor dan empat variabel lainnya, 109 perusahaan prospector dan 109 perusahaan

    defender yang berasal dari perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

    tahun 2011-2014. Data dari penelitian ini dianalisis dengan menggunakan uji Mann-Whitney

    U. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa setiap variabel dan proksi yang digunakan akan

    menunjukkan hasil yang beragam tergantung dengan situasi, kondisi dan strategi

    organisasional yang digunakan oleh perusahaan tersebut

    Kata kunci : prospector, defender, teori siklus hidup perusahaan, kinerja keuangan

    PENDAHULUAN

    Keadaan perekonomian dewasa ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan dunia

    usaha. Dengan adanya perkembangan tersebut maka akan timbul berbagai persaingan.

    Persaingan merupakan suatu hal yang dapat menjadi inti kesuksesan ataupun menjadi

    penyebab kegagalan sebuah perusahaan, karena persaingan dapat memberikan arah bagi

    mailto:[email protected]

  • Berlian 328 – 346 Jurnal MIX, Volume V, No. 3, Oktober 2015

    329

    perusahaan dalam menentukan aktivitas yang tepat untuk dilaksanakan. Langkah-langkah

    strategik sangat dibutuhkan pada saat persaingan semakin ketat dan terjadi ketidakpastian

    lingkungan yang tinggi. Ketidakpastian lingkungan sering menjadi faktor yang menyebabkan

    organisasi melakukan penyesuaian terhadap kondisi organisasi dengan lingkungan. Dalam

    kondisi demikian, kemampuan manajemen untuk mengantisipasi dan merespon peluang-

    peluang dan tekanan-tekanan perubahan merupakan hal yang sangat penting bagi

    kelangsungan organisasi (Sinarasih, 2011). Oleh karena itu, setiap perusahaan harus mampu

    bersaing dan menjaga kelangsungan hidup perusahaannya. Salah satu caranya yaitu dengan

    penentuan strategi yang tepat oleh manajemen perusahaan, karena strategi memiliki kaitan

    yang erat dengan konsep perencanaan dan pengambilan keputusan dalam perusahaan

    (Saraswati dan Atmini, 2007).

    Miles and Snow (1978) dalam Shimizu dan Tamura (2012) memetakan empat tipologi

    strategi organisasional yang digunakan dalam perusahaan dalam persaingan. Tipologi tersebut

    adalah prospector, defender, analyzer, dan reactor. Tipologi prospector dan defender adalah

    dua tipologi yang berada di dua titik ekstrim. Prospector merupakan strategi yang memiliki

    cakupan produk dan jasa dengan keadaan yang terus berkembang dan pertumbuhannya

    dicapai melalui pengembangan produk dan pasar melalui penawaran produk yang berbeda

    (differentiation strategy) melalui proses teknologi yang fleksibel, sedangkan defender adalah

    strategi yang cenderung mempertahankan pasar yang telah dicapai dengan menawarkan

    produk dengan kualitas yang lebih tinggi, pelayanan yang unggulan serta harga yang bersaing

    (cost leadership strategy) (Jennings et.al, 2003). Tipologi prospector dan defender

    berhubungan dengan life cycle theory yang beranggapan bahwa suatu produk akan mengalami

    suatu tahapan evolusi yang dimulai dari tahap perkenalan (introduction), pertumbuhan

    (growth), kematangan (maturity) sampai ke tahap penurunan (declining). Porter (1980) menjelaskan bahwa tiap fase dalam product life cycle akan berpengaruh terhadap strategi,

    kompetisi, dan kinerja perusahaan.

    Tahap perkenalan dari product life cycle merupakan tahap di mana perusahaan gencar

    meluncurkan produk baru pada setiap pangsa pasar yang dituju agar produk dapat dikenal dan

    diterima. Selanjutnya pada tahap pertumbuhan, perusahaan akan mendapat profit yang lebih

    besar lagi. Pada saat tahap kematangan siklus produk berlangsung lebih lama dibandingkan

    tahapan lainnya di mana perusahaan akan mendapatkan profit yang maksimum serta mulai

    mengalami penurunan penjualan produk. Akhirnya ada tahap penurunan, produk akan terus

    bergerak turun baik cepat maupun lambat yang dapat membuat produk jatuh sampai ke titik

    terbawah. Oleh karena itu, key success factor pada fase perkenalan dan pertumbuhan adalah

    strategy differentiation (strategi prospector) dan key success factor pada fase kematangan dan

    penurunan adalah strategy cost leadership (strategi defender).

    Permasalahan yang ingin dijawab melalui penelitian ini adalah 1) Apakah rata-rata

    pertumbuhan laba (income growth) perusahaan manufaktur bertipologi prospector lebih besar

    dari perusahaan manufaktur bertipologi defender berdasarkan kriteria pengelompokkan rasio

    karyawan terhadap penjualan, rasio market value to book value, rasio capital expenditure to

    total asset, rasio capital expenditure to market value, dan analisis faktor?, 2) Apakah rata-rata

    pertumbuhan penjualan (sales growth) perusahaan manufaktur bertipologi prospector lebih

    besar dari perusahaan manufaktur bertipologi defender berdasarkan kriteria pengelompokkan

    rasio karyawan terhadap penjualan, rasio market value to book value, rasio capital

    expenditure to total asset, rasio capital expenditure to market value, dan analisis faktor? 3)

    Apakah rata-rata return on investment (ROI) perusahaan manufaktur bertipologi prospector

  • Berlian 328 – 346 Jurnal MIX, Volume V, No. 3, Oktober 2015

    330

    lebih kecil dari perusahaan manufaktur bertipologi defender berdasarkan kriteria

    pengelompokkan rasio karyawan terhadap penjualan, rasio market value to book value, rasio

    capital expenditure to total asset, rasio capital expenditure to market value, dan analisis

    faktor? dan 4) Apakah rata-rata return on sales perusahaan manufaktur bertipologi prospector

    lebih besar dari perusahaan manufaktur bertipologi defender berdasarkan kriteria

    pengelompokkan rasio karyawan terhadap penjualan, rasio market value to book value, rasio

    capital expenditure to total asset, rasio capital expenditure to market value, dan analisis

    faktor?

    Penelitian ini bertujuan mendapatkan kesimpulan atas pertanyaan penelitian yang telah

    dirumuskan sebelumnya.

    KAJIAN TEORI

    Contingency Theory. Teori kontinjensi, yang selama ini mendominasi studi perilaku

    organisasi, rancangan sistem kontrol, strategi dan kinerja organisasi, menyatakan bahwa

    kinerja organisasi merupakan konsekuensi fit atau kesesuaian antara dua faktor atau lebih

    menurut Van de Ven dan Drazin (1985) dalam Sinarasri (2011). Berbagai faktor ini adalah

    faktor eksternal (lingkungan), faktor tipologi struktur organisasi, faktor rancangan sistem

    kontrol, dan faktor teknologi, yang pada akhirnya akan bermuara pada kinerja organisasi.

    Kontijensi perilaku organisasi menyatakan bahwa berbagai pendekatan strategi bisa sama-

    sama efektif.

    Menurut Lathifah (2014), pendekatan teori kontijensi didasarkan pada premis bahwa

    tidak ada sistem secara universal yang tepat untuk diterapkan pada seluruh organisasi dalam

    setiap keadaan, tetapi Pendekatan teori kontijensi diperlukan untuk mengevaluasi faktor-faktor kondisional yang menyebabkan sistem pengendalian manajemen lebih efektif.

    Hubungan yang lebih baik antara sistem pengendalian dengan antisipasi variabel kontijensi

    akan meningkatkan kinerja organisasi.

    Product Life Cycle Theory. Siklus hidup produk (Product Life Cycle) merupakan konsep

    penting dalam pemasaran yang memberikan pemahaman tentang dinamika suatu produk yang

    kompetitif. Teori siklus hidup menjelaskan bahwa ada empat fase dalam siklus hidup suatu

    perusahaan, yaitu dimulai dari fase perkenalan (introduction), pertumbuhan (growth),

    kematangan (maturity), dan fase penurunan (decline). Beberapa literatur juga menyatakan

    bahwa pertumbuhan penjualan dan capital expenditure merupakan signal utama untuk strategi

    perusahaan, serta startegi cost yang efektif adalah fungsi dari tahap siklus hidup organisasi

    (Ahmed et.al, 2012).

    Fase perkenalan (introduction), dimulai saat produk baru diluncurkan, diperlukan

    waktu untuk menyebarkan produk ke beberapa pasar dan mengisi saluran penjualan, sehingga

    pertumbuhan penjualan mungkin lambat. Pada tahap ini, laba negatif atau rendah karena

    penjualan rendah dan biaya distribusi dan promosi yang berat. Pengeluaran promosi berada

    pada rasio tertinggi terhadap penjualan karena kebutuhan akan usaha promosi tingkat tinggi

    untuk (1) menginformasikan pembeli potensial akan produk baru dan belum dikenal, (2)

    membujuk untuk mencoba produk itu.

    Fase pertumbuhan (growth), ditandai dengan lonjakan cepat dalam penjualan.

    Perusahaan yang berada pada fase pertumbuhan margin dan profit serta pertumbuhan

    penjualan yang relatif tinggi dibandingkan pada fase kematangan dan penurunan (Porter,

  • Berlian 328 – 346 Jurnal MIX, Volume V, No. 3, Oktober 2015

    331

    1980). Namun menurut Anderson dan Zeithaml (1984), return on investment pada fase ini

    relatif kecil dibandingkan perusahaan yang berada di fase kematangan. Hal ini dikarenakan

    pada fase pertumbuhan, perusahaan masih dalam taraf membangun yang terus melakukan

    investasi.

    Fase kematangan (maturity) merupakan suatu titik yang ditandai dengan tingkat

    pertumbuhan penjualan produk akan melambat dan fase ini biasanya berlangsung lebih lama

    dari fase-fase sebelumnya. Fase kematangan dibagi menjadi tiga tahap, yaitu a) Kematangan

    pertumbuhan, yang mana laju pertumbuhan penjualan mulai menurun, b) Kematangan stabil,

    yang mana penjualan merata dalam basis per kapita karena kejenuhan pasar, dan c)

    Kematangan goyah, yang mana tingkat penjualan absolut sekarang mulai menurun dan

    pelanggan mulai beralih ke produk lain dan substitusinya.

    Pada fase penurunan (decline), penjualan sebagian besar bentuk dan merek pada

    akhirnya menurun. Penurunan penjualan bisa lambat. Penjualan dapat jatuh sampai nol, atau

    bertahan di titik terendah. Penjualan juga dapat turun secara signifikan, perusahaan

    mengalami kerugian dan mungkin tidak ada pembayaran dividen (Saraswati dan Atmini,

    2007). Perusahaan yang berada pada fase ini tidak berarti menuju kegagalan. Perusahaan

    dapat menghasilkan dengan melakukan investasi produk baru dan secara otomatis kembali

    pada fase-fase awal siklus ini (Habbe, 2002).

    Strategi Bisnis. Strategi bisnis berkaitan dengan pengambilan keputusan organisasi yang

    fokus pada keunggulan kompetitif. Dua kerangka dominan dari strategi bisnis adalah tipologi

    Miles and Snow dan Porter. Kerangka tipologi Miles and Snow menunjukkan cara alternatif

    di mana pendekatan organisasi pada domain produk dan pasar mereka dan membangun

    struktur dan proses untuk berhasil menerapkan strategi mereka (Slater et.al, 2010).

    Menurut Porter (1985) dalam Verreyne dan Meyer (2010) strategi merupakan alat

    yang sangat penting untuk mencapai keunggulan dalam bersaing. Tipologi Miles and Snow

    mengungkapkan bahwa pemilihan strategi didasarkan pada adaptive cycle, yaitu pemilihan

    strategi berdasarkan siklus adaptasi lingkungan. Adaptive cycle ini digunakan karena terdapat

    perbedaan strategi dalam setiap perusahaan. Oleh karena itu, strategi bisnis yang dipilih oleh

    perusahaan dapat saja berubah sesuai dengan perubahan lingkungannya. Untuk itu, pemilihan

    strategi oleh perusahaan merupakan proses yang berkelanjutan.

    Menurut Shimizu dan Tamura (2012), tipologi Miles and Snow dibagi menjadi empat

    tipe strategi organisasional, yaitu prospector, defender, analyzer, dan reactor. Definisi

    masing-masing strategi adalah sebagai berikut: (1) Prospector adalah organisasi yang hampir

    setiap saat secara terus-menerus mengamati peluang pasar, dan secara regular melakukan

    percobaan-percobaan untuk memunculkan kecenderungan dalam lingkungan konsumen.

    Organisasi-organisasi ini sering membuat perubahan-perubahan ketidakpastian, namun karena

    konsentrasinya sangat kuat pada inovasi produk dan pasar, maka biasanya organisasi-

    organisasi ini menjadi kurang efisien. (2) Defender adalah organisasi-organisasi yang

    mempunyai domain product-market yang sempit. Manajer puncak dalam organisasi ini sangat

    ahli dalam membatasi daerah operasinya karena tidak cenderung mencari peluang baru yang

    keluar dari domainnya. Sebagai suatu hasil yang berfokus sempit, perusahaan-perusahaan ini

    jarang membutuhkan penyesuaian penting dalam teknologinya, struktur, atau metode

    operasinya. Sebagai gantinya mereka mencurahkan perhatian utamanya kepada peningkatan

    efisiensi operasi. (3) Analyzer adalah organisasi yang beroperasi dalam dua tipe yakni domain

    product-market yang relatif stabil dan tetap melakukan perubahan-perubahan. Dalam areanya

  • Berlian 328 – 346 Jurnal MIX, Volume V, No. 3, Oktober 2015

    332

    yang stabil, organisasi-organisasi ini beroperasi secara rutin dan efisien melalui penggunaan

    struktur-struktur dan proses-proses yang terformulasi. Dalam areanya yang lebih turbulen,

    manajer puncak memperhatikan secara dekat ide-ide baru pesaingnya dan kemudian secara

    cepat mengadopsinya. Organisasi ini merupakan kombinasi dari tipologi prospector dan

    defender. (4) Reactors adalah organisasi yang manajer puncaknya seringkali mempersepsikan

    bahwa telah terjadi perubahan dan ketidakpastian dalam lingkungan organisasionalnya, tetapi

    tidak dapat meresponnya secara efektif. Karena tipe organisasi ini kurang konsisten mengenai

    hubungan antara strategy-structure maka jarang membuat penyesuaian yang dapat memberi

    kekuatan untuk melakukan seperti yang dilakukan oleh lingkungannya. Jennings et.al (2003)

    menggambarkan organisasi ini sebagai tipe organisasi “sisa” karena organisasi ini dipaksa

    masuk ke area ini pada saat mereka tidak bisa mengejar strategi yang diterapkan oleh

    prospector, defender ataupun analyzer.

    Hubungan antara jenis strategi Miles dan Snow dan kinerja organisasi telah diteliti

    dalam berbagai jenis industri yang beragam, ada kebutuhan yang lebih lanjut di industri dan

    berbagai lingkungan industri dari waktu ke waktu. Penelitian ini membahas isu pertama

    tentang hubungan kinerja dan strategi dalam industri. Sebagaimana telah dijelaskan

    sebelumnya, Tipologi Miles dan Snow telah menggunakan aspek-aspek sebelumnya untuk

    mengembangkan empat strategi yang berbeda jenis, kemudian juga berpendapat bahwa empat

    jenis strategi mereka tidak ada yang lebih rendah atau lebih unggul (Jennings et.al, 2003).

    Tipologi Miles dan Snow pada struktur dan strateginya memberikan konfirmasi yang luas

    yaitu bahwa perusahaan dengan kinerja yang tinggi akan lebih sesuai untuk perusahaan dalam

    pengambilan keputusan dan menentukan strategi mereka (Andrews et.al, 2007).

    Beberapa penelitian terdahulu sehubungan topik penelitian ini adalah Jennings et al.

    (2003) dengan menggunakan 1.000 sampel acak perusahaan jasa di U.S. termasuk enam industri jasa yaitu perbankan, broker, rumah sakit, hotel, asuransi dan transportasi yang sesuai

    dengan kriteria tertentu, menghasilkan bahwa penelitian ini dapat mendukung hipotesisnya

    yang menyatakan bahwa organisasi dengan strategi defender, prospector, dan analyzer

    memiliki tingkat kinerja yang sama jika diukur dari rata-rata pertumbuhan laba, rata-rata

    pertumbuhan penjualan, return on investment¸ dan return on sales. Penelitian ini juga dapat

    mendukung hipotesisnya lainnya yang menyatakan bahwa organisasi dengan strategi

    defender, prospector, dan analyzer memiliki tingkat kinerja yang lebih tinggi daripada

    organisasi dengan strategi reactors jika diukur dari rata-rata pertumbuhan laba, rata-rata

    pertumbuhan penjualan, return on investment¸ dan return on sales.

    Snow dan Hrebiniak (1980) menemukan bahwa organsasi dengan defender,

    prospector, dan analyzersecara konsisten mengungguli reactors pada industri plastik,

    semikonduktor, dan otomotif. Temuan ini mendukung argumen kontijensi teori yang

    menyatakan bahwa tidak ada satu strategi terbaik untuk lingkungan industri. Dalam penelitian

    Conant et al.(1990) dan Parry and Parry (1998) menemukan ada perbedaan yang signifikan

    pada tipe strategi Miles dan Snow bahwa pada perusahan dengan tipe strategi reactors

    melakukan fungsi pemasaran lainnya kurang baik jika dibandingkan dengan perusahaan

    bertipe strategi defender, prospector, dan analyze.

    Perusahaan bertipologi prospector mempunyai intensitas lebih besar pada fase

    pertumbuhan dalam product life cycle maka mempunyai kemampuan untuk menciptakan

    margin dan pertumbuhan laba yang lebih tinggi. Pendapat ini cukup beralasan karena dalam

    fase pertumbuhan, produk baru yang dikeluarkan oleh perusahaan belum mempunyai saingan

    dalam jangka pendek, lebih dominan pada aspek deferensiasi sehingga produk dapat dijual

  • Berlian 328 – 346 Jurnal MIX, Volume V, No. 3, Oktober 2015

    333

    dengan harga yang lebih tinggi. Pada perusahaan bertipologi defender pada fase kematangan

    memiliki intensitas yang lebih tinggi sehingga memperoleh margin dan pertumbuhan laba

    yang relatif lebih rendah. Hal ini disebabkan karena perusahaan defender mempunyai

    domainnya yaitu harus mampu bersaing dengan persaingan yang ketat.

    Hipotesis Penelitian. Hasil penelitian Jennings et al. (2003) memiliki hasil yang sama

    dengan penelitian yang dilakukan oleh Saraswati dan Atimini (2007) Meiden dan Zujanty

    (2004). Mereka menyatakan bahwa tidak ada perbedaan pertumbuhan laba antara perusahaan

    bertipologi prospector dan defender. Berdasarkan uraian tersebut dirumuskan hipotesis :

    H1:Rata-rata pertumbuhan laba pada perusahaan bertipologi prospector lebih besar dari pada

    perusahaan bertipologi defender berdasarkan kriteria pengelompokkan rasio karyawan

    terhadap penjualan, rasio market value to book value, rasio capital expenditure to total asset,

    rasio capital expenditure to market value, dan analisis faktor.

    Miles dan Snow dalam Saraswati dan Atmini (2007) menyatakan bahwa perusahaan

    bertipologi prospector mempunyai karakter pengejaran pertumbuhan penjualan dan

    peningkatan pasar melalui inovasi-inovasi produk baru. Karakter penciptaan produk baru ini

    menjadikan perusahaan bertipologi prospector intensitasnya lebih besar pada fase

    pertumbuhan dalam product life cycle. Sementara pada perusahaan bertipologi defender yang

    lebih menekankan efisiensi cenderung berada pada fase kematangan, sehingga pengontrolan

    biayanya lebih ketat.

    Berkaitan dengan siklus hidup perusahaan, Anthony dan Ramesh (1992) dalam Habbe

    dan Hartono (2001) mengungkapkan bahwa pertumbuhan penjualan lebih tinggi pada fase

    pertumbuhan dibandingkan pada fase kematangan. Perusahaan bertiplogi prospector

    mempunyai karakter pertumbuhan penjualan dan peningkatan pangsa pasarnya melalui

    inovasi produk baru yang berbeda dengan para pesaingnya.Karakter dari perusahaan bertipologi prospector adalah pencipta produk baru sehingga menjadikan perusahaan tersebut

    lebih sering pada tahap pertumbuhan dalam product life cycle. Berbeda halnya dengan

    perusahaan bertipologi defender yang menekankan efisiensi lebih cenderung pada tahap

    kematangan, karena pada tahap ini biaya dapat dikontrol sehingga pada tahap ini terjadi

    persaingan yang ketat (Ahmed et.al, 2012).

    Matsuno dan Mentzer (2010) menyatakan bahwa pertumbuhan penjualan perusahaan

    bertipologi prospector lebih besar dibandingkan dengan perusahaan bertipologi defender.

    Hasil penelitian tersebut tidak sejalan dengan hasil penelitian Desarbo et al. (2008) yang

    memiliki hasil bahwa pertumbuhan penjualan perusahaan bertipologi prospector lebih kecil

    dibandingkan dengan perusahaan bertiopologi defender. Berbeda lagi dengan hasil penelitian

    Jennings et al. (2003) yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan rata-rata pertumbuhan

    penjualan antara perusahaan bertipologi prospector dan defender. Berdasarkan uraian di atas,

    maka diajukan hipotesis :

    H2:Rata-rata pertumbuhan penjualan perusahaan bertipologi prospector lebih besar dari pada

    perusahaan bertipologi defender berdasarkan kriteria pengelompokkan rasio karyawan

    terhadap penjualan, rasio market value to book value, rasio capital expenditure to total asset,

    rasio capital expenditure to market value, dan analisis faktor.

    Anderson dan Zeithml (1984) menyatakan bahwa perusahaan bertipologi prospector

    mempunyai return on investment yang lebih kecil. Hal ini disebabkan pada fase perkenalan

    dan pertumbuhan, perusahaan masih berada pada tahap membangun (built) sehingga masih

    terus melakukan investasi. Sedangkan pada perusahaan bertipologi defender mempunyai

  • Berlian 328 – 346 Jurnal MIX, Volume V, No. 3, Oktober 2015

    334

    return on investment yang lebih besar, karena pada fase kematangan dan penurunan

    perusahaan sudah pada tahap memanen (harvest). Teori ini sejalan dengan penelitian Desarbo

    et al. (2008) yang mendapatkan hasil penelitian bahwa rata-rata return on investment

    perusahaan bertipologi defender lebih besar dibandingkan dengan perusahaan bertipologi

    prospector, tetapi tidak sejalan dengan hasil penelitian Matsuno dan Mentzer (2010) dan

    Meiden dan Zujanty (2004) yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan rata-rata return on

    investment antara perusahaan bertipologi prospector dan defender. Berdasarkan uraian

    tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :

    H3:Rata-rata return on investment perusahaan bertipologi prospector lebih kecil dari pada

    perusahaan bertipologi defender berdasarkan kriteria pengelompokkan rasio karyawan

    terhadap penjualan, rasio market value to book value, rasio capital expenditure to total asset,

    rasio capital expenditure to market value, dan analisis faktor.

    Hasil penelitian Jennings et.al (2003), return on sales pada perusahaan bertipologi

    prospector dan defender tidak ada perbedaan yang signifikan tetapi perusahaan bertipologi

    prospector menunjukkan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan bertipologi

    defender. Saraswati dan Atmini (2007) menyatakan bahwa berdasarkan konsep siklus hidup,

    implikasi strategi perusahaan bertipologi prospector terhadap pengukuran kinerja laba dan

    penjualan cenderung lebih tinggi dibandingkan pada perusahaan bertipologi defender, hal ini

    sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Desarbo et al. (2008) yang menyatakan

    bahwa return on sales perusahaan bertipologi prospector lebih besar dibandingkan dengan

    perusahaan bertipologi defender, sehingga berdasarakan uraian di atas maka dapat

    dirumuskan hipotesis sebagai berikut :

    H4:Rata-rata return on sales perusahaan bertipologi prospector lebih besar dari pada

    perusahaan bertipologi defender berdasarkan kriteria pengelompokkan rasio karyawan terhadap penjualan, rasio market value to book value, rasio capital expenditure to total asset,

    rasio capital expenditure to market value, dan analisis faktor.

    METODE

    Penelitian ini merupakan studi komparatif. Pengujian hipotesis dilakukan dengan

    pendekatan uji beda rata-rata. Pengujian beda rata-rata merupakan tipe penelitian dengan

    karakteristik masalah berupa perbandingan antara dua vaiabel atau lebih. Dalam penelitian ini,

    dilakukan pengamatan terhadap konsekuensi-konsekuensi yang timbul dan menelurusi

    kembali fakta yang secara masuk akal sebagai faktor-faktor penyebabnya. Penelitian ini

    bertujuan untuk mengetahui perbedaan kinerja perusahaan antara perusahaan bertipologi

    prospector dan defender.

    Dalam menentukan perusahaan bertipologi prospector, defender, analyzer, dan

    reactors penelitian ini menggunakan analisis faktor mengacu pada Saraswati dan Atmini

    (2007). Tujuan utama dari analisis faktor adalah mendefinisikan struktur suatu data matrik

    dan menganalisis struktur saling hubungan (korelasi) antar sejumlah besar variabel atau

    dimensi yang sering disebut dengan faktor.

    Analisis faktor menghendaki bahwa matrik data harus memiliki korelasi yang cukup

    agar dapat dilakukan analisis faktor. Uji yang digunakan untuk melihat interkorelasi antar

    variabel dan dapat tidaknya analisis faktor dilakukan adalah measure of sampling adequacy

    (MSA). Nilai MSA bervariasi dari 0 sampai 1, jika nilai MSA < 0.50 maka analisis faktor

    tidak dapat dilakukan (Ghozali,2005).

  • Berlian 328 – 346 Jurnal MIX, Volume V, No. 3, Oktober 2015

    335

    Indeks faktor yang diperoleh kemudian diurutkan mulai dari yang terendah sampai

    yang tertinggi. Sepertiga peringkat pertama diidentifikasi sebagai perusahaan bertipologi

    defender dan sepertiga terakhir diidentifikasikan sebagai perusahaan bertipologi prospector.

    Sisanya akan dihilangkan dari sampel karena kurang tepat untuk membedakan antara

    perusahaan prospector dan defender.

    Menurut Habbe dan Hartono (2001) untuk menentukan sampel yang tergolong

    perusahaan bertipologi prospector dan sampel mana yang tergolong perusahaan defender

    ditentukan dengan empat variabel indikator yang digunakan sebagai proksi perusahaan

    bertipologi prospector dan defender dapat dirumuskan sebagai berikut :

    KAPREN = KAR/PEN (1)

    PBV = MV/BV (2)

    CETA = (CEt – CEt-1) / TAt-1 (3) CEMVE = (CEt – CEt-1) / MVEt-1 (4)

    Keterangan :

    KAR = Total karyawan

    PEN = Total penjualan bersih

    MV = Harga pasar per lembar saham

    BV = Nilai buku per lembar saham

    CEt = Capital expenditure tahun t

    CEt-1 = Capital expenditure tahun t-1

    MVEt-1 = Nilai pasar ekuitas akhir tahun t-1

    TAt-1 = Total asset tahun t-1

    Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek

    Indonesia (BEI). Sampel penelitian adalah perusahaan manufakur yang terdatar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2011 sampai 2014. Unit analisis pada penelitian ini yaitu tingkat

    perusahaan karena penelitian ini berkaitan dengan kinerja yang difokuskan pada kinerja suatu

    perusahaan.

    Sampel dipilih berdasarkan metode purposive sampling dengan tujuan untuk

    mendapatkan sampel yang sesuai dengan kriteria tertentu. Kriteria pemilihan sampel adalah:

    (1) Perusahaan manufaktur menurut klasifikasi Indonesian Capital Market Directory 2014.

    (2) Perusahaan yang telah menerbitkan laporan keuangan auditan berturut-turut selama tahun

    2011 sampai 2014. (3) Perusahaan yang memiliki laba positif. (4) Laporan keuangan

    perusahaan berakhir tanggal 31 Desember dan dinyatakan dalam rupiah. (5) Perusahaan yang

    terklasifikasi sebagai perusahaan dengan tipe prospector dan defender.

    Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data diperoleh dari

    laporan keuangan perusahaan yang tercatat dalam Indonesian Capital Market Directory serta

    Bursa Efek Indonesia (BEI). Adapun data yang dibutuhkan berupa : (1) Data akuntansi yang

    diambil dari laporan keuangan perusahaan sampel selama tahun 2011 sampai 2014, yaitu

    penjualan bersih, capital expenditure, total aktiva, jumlah karyawan, laba sebelum pajak,

    extraordinary items, dan discontinued operation yang diperoleh dari Bursa Efek Indonesia

    (BEI). (2) Harga pasar saham, nilai buku saham, dan data publikasi laporan keuangan yang

    diperoleh dari Bursa Efek Indonesia (BEI).

    Pertumbuhan laba pada perusahaan prospector dan defender diperoleh dari laba

    sebelum pajak, tidak termasuk extraordinary items dan discontinued operations pada tahun t

    dikurangi laba sebelum pajak, tidak termasuk extraordinary items dan discontinued

    operations pada tahun t-1 dibagi dengan nilai pasar ekuitas pada akhir tahun t-1. Pengukuran

  • Berlian 328 – 346 Jurnal MIX, Volume V, No. 3, Oktober 2015

    336

    variabel pertumbuhan laba menggunakan skala rasio. Menurut Saraswati dan Atmini (2007),

    pertumbuhan laba dapat dirumuskan sebagai berikut :

    )5(MVE

    IBED-IBEDIBED

    1-t

    1-tt

    Keterangan :

    IBED = Income Before Extraordinary items and Discontinued Operations

    ΔIBED = Pertumbuhan laba (Kenaikan Income Before Extraordinaryitems dan

    Discontinued Operations)

    IBEDt = Laba sebelum pajak, tidak termasuk extraordinary items dan discontinued

    operations pada tahun t

    IBEDt-1 = Laba sebelum pajak, tidak termasuk extraordinary items dan discontinued

    operations pada tahun t-1

    MVEt-1 = Nilai Pasar Ekuitas pada akhir tahun t-1

    Pertumbuhan penjualan perusahaan prospector dan defender diperoleh dari total

    penjualan bersih tahun t dikurangi total penjualan bersih tahun t-1 dibagi dengan total

    penjualan bersih tahun t-1. Pengukuran variabel pertumbuhan penjualan menggunakan skala

    rasio. Menurut Saraswati dan Atmini (2007) pertumbuhan penjualan dapat dirumuskan

    sebagai berikut:

    )6(SG

    SG-SG SG

    1-t

    1-tt

    Keterangan : ΔSG = Pertumbuhan Penjualan; SGt = Total penjualan bersih pada tahun t;

    SGt-1 = Total penjualan bersih pada tahun t-1

    Skala pengukuran ini menggunakan skala rasio. Return on Investment dapat

    dirumuskan sebagai berikut:

    )7(TA

    NI ROI

    Keterangan: ROI = Return on Investment; NI = Net Income atau Laba Bersih; TA =

    Total Aktiva

    Return on Sales merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan

    perusahaan dalam menghasilkan laba bersih pada penjualan, dengan membagi laba bersih

    terhadap total penjualan. Rumus return on sales dapat dirumuskan sebagai berikut:

    )8( TS

    NI ROS

    Keterangan : ROS = Return on Sales; NI = Laba Bersih; TS = Total Penjualan

    Keempat hipotesis diuji dengan menggunakan uji beda dua sampel independen (two

    independent sample). Sebelum dilakukan uji beda dua sampel independen, dilakukan uji

    normalitas data menggunakan Kolmogorov-Smirnov Goodness of Fit Test,di mana jika tingkat

    signifikansi lebih dari 0.05 maka data terdistribusi normal, uji beda yang digunakan adalah

    two independent sample t-test dan bila tingkat signifikansi kurang dari 0.05 maka data tidak

    terdistribusi normal, sehingga hipotesis diuji dengan menggunakan statistk non-parametrik,

    yaitu Mann-Whitney U-Test.

  • Berlian 328 – 346 Jurnal MIX, Volume V, No. 3, Oktober 2015

    337

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    Proses sampling menghasilkan perusahaan sampel sebagaimana disajikan pada Tabel

    1.Sepanjang periode observasi diperoleh sampel sebanyak 218 perusahaan, dengan jumlah

    perusahaan bertipologi prospector sama dengan perusahaan bertipologi defender.

    Seleksi Perusahaan Bertipologi Prospector dan Defender. Menurut Saraswati dan Atmini

    (2007) penentuan sampel yang tergolong prospector dan defender ditentukan dengan empat

    proksi yaitu : jumlah karyawan dibagi dengan total penjualan bersih (KARPEN), price book

    value (PBV), capital expenditure dibagi dengan market valueequity (CEMVE), capital

    expenditure dibagi dengan total asset (CETA) yang menggunakan.

    Tabel 1. Prosedur Pemilihan Sampel

    Kriteria Sampel Jumlah

    Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek

    Indonesia sampai dengan tahun 2014

    564

    Perusahaan yang memiliki laba negatif (59)

    Perusahaan yang laporan keuangannya tidak dinyatakan

    dalam rupiah (59)

    Data tidak lengkap (117)

    Perusahaan yang tidak termasuk kriteria prospector dan

    defender (111)

    Perusahaan yang terpilih sebagai sampel

    (masing-masing 109 perusahaan prospector dan 109

    perusahaan defender)

    218

    common factor analysis yang merupakan model faktor di mana faktor-faktor didasarkan pada

    pengurangan suatu matriks korelasi.

    Tabel 2. Common Factor Analysis – Communalities

    Communalities

    Initial Extraction

    KARPEN 1.000 .526

    PBV 1.000 .523

    CETA 1.000 .841

    CEMVE 1.000 .841

    Tabel 2 menunjukkan nilai communalities indikator individual startegi organisasional,

    di mana communality adalah jumlah varian variabel-variabel asli yang terbagi kepada semua

    variabel yang termasuk ke dalam analisis (Habbe dan Hartono, 2001). Nilai tersebut

    digunakan untuk menentukan jumlah faktor representasi atas variabel-variabel asli. Jumlah

  • Berlian 328 – 346 Jurnal MIX, Volume V, No. 3, Oktober 2015

    338

    keempat nilai communalities tersebut adalah 2,73. Untuk mencapai nilai tersebut dibutuhkan

    hanya dua faktor saja yang mempunyai nilai eigenvalues di atas satu, yaitu faktor satu (1,683)

    dan faktor dua (1,049) dengan jumlah 2,73 yang diperlihatkan pada Tabel 3.

    Dalam kasus ini, dua faktor dibutuhkan untuk menjelaskan hubungan timbal balik di

    antara indikator. Faktor satu berkaitan dengan capital expenditure perusahaan. Penentuan

    perusahaan bertipologi prospector dan defender didasarkan pada penjumlahan indeks kedua

    faktor tersebut (faktor 1 + faktor 2). Penjumlahan indeks ini (fac_sum) kemudian diperingkat

    dari yang tertinggi ke terendah. Sepertiga pertama diidentifikasikan sebagai perusahaan

    bertipologi prospector dan sepertiga terakhir diidentifikasikan sebagai perusahaan bertipologi

    defender. Sepertiga sisanya dikeluarkan dari sampel karena dianggap kurang tepat untuk

    membedakan antara perusahaan bertipologi prospector dan defender.

    Tabel 3. Common Factor Analysis – Eigenvalues

    Total Variance Explained

    Component Initial Eigenvalues

    Total % of Variance Cumulative %

    1 1.683 42.073 42.073

    2 1.049 26.217 68.289

    3 .951 23.771 92.061

    4 .318 7.939 100.000

    Extraction Method: Principal Component Analysis.

    Pengklasifikasian perusahaan prospector dan defender yang tidak menggunakan analisis

    faktor, hasil perhitungan rasio karyawan terhadap penjualan, rasio market value to book value,

    rasio capital expenditure to total asset, rasio capital expenditure to market value masing-

    masing diurutkan dari yang tertinggi ke terendah kemudian sama halnya dengan analisis

    faktor maka sepertiga pertama diidentifikasikan sebagai perusahaan bertipologi prospector

    dan sepertiga terakhir diidentifikasikan sebagai perusahaan bertipologi defender. Sepertiga

    sisanya dikeluarkan dari sampel.

    Tabel 4. Statistik Desktiptif Variabel-Analisis Faktor

    Perusahaan n Variabel Mean

    Prospector 109 IBED 26.5983

    109 SG 0.31526

    109 ROI 0.14429

    109 ROS 0.12298

    Defender 109 IBED 26.0663

    109 SG 0.31076

    109 ROI 0.05818

    109 ROS 0.05885

  • Berlian 328 – 346 Jurnal MIX, Volume V, No. 3, Oktober 2015

    339

    Tabel 4 menyajikan ringkasan hasil analisis statistik deskriptif seluruh variabel yang

    digunakan dengan menggunakan analisis faktor. Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat bahwa rata-

    rata pertumbuhan laba, rata-rata pertumbuhan penjualan, dan rata-rata return on sales

    perusahaan prospector lebih besar dibandingkan rata-rata pertumbuhan laba, rata-rata

    pertumbuhan penjualan, dan rata-rata return on sales perusahaan defender. Hasil temuan ini

    sejalan dengan konsep dan hipotesis yang diajukan. Tetapi rata-rata return on investment

    perusahaan prospector juga lebih besar dibandingkan rata-rata return on investment

    perusahaan defender. Hasil temuan ini tidak sejalan dengan konsep dan hipotesis yang

    diajukan.

    Hasil pengolahan statistik deskriptif variabel-variabel yang tidak menggunakan

    analisis faktor tersaji pada Tabel 5. Pengklasifikasian perusahaan bertipologi prospector dan

    defender menggunakan empat proksi masing-masing yaitu : jumlah karyawan dibagi dengan

    total penjualan bersih (KARPEN), price book value (PBV), capital expenditure dibagi dengan

    market value equity (CEMVE), capital expenditure dibagi dengan total asset (CETA).

    Tabel 5. Statistik Deskriptif Variabel

    Varia-

    bel n

    KARPEN PBV CETA CEMVE

    Prospector Defender Prospector Defender Prospector Defender Prospector Defender

    IBED 218 29.905763 28.971479 29.684785 20.266991 25.991803 22.6746 41.840067 25.386714

    SG 218 0.415037 0.185892 0.307029 0.279394 0.3181 0.182717 0.284844 0.25765

    ROI 218 0.070598 0.132097 0.058345 0.160111 0.110109 0.087972 0.088207 0.075025

    ROS 218 0.094504 0.094295 0.070114 0.12884 0.108692 0.078349 0.097374 0.069338

    Berdasarkan tabel 5 dapat dilihat bahwa pada masing-masing proksi memiliki hasil

    yang beragam, apabila dilihat dari rata-rata pertumbuhan laba (IBED) maka seluruh proksi

    memiliki hasil yang sama yaitu rata-rata pertumbuhan laba perusahaan prospector lebih besar

    daripada rata-rata pertumbuhan laba perusahaan defender, hal ini sejalan dengan hipotesis

    yang diajukan. Begitu pula dengan rata-rata pertumbuhan penjualan, keempat proksi tersebut

    menghasilkan hasil yang sama yaitu rata-rata pertumbuhan penjualan perusahaan prospector

    lebih besar daripada rata-rata perusahaan defender, hal ini juga sejalan dengan hipotesis yang

    diajukan.

    Namun pada rata-rata return on investment terdapat perbedaan hasil antara keempat

    proksi, berdasarkan jumlah karyawan dibagi dengan total penjualan bersih (KARPEN) dan

    price book value (PBV), rata-rata return on investment perusahaan bertipologi prospector

    lebih kecil daripada rata-rata return on investment perusahaan bertipologi defender, hal ini

    sejalan dengan hipotesis yang diajukan tetapi kedua proksi yang lainnya yaitu capital

    expenditure dibagi dengan market value equity (CEMVE), capital expenditure dibagi dengan

    total asset (CETA) memiliki hasil yang berbeda yaitu bahwa rata-rata return on investment

    perusahaan bertipologi prospector lebih besar daripada rata-rata return on investment

    perusahaan bertipologi defender.

    Pada variabel return on sales, analisa statistik deskriptif pada proksi jumlah karyawan

    dibagi dengan total penjualan bersih (KARPEN), capital expenditure dibagi dengan market

    value equity (CEMVE), dan capital expenditure dibagi dengan total asset (CETA) memiliki

    hasil yang sama yaitu rata-rata return on sales perusahaan bertipologi prospector lebih besar

    daripada rata-rata return on sales perusahaan bertipologi defender dan hal ini sejalan dengan

  • Berlian 328 – 346 Jurnal MIX, Volume V, No. 3, Oktober 2015

    340

    hipotesis yang diajukan namun tidak sejalan dengan hasil analisa desktipif dari proksi price

    book value (PBV) yang memiliki hasil rata-rata return on sales perusahaan bertipologi

    prospector lebih kecil daripada perusahaan bertipologi defender.

    Hasil uji normalitas data perusahaan bertipologi prospector dan defender berdasarkan

    hasil analisis faktor maupun keempat proksi: jumlah karyawan dibagi dengan total penjualan

    bersih (KARPEN), price book value (PBV), capital expenditure dibagi dengan market value

    equity (CEMVE), capital expenditure dibagi dengan total asset (CETA) dengan pendekatan

    One–Sample Kormogorov-Smirnov Test menunjukkan bahwa semua data memiliki nilai

    signifikansi < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa data terdistribusi tidak normal. Oleh karena

    itu, pengujian keempat hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji Mann-Whitney U.

    Tabel 6 di bawah ini merupakan ringkasan hasil pengujian beda rata-rata pengukuran

    kinerja perusahaan bertiplogi prospector dan defender berdasarkan beberapa proksi dan

    analisis faktor.

    Tabel 6. Hasil Uji Hipotesis Pertumbuhan Laba (IBED)

    Proksi Strategi n Mean Mann-Whitney U

    Asymp.sig.

    Analisis

    Faktor

    Prospector 109 26.59832 0.112

    Defender 109 26.06631

    KARPEN Prospector 109 29.90576

    0.926 Defender 109 28.97148

    PBV Prospector 109 29.68479

    0.863 Defender 109 20.26699

    CETA Prospector 109 25.9918

    0.067 Defender 109 22.6746

    CEMVE Prospector 109 41.84007

    0.122 Defender 109 25.38671

    Pengujian hipotesis mengenai pertumbuhan laba (IBED) antara perusahaan bertipologi

    prospector dan defender dengan analisis faktor maupun keempat proksi lainnya yang

    digunakan menunjukkan nilai signifikansi berturut-turut sebesar 0,112; 0,926; 0,863; 0,067;

    0,0122 (p > 0,01) yang berarti bahwa tidak adanya perbedaan rata-rata pertumbuhan laba

    yang signifikan antara perusahaan bertipologi prospector dan perusahaan yang bertipologi

    defender meskipun nilai rata-rata pertumbuhan laba pada perushaan bertipologi prospector

    lebih besar dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan laba pada perusahaan bertipologi

    defender, sehingga penelitian ini tidak berhasil mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa

    pertumbuhan laba perusahaan bertipologi prospector lebih besar daripada perusahaan

    bertipologi defender.

    Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian Meidan dan Zujanty (2004),

    Saraswati dan Atmini (2007), serta Jennings et.al(2003) yaitu bahwa rata-rata pertumbuhan

    laba perusahaan bertiplogi prospector dan perusahaan bertipologi defender tidak berbeda.

    Namun hasil penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Anthony

    dan Ramesh (1992) serta Habbe dan Hartono (2001).

  • Berlian 328 – 346 Jurnal MIX, Volume V, No. 3, Oktober 2015

    341

    Tabel 7. Hasil Uji Hipotesis Pertumbuhan Penjualan (SG)

    Proksi Strategi n Mean Mann-Whitney U

    Asymp.sig.

    Analisis

    Faktor

    Prospector 109 0.315257 0.415

    Defender 109 0.310759

    KARPEN Prospector 109 0.415037

    0.926 Defender 109 0.185892

    PBV Prospector 109 0.307029

    0.053 Defender 109 0.279394

    CETA Prospector 109 0.3181

    0.318 Defender 109 0.182717

    CEMVE Prospector 109 0.284844

    0.571 Defender 109 0.25765

    Hasil penelitian pengujian perbedaan rata-rata pertumbuhan penjualan antara

    perusahaan bertipologi prospector dan perusahaan bertipologi defenderdisajikan pada Tabel

    7. Terlihat bahwa rata-rata pertumbuhan penjualan perusahaan bertipologi prospector lebih

    besar dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan penjualan perusahaan bertipologi defender

    baik dari hasil analisis faktor maupun keempat proksi lainnya. Hasil penelitian ini searah

    dengan hipotesis yang diajukan, namun perbedaan ini tidak signifikan.

    Penelitian ini menemukan bukti bahwa rata-rata pertumbuhan penjualan perusahaan

    bertipologi prospector dan perusahaan bertipologi defender tidak berbeda. Hasil penelitian ini

    konsisten dengan hasil penelitian Meiden dan Zujanty (2004), Saraswati dan Atmini (2007)

    serta Jennings et.al(2003), namun tidak konsisten dengan hasil penelitian Habbe dan Hartono

    (2001), Assih (2001), Desarbo et al. (2008), serta Matsuno dan Mentzer (2010).

    Pengujian return on investment dalam penelitian ini diukur dengan menghitung laba

    bersih setelah pajak dibagi dengan total aktiva. Hasil penelitan di atas menunjukkan beberapa

    perbedaan hasil pada setiap proksi yang digunakan. Pada analisis faktor menunjukkan bahwa

    terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata return on investment perusahaan

    bertipologi prospector dan defender, namun hasil temuan tersebut menunjukkan bahwa rata-

    rata return on investment perusahaan bertipologi prospector lebih besar dibandingkan dengan

    perusahaan bertipologi defender sehingga hasil ini tidak sejalan dengan hipotesis yang

    diajukan..

    Hasil uji hipotesis berdasarkan proksi KARPEN dan PBV menunjukkan nilai

    signifikansi 0.000 (p

  • Berlian 328 – 346 Jurnal MIX, Volume V, No. 3, Oktober 2015

    342

    Tabel 8. Hasil Uji Hipotesis Return on Investment (ROI)

    Proksi Strategi n Mean Mann-Whitney U

    Asymp.sig.

    Analisis

    Faktor

    Prospector 109 0.144294 0.000

    Defender 109 0.058176

    KARPEN Prospector 109 0.070598

    0.000 Defender 109 0.132097

    PBV Prospector 109 0.058345

    0.000 Defender 109 0.160111

    CETA Prospector 109 0.110109

    0.074 Defender 109 0.087972

    CEMVE Prospector 109 0.088207

    0.485 Defender 109 0.075025

    Pada proksi CETA dan CEMVE menunujukkan nilai signifikansi masing-masing

    0.074 dan 0.485 (p>0.01) yang berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-

    rata return on investment perusahaan bertipologi prospector dan perusahaan bertipologi

    defender. Dengan demikian hasil peneitian ini tidak mampu mendukung hipotesis yang

    diajukan, namun hasil ini konsisten dengan hasil penelitian Meiden dan Zujanty (2004),

    Desarbo et al. (2008), serta Matsuno dan Mentzer (2010).

    Tabel 9. Hasil Uji Hipotesis Return on Sales (ROS)

    Proksi Strategi n Mean Mann-Whitney U

    Asymp.sig.

    Analisis

    Faktor

    Prospector 109 0.122976 0.000

    Defender 109 0.058849

    KARPEN Prospector 109 0.094504

    0.348 Defender 109 0.094295

    PBV Prospector 109 0.070114

    0.000 Defender 109 0.12884

    CETA Prospector 109 0.108692

    0.046 Defender 109 0.078349

    CEMVE Prospector 109 0.097374

    0.171 Defender 109 0.069338

    Pengujian hipotesis return on sales dihitung dengan pembagian antara laba bersih

    dibagi dengan total penjualan. Hasil-hasil uji pada tabel 14 menunjukkan hasil yang beragam

    dari setiap proksi yang digunakan. Hasil uji hipotesis dengan menggunakan analisis faktor

    menunjukkan nilai signifikan 0.000 (p

  • Berlian 328 – 346 Jurnal MIX, Volume V, No. 3, Oktober 2015

    343

    CETA dan CEMVE juga menunjukkan bahwa return on sales perusahaan bertipologi

    prospector lebih besar dibandingkan dengan return on sales perusahaan bertipologi defender.

    Hasil penelitian ini berhasil diterima dan sesuai dengan hipotesis yang diajukan yang

    menyatakan bahwa rata-rata return on sales perusahaan bertipologi prospector lebih besar

    dari rata-rata return on sales perusahaan bertipologi defender.

    Hasil uji hipotesis dengan menggunakan keempat proksi lainnya menunjukkan hasil

    yang tidak sejalan dengan hipotesis yang diajukan meskipun proksi KARPEN, CETA dan

    CEMVE menunjukkan hasil rata-rata return on sales perusahaan prospector lebih besar

    dibandingkan dengan perusahaan defender namun tidak berbeda secara signifikan sehingga

    tidak dapat memenuhi hipotesis yang diajukan.

    Hasil pengujian terhadap pertumbuhan laba dilihat dari keempat proksi (KARPEN,

    PBV, CETA, CEMVE) dan analisis faktor menunujukkan bahwa hampir seluruh proksi

    menghasilkan rata-rata pertumbuhan laba perusahaan bertipologi prospector lebih besar

    dibandingkan perusahaan bertipologi defender. Hasil penelitian ini sesuai dengan penegasan

    Porter (1980) dalam Habbe dan Hartono (2001) mengemukakan bahwa perusahaan pada fase

    pertumbuhan lebih berkemampuan dalam menciptakan margin dan profit dibandingkan

    dengan perusahaan pada fase kematangan dan penurunan.

    Hasil pengujian terhadap pertumbuhan laba tidak berbeda secara siginifikan, hal ini

    kemungkinan disebabkan oleh karena adanya pengaruh krisis moneter pada kinerja keuangan

    yang masih dirasakan sampai sekarang ini. Ditambah lagi dari persaingan global yang sudah

    mulai dirasakan sehingga menjadikan perusahaan-perusahaan mengalami kesulitan untuk

    bangkit dan meningkatkan laba bersihnya.

    Hasil pengujian terhadap pertumbuhan penjualan dari keempat proksi (KAPREN,

    PBV, CETA, CEMVE) dan analisis faktor menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan penjualan perusahaan bertipologi prospector lebih besar dibandingkan perusahaan bertipologi

    defender, seperti hipotesis yang diajukan. Bukti ini sejalan dengan penjelasan Kottler (1976),

    bahwa pada fase pertumbuhan (growth) ditandai dengan lonjakan cepat dalam penjualan. Hal

    ini disebabkan karena karakter dari strategi prospector itu sendiri yaitu pengejaran

    pertumbuhan penjualan. Hasil penelitian ini juga mendukung pernyataan Miles and Snow

    dalam Saraswati dan Atmini (2007) menyatakan bahwa perusahaan prospector mempunyai

    karakter pengejaran pertumbuhan penjualan dan peningkatan pasar melalui inovasi produk

    baru. Karakter penciptaan produk baru ini menjadikan perusahaan prospector intensitasnya

    lebih besar pada fase pertumbuhan dalam product life cycle. Sementara pada perusahaan

    defender yang lebih menekankan efisiensi cenderung berada pada fase kematangan, sehingga

    pengontrolan biaya lebih ketat.

    Hasil pengujian terhadap return on investment pada proksi KARPEN dan PBV

    menemukan bukti yang sejalan dengan hipotesis yang diajukan yaitu bahwa rata-rata return

    on investment perusahaan bertipologi prospector lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata

    return on investment perusahaan bertipologi defender. Sedangkan pada proksi lainnya (CETA

    dan CEMVE) serta analisis faktor menunjukkan hasil yang berbeda dan tidak sejalan dengan

    temuan Anderson dan Zeithaml (1984) yang menyatakan bahwa return on investment pada

    fase kematangan relatif lebih tinggi daripada fase pertumbuhan. Temuan ini mungkin dapat

    menjelaskan bahwa perusahaan masih sulit untuk bangkit akibat krisis yang terjadi, ditambah

    lagi dengan persaingan yang semakin tajam sehingga menjadikan perusahaan-perusahaan

    mengalami kesulitan untuk melakukan investasi serta rasa khawatir terhadap investasi yang

    dilakukan.

  • Berlian 328 – 346 Jurnal MIX, Volume V, No. 3, Oktober 2015

    344

    Hasil pengujian terhadap return on sales menunujukkan hasil yang sebagian besar

    memiliki hasil sejalan dengan hipotesis yang diajukan yaitu bahwa rata-rata return on sales

    perusahaan bertipologi prospector lebih besar dari perusahaan bertipologi defender. Dengan

    semakin tingginya nilai return on sales suatu perusahaan maka mengindikasikan bahwa

    perusahaan bertumbuh secara lebih efisien dan sesuai dengan karakteristik perusahaan

    prospector yang terus bergerak cepat untuk peningkatan pertumbuhan penjualan sehingga

    dapat menghasilkan laba atau keuntungan yang semakin meningkat pula. Hasil pengujian ini

    sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Jennings et.al (2003).

    PENUTUP

    Hasil penelitian menggunakan analisis faktor pada penelitian ini menunjukkan bahwa

    tidak ada perbedaan rata-rata pertumbuhan laba dan pertumbuhan penjualan antara

    perusahaan bertipologi prospector dan defender. Namun menemukan fakta bahwa rata-rata

    return on investment perusahaan bertipologi prospector lebih besar dibandingkan perusahaan

    bertipologi defender dan berbeda secara signifikan. Hasil ini tidak sejalan dengan hipotesis

    yang diajukan, hal ini dimungkinkan karena masih khawatirnya para investor untuk

    melakukan investasi di masa persaingan yang semakin ketat antara perusahaan-perusahaan.

    Penelitian ini juga menemukan bukti adanya perbedaan rata-rata return on sales antara

    perusahaan bertipologi prospector dan defender, rata-rata retun on sales perusahaan

    bertipologi prospector lebih besar dibandingkan rata-rata return on sales perusahaan

    bertipologi defender.

    Hasil penelitian berdasarkan pada proksi KARPEN menunjukkan hasil bahwa tidak

    ada perbedaan rata-rata pertumbuhan laba, pertumbuhan penjualan dan return on sales antara perusahaan bertipologi prospector dan defender. Namun pada penelitian menggunakan proksi

    KARPEN ini menemukan bukti bahwa adanya perbedaan rata-rata return on investment

    antara perusahaan bertipologi prospector dan defender. Rata-rata retun on ivestement

    perusahaan bertipologi prospector lebih kecil dibandingkan rata-rata return on investment

    perusahaan defender. Pada proksi PBV menunjukkan hasil bahwa tidak ada perbedaan rata-

    rata pertumbuhan laba, pertumbuhan penjualan dan return on sales antara perusahaan

    bertipologi prospector dan defender. Namun pada penelitian menggunakan proksi PBV ini

    juga menemukan bukti bahwa adanya perbedaan rata-rata return on investment antara

    perusahaan bertipologi prospector dan defender. Rata-rata return on ivestement perusahaan

    bertipologi prospector lebih kecil dibandingkan rata-rata return on investment perusahaan

    defender. Tetapi pada proksi ini menghasilkan bahwa rata-rata return on investment

    perusahaan bertipologi prospector lebih besar dibandingkan perusahaan bertipologi defender

    dan berbeda secara signifikan. Hasil penelitian berdasarkan proksi CETA dan CEMVE sama-

    sama menghasilkan bahwa keseluruhan variabel tidak menunjukkan adanya perbedaan rata-

    rata secara siginifikan namun nilainya menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan laba,

    pertumbuhan penjualan dan return on sales perusahaan bertipologi prospector lebih besar

    dibandingkan dengan perusahaan bertipologi defender. Begitu pula dengan rata-rata return on

    investment perusahaan bertipologi prospector lebih besar dibandingkan dengan perusahaan

    bertipologi defender dan hal ini tidak sejalan dengan hipotesis yang diajukan.

    Berdasarkan hasil penelitian yang telah dijabarkan diketahui bahwa berbagai

    pendekatan strategi bisa sama-sama efektif.Tidak ada sistem secara universal yang tepat untuk

    diterapkan pada seluruh organisasi dalam setiap keadaan. Ada berbagai faktor situasional di

  • Berlian 328 – 346 Jurnal MIX, Volume V, No. 3, Oktober 2015

    345

    dalam maupun di luar organisasiyang akan memengaruhi, termasuk siklus hidup produk pada

    fase mana perusahaan tersebut berada.

    DAFTAR RUJUKAN

    Astuti, Dewi. (2004). Manajemen Keuangan Perusahaan. Ghalia Indonesia. Jakarta.

    Brigham, Eugene F dan Joel F.Houston. (2001). Manajemen Keuangan Buku IT. Erlangga.

    Jakarta.

    Ghozali, Imam. (2005). Aplikasi Multivariate dengan Program SPSS. Edisi 3. Badan Penerbit

    Universitas Diponegoro. Semarang.

    Miles, Raymond and Snow, Charles. C. (1978). Organzational Strategy, Structure, and

    Process. McGraw Hill Publishing Co. New York, NY.

    Munawir, S. (2008). Analisis Laporan Keuangan. Edisi 8. Liberty. Yogyakarta.

    Porter, E. Michael. (1980). How Competitive Forces Shape Strategy. Harvard Business

    Review. March/April. P:137-145.

    Sekaran, Uma. (2013). Metodologi Penelitian Bisnis. Salemba Empat. Jakarta.

    Ahmed, D. Das, A. and Pagell, M. (2013). “The Influence of Product Life Cycle on The

    Efficacy of Purchasing Practise.” International Journal of Operations and Product

    Management 33.4 : 470-498

    Anderson, R. Carl and Carl P. Zeithaml, (1984). “Stage of Product Life Cycle, Business

    Strategy and Business Performance.” Academy of Management Journal. Vol.27, p.5-

    24.

    Andrews, R. Boyne, George A. Law, J. and Walker, Richard M. (2007). “Centralization,

    Organizational Strategy, and Public Service Performance.” Journal of Public Administration Research and Theory 19:57-80.

    Anthony, Joseph H. and K. Ramesh. (1992). “Association Between Accounting Performance

    Measures and Stock Prices.” Journal of Accounting and Economics. Vol.15, p.203-

    227.

    Conant, J.S, M.P. Mokwa and P. Varadajaran. (1990). “Strategic Types, Distinctive

    Marketing Competencies and Organizational Performance : A Multiple Measures-

    Based Study.” Strategic Management Journal 11 : 365-383.

    Desarbo, Wayne S. Benedetto, Anthony D. Song, M. and Sinha, I. (2008). “Revisiting The

    Miles and Snow Strategic Framework : Uncovering Interrelationships between

    Strategic Types, Capabilities, Environmental Uncertainty, and Firm Performance,”

    Strategic Management Journal 26:47-74.

    Doty, D.H., W.H. Glick and G.P. Huber. (1993). “Fit, Equifinality, and Organizational

    Effectiveness : A Test of Two Configurational Theories.” Academy of Management

    Journal 36 : 1196-1250.

    Ervanto, Adi D. dan Sudarma, Made. (2004). “Analisis Kandungan Informasi Laba dan Arus

    Kas Perusahaan Prospector dan Defender.” TEMA. Vol.5, No.2.

    Habbe, A.H dan J.Hartono. (2001). “Studi terhadap Pengukuran Kinerja Akuntansi

    Perusahaan Prospector dan Defender dan Hubungannya dengan Harga Saham :

    Analisis dengan Pendekatan Life Cycle Theory.” Jurnal Akumtansi dan Riset

    Indonesia. Vol.4 No.1. Januari, p. 111-132.

    Jennings, Daniel F., et al. (2003). “Strategy-Performance Relationships in Service Firms : A

    Test of Equifinality.” Journal of Managerial Issues. Vol. XV No.1, p.208-220.

  • Berlian 328 – 346 Jurnal MIX, Volume V, No. 3, Oktober 2015

    346

    Lathifah, Ifah. (2014). “Sistem Pengendalian Manajemen dan Tujuan Perusahaan”. Jurnal

    Dinamika Akuntansi. Vol.6 No.1.

    Matzuno, Ken and Mentzer, John T. (2010). “The Effects of Strategy Type on The Market

    Orientaion-Performance Relationship.” Journal of Marketing 64:1-16.

    Parry M.E. and A.E. Parry. (1998). “Strategy and Marketing Tactics in Nonprofit Hospitals.”

    Health Care Management Review 23: 41-57.

    Pleshko, Larry P. (2006). “Product Growth Strategies of The Miles and Snow Strategic

    Groups.” Academy of Strategic Management. Vol. 5 No.1, p.15-19.

    Primalia, Erlin dan Suharli, Michel. (2006). “Pengaruh Pertumbuhan Laba dan Penjualan

    Terhadap Cumulative Abnormal Return (CAR) Pada Perusahaan Bertipologi

    Prospector dan Defender.” Jurnal Manajemen Akuntansi dan Sistem Informasi, Vol.3,

    Januari, p.83-95.

    Saraswati, Erwin dan S.Atmini. (2007). “Reaksi Pasar Terhadap Pengukuran Kinerja

    Akuntansi Perusahaan Prospector dan Defender : Bukti Tambahan Untuk Periode

    Setelah Krisis.” Simposium Nasional Akuntansi X.

    Segev, E. (1989). “A Systematic Comparative Analysis and Synthesis of Two Business-Level

    Strategic Typologies.” Strategic Management Journal 10: 487-505.

    Shimizu, N and Tamura, A. (2012). “Connecting Capital Budgeting Practice with The Miles

    and Snow Strategic Type : A Novel Managerial Accounting Approach.” Global

    Conference of Business and Financial Proceedings 7.1 : 45-56.

    Sinarasri, Andwiani. (2011). “Analisis Hubungan Antara Perubahan Strategi dan Kinerja

    Perusahaan Dengan Penggunaan Anggaran Sebagai Variabel Moderaso”. Seminar

    Nasional Ilmu Terapan.

    Slater, S.F. and J.C. Narver. (1993). “Product-Market Strategy and Performance : An Analysis of the Miles and Snow Strategic Types.” European Journal of Marketing 27 :

    33.51.

    Snow, C.C. and L.G. Hrebiniak. (1980). “Strategy, Distinctive Competence and

    Organizational Performance.” Administrative Science Quarterly 25 : 317-336

    Verreyne, Martie L. and Meyer, D. (2010). “Small Business Strategy and The Industry Life

    Cycle.” Small Business Economics 35.4 : 399-416.