ANALISIS PENDAPATAN DAN TINGKAT KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA …digilib.unila.ac.id/54626/2/SKRIPSI...

of 92/92
ANALISIS PENDAPATAN DAN TINGKAT KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA PETAMBAK UDANG VANAME EKS PLASMA PT CENTRALPERTIWI BAHARI DESA BRATASENA ADIWARNA KECAMATAN DENTE TELADAS KABUPATEN TULANG BAWANG (Skripsi) Oleh Cindy Puri Andini JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG 2018
  • date post

    03-Aug-2020
  • Category

    Documents

  • view

    10
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of ANALISIS PENDAPATAN DAN TINGKAT KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA …digilib.unila.ac.id/54626/2/SKRIPSI...

  • ANALISIS PENDAPATAN DAN TINGKAT KESEJAHTERAAN

    RUMAH TANGGA PETAMBAK UDANG VANAME EKS PLASMA

    PT CENTRALPERTIWI BAHARI DESA BRATASENA ADIWARNA

    KECAMATAN DENTE TELADAS KABUPATEN TULANG BAWANG

    (Skripsi)

    Oleh

    Cindy Puri Andini

    JURUSAN AGRIBISNIS

    FAKULTAS PERTANIAN

    UNIVERSITAS LAMPUNG

    2018

  • ABSTRACT

    ANALYZE OF INCOME AND HOUSEHOLD WELFARE OF VANAME

    CULTIVATORS EX-PLASMA PT CENTRALPERTIWI BAHARI

    IN BRATASENA ADIWARNA VILLAGE DENTE TELADAS DISTRICT

    TULANG BAWANG REGENCY

    By

    Cindy Puri Andini

    This research aims to analyze household income, welfare, and factors that

    influence the household welfare of vaname cultivators ex-plasma PT

    Centralpertiwi Bahari. The research use survey method. Data of this research was

    collected in Bratasena Adiwarna village in February 2018. The numbers of

    respondents as many as 70 vaname shrimp cultivators households are collected by

    proportional random sampling. Household income consists of shrimp income,

    nonshrimp, off-farm and nonfarm income. Household welfare level is analyzed by

    the Sajogyo criteria and poverty line according to BPS Lampung Province 2017.

    The factors that influence household welfare analyzed by binary logistic

    regression. The result of the research shows that the average shrimp income per

    0,5 ha pond in period I, II, and III are Rp7.986.264, Rp13.868.109, and

    Rp27.334.963. Average household income is Rp64.902.569,00 per year, which is

    obtained from 70 percent of shrimp income, 10 percent of nonshrimp income, 2

    percent of off-farm income, and 18 percent of nonfarm income. The household

    welfare level based on the Sajogyo indicator show that 37 percent of household

    are in moderate and 63 percent are in decent living class, while the BPS poverty

    line shows that all of households are classified as non-poor. The level of

    household welfare of ex-plasma PT Centralpertiwi Bahari is influenced by

    household income, and household dependents.

    Key words: income, vaname shrimp cultivator, welfare.

  • ABSTRAK

    ANALISIS PENDAPATAN DAN TINGKAT KESEJAHTERAAN

    RUMAH TANGGA PETAMBAK UDANG VANAME EKS PLASMA

    PT CENTRALPERTIWI BAHARI DESA BRATASENA ADIWARNA

    KECAMATAN DENTE TELADAS KABUPATEN TULANG BAWANG

    Oleh

    Cindy Puri Andini

    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan rumah tangga,

    kesejahteraan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan rumah tangga

    petambak udang vaname eks plasma PT Centralpertiwi Bahari. Metode penelitian

    yang digunakan adalah metode survai. Data penelitian ini dikumpulkan di Desa

    Bratasena Adiwarna pada bulan Februari 2018. Sampel dalam penelitian ini

    adalah 70 rumah tangga pembudidaya udang vaname yang diperoleh dengan

    menggunakan proporsional random sampling. Pendapatan rumah tangga terdiri

    dari pendapatan udang, nonudang, off farm dan nonfarm. Tingkat kesejahteraan

    rumah tangga dianalisis dengan kriteria Sajogyo dan garis kemiskinan menurut

    BPS (Badan Pusat Statistik) Provinsi Lampung tahun 2017. Faktor-faktor yang

    mempengaruhi kesejahteraan rumah tangga dianalisis dengan regresi logistik

    biner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan hasil budi daya

    udang per 0,5 ha tambak pada periode I, II, dan III berturut-turut adalah

    Rp7.986.264, Rp13.868.109, dan Rp27.334.963. Rata-rata pendapatan rumah

    tangga petambak udang adalah Rp64.902.569,00 per tahun, yang diperoleh dari 70

    persen pendapatan udang, 10 persen pendapatan nonudang, 2 persen pendapatan

    off farm, dan 18 persen dari pendapatan nonfarm. Tingkat kesejahteraan rumah

    tangga berdasarkan indikator Sajogyo menunjukkan bahwa 37 persen rumah

    tangga berada pada golongan cukup dan 63 persen berada pada golongan hidup

    layak, sementara garis kemiskinan BPS menunjukkan bahwa semua rumah tangga

    petambak tergolong sebagai masyarakat tidak miskin. Tingkat kesejahteraan

    rumah tangga eks plasma PT Centralpertiwi Bahari dipengaruhi oleh pendapatan

    rumah tangga, dan jumlah tanggungan keluarga.

    Kata kunci: pendapatan, petambak udang vaname, kesejahteraan

  • ANALISIS PENDAPATAN DAN TINGKAT KESEJAHTERAAN

    RUMAH TANGGA PETAMBAK UDANG VANAME EKS PLASMA

    PT CENTRALPERTIWI BAHARI DESA BRATASENA ADIWARNA

    KECAMATAN DENTE TELADAS KABUPATEN TULANG BAWANG

    Oleh

    CINDY PURI ANDINI

    Skripsi

    Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar

    SARJANA PERTANIAN

    Pada

    Jurusan Agribisnis

    Fakultas Pertanian Universitas Lampung

    FAKULTAS PERTANIAN

    UNIVERSITAS LAMPUNG

    BANDAR LAMPUNG

    2018

  • RIWAYAT HIDUP

    Penulis dilahirkan di Sidodadi pada tanggal 5 Agustus 1996

    dari pasangan Bapak Sunarto dan Ibu Sri Harsini, merupakan

    anak pertama dari dua bersaudara. Studi tingkat Taman

    Kanak-Kanak (TK) diselesaikan pada tahun 2002 di TK

    Bratasena Adiwarna Kecamatan Dente Teladas, tingkat

    Sekolah Dasar (SD) di SD Negeri 1 Griklopomulyo Sekampung pada tahun 2008,

    Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMP Negeri 3 Metro pada tahun 2011, dan

    Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMA Negeri 3 Metro pada tahun 2014.

    Diterima di Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada

    tahun 2014 melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri

    (SBMPTN).

    Selama menjadi mahasiswa di Universitas Lampung, penulis pernah menjadi

    anggota Bidang Akademik dan Pengembangan Profesi Himpunan Mahasiswa

    Sosial Ekonomi Pertanian tahun 2014-2016. Pengalaman kerja yang pernah

    ditempuh adalah menjadi asisten dosen mata kuliah Sosiologi Pertanian pada

    Semester Genap tahun ajaran 2015/2016, mata kuliah Pengembangan Masyarakat

    dan Dasar-dasar Akuntansi pada Semester Ganjil 2016/2017, mata kuliah

    Manajemen Agribisnis pada Semester Ganjil 2017/2018, serta mata kuliah

    Analisis Usaha Perkebunan pada pada Semester Genap tahun ajaran 2017/2018.

  • Pada Januari 2017, melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Tanjung

    Harapan Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah selama 40 hari.

    Selanjutnya, pada Juli 2017, Praktik Umum (PU) dilaksanakan di PT

    Centralpertiwi Bahari Feedmill Kecamatan Tanjung Bintang Kabupaten Lampung

    Selatan. Penulis pernah menjadi Surveyor Pemantauan Harga, dan Surveyor

    Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Bank Indonesia periode Januari-April

    2018.

  • SANWACANA

    Bismillahirahmanirrahim

    Alhamdulillahirabbil’alamin puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah

    melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya sehingga penulis dapat

    menyelesaikan skripsi yang berjudul Analisis Pendapatan Dan Tingkat

    Kesejahteraan Rumah Tangga Petambak Udang Vaname Eks Plasma PT

    Centralpertiwi Bahari Desa Bratasena Adiwarna Kecamatan Dente Teladas

    Kabupaten Tulang Bawang.

    Skripsi ini dapat terselesaikan berkat bantuan, arahan, bimbingan, dan dukungan

    dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan

    terima kasih kepada:

    1. Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si., selaku Dekan Fakultas Pertanian

    Universitas Lampung.

    2. Dr. Teguh Endaryanto, S.P., M.Si. selaku Ketua Jurusan Agribisnis Fakultas

    Pertanian Universitas Lampung, yang telah membantu selama masa

    perkuliahan.

    3. Dr. Ir. Wuryaningsih Dwi Sayekti, M.S., sebagai Dosen Pembimbing Pertama

    yang telah memberikan arahan, nasihat, motivasi, dan bimbingan selama

    proses penyelesaian skripsi.

  • 4. Dr. Ir. Fembriarti Erry Prasmatiwi, M.P., sebagai Dosen Pembimbing Ke dua,

    yang telah memberikan arahan, nasihat, motivasi, dan bimbingan selama

    proses penyelesaian skripsi.

    5. Dr. Ir. Dyah Aring Hepiana Lestari, M.Si. sebagai Dosen Penguji atas saran

    dan arahan yang telah diberikan untuk penyempurnaan skripsi ini.

    6. Bapak Dr. Ir. Tubagus Hasanuddin, M.S., selaku Dosen Pembimbing

    Akademik atas segala bantuan, saran dan motivasi yang telah diberikan.

    7. Keluargaku tercinta, Ayahanda Sunarto dan Ibunda Sri Harsini, adik ku

    Chelina Diah Palupy, serta keluarga besar Temon atas semua limpahan kasih

    sayang, doa, nasihat, dukungan baik materi maupun nonmateri, serta

    perhatian yang tak pernah putus kepada penulis selama ini.

    8. Seluruh Dosen Jurusan Agribisnis, atas semua ilmu yang telah diberikan

    selama penulis menjadi mahasiswi di Universitas Lampung.

    9. Karyawan-karyawati di Jurusan Agribisnis, Mba Ayi, Mba Tunjung, Mba Iin,

    Mas Bukhari, dan Mas Boim atas semua bantuan dan kerjasama yang telah

    diberikan.

    10. Bapak Sudarsono, Ibu Sunarti, Ibu Anastasia, dan Aditya Saputra atas semua

    bantuan dan izin yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

    ini.

    11. Yuda Helmi, S.T., teman hidup yang telah memberikan dukungan dalam

    segala hal untuk penulis dalam mengerjakan skripsi ini.

    12. Sahabat tersayang Faakhira Nadia Syakina, S.P. yang telah menemani penulis

    dalam suka dan duka.

  • 13. Dayu Iluh Setianingtias, S.P. dan Rana Cindi Minartha, S.P. yang telah

    membantu penulis menghadapi segala kesulitan dalam proses mengerjakan

    skripsi ini.

    14. Keluarga Pangestu, Faakhira, Fabiola, Ekawati, Ajeng, Dayu, Nomu, Danang,

    Abu, Ade, Aji, dan Dete atas bantuan, saran, dukungan, dan semangat yang

    telah diberikan.

    15. Sahabat-sahabat seperjuangan Agribisnis 2014, Tuti, Devira, Aurora, Defline,

    Dewi Lestari, Bela, Kiki, Nur, Asih, Anggel, Ayu Nirmala, Dela, Dwi

    Febrina, Alvita, Dian Widya, Rizky Dalimunthe, Arum, Novi, Dea, Hafia,

    Anton, Aryan, Koko, Nando, Rangga dan sahabat lainnya yang tidak dapat

    disebutkan satu persatu, terima kasih atas kebersamaannya selama ini.

    16. Kakak-kakak Agribisnis angkatan 2012 dan 2013 serta adik-adik Agribisnis

    angkatan 2015, 2016, dan 2017 atas bantuan dan saran yang telah diberikan.

    17. Almamater tercinta dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu

    per satu, yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi.

    Skripsi ini tidak terlepas dari kesalahan dan masih jauh dari kata sempurna, akan

    tetapi semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak di masa

    yang akan datang. Penulis meminta maaf atas segala kekurangan dan semoga

    Allah SWT membalas budi baik berbagai pihak atas semua hal yang telah

    diberikan kepada penulis. Aamiin.

    Bandar Lampung, November 2018Penulis,

    Cindy Puri Andini

  • DAFTAR ISI

    Halaman

    DAFTAR TABEL………………………………………………………… iv

    DAFTAR GAMBAR…………………………………………………....... viii

    I. PENDAHULUAN………………………………………………….. 1

    A. Latar Belakang…………………………………………………. 1

    B. Tujuan Penelitian………………………………………………. 6

    C. Manfaat Penelitian…………………………………………....... 6

    II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN

    HIPOTESIS………………………………………………...………. 7

    A. Tinjauan Pustaka……………………………………………….. 7

    1. Budi Daya Udang Vaname…………………………………. 7 2. Potensi Bisnis Udang Vaname……………………………… 11 3. Konsep Usahatani…………………………………………... 13 4. Analisis Pendapatan………………………………………… 16 5. Kontribusi Pendapatan Udang terhadap Pendapatan Rumah

    Tangga………………………………………………………

    19

    6. Teori Kesejahteraan………………………………………… 20 7. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesejahteraan…………. 27 B. Kajian Penelitian Terdahulu…………………………………… 30

    C. Kerangka Pemikiran…………………………………………… 36

    D. Hipotesis……………………………………………………….. 39

    III. METODE PENELITIAN…………………………………………… 40

    A. Metode, Lokasi, dan Waktu Penelitian………………………… 40

    B. Definisi Operasional…………………………………………… 41

    C. Populasi, Unit Analisis, dan Responden………………………. 46

    D. Teknik Sampling……………………………………………….. 48

    E. Jenis dan Metode Pengumpulan Data………………………….. 49

    F. Metode Analisis Data………………………………………….. 49

    1. Pendapatan Udang, Pendapatan Rumah Tangga Petambak, dan Kontribusi Pendapatan Udang terhadap Pendapatan

    Rumah Tangga………………………………………………

    50

  • 2. Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga……………………... 52 3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesejahteraan Rumah

    Tangga………………………………………………………

    54

    IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN…………………… 57

    A. Gambaran Umum Kecamatan Dente Teladas………………….. 57

    1. Keadaan Geografis Kecamatan Dente Teladas……………... 57 2. Keadaan Demografis Kecamatan Dente Teladas…………... 58 3. Keadaan Pertanian di Kecamatan Dente Teladas…………... 59 B. Gambaran Umum Desa Bratasena Adiwarna………………….. 60

    1. Keadaan Geografis Desa Bratasena Adiwarna……………... 60 2. Keadaan Demografis Desa Bratasena Adiwarna………….... 61 3. Keadaan Perikanan di Desa Bratasena Adiwarna…………... 62

    V. HASIL DAN PEMBAHASAN……………………………………... 66

    A. Karakteristik Responden………………………………………. 66

    1. Usia Responden dan Pendidikan…………………………… 66 2. Pengalaman Budi Daya…………………………………….. 68 3. Jumlah Tanggungan Rumah Tangga dan Pekerjaan

    Sampingan…………………………………………………..

    69

    4. Jumlah dan Status Kepemilikan Tambak…………………… 70 B. Usaha Budi Daya Udang Vaname……………………………... 71

    1. Persiapan Tambak…………………………………………... 72 2. Pengisian Air……………………………………………….. 72 3. Persiapan Tebar Benih Udang……………………………… 73 4. Penebaran Benih Udang……………………………………. 73 5. Pemeliharaan………………………………………………... 74 6. Panen dan Pasca Panen……………………………………... 75 C. Analisis Pendapatan Usaha Budi Daya Udang Vaname di Desa

    Bratasena Adiwarna……………………………………………

    76

    1. Penggunaan Faktor Produksi dan Analisis Biaya………….. 76 a. Benih udang ……………………………………………... 76

    b. Pakan dan Kapur………………………………………… 78

    c. Obat-obatan……………………………………………… 82

    d. Tenaga Kerja…………………………………………….. 91

    e. Penyusutan Peralatan…………………………………….. 94

    f. Biaya Lain-lain…………………………………………… 98

    2. Produksi dan Penerimaan…………………………………... 101 3. Pendapatan Usaha Budi Daya Udang……………………… 106 D. Pendapatan Rumah Tangga Petambak Udang Vaname……….. 111

    1. Pendapatan Usahatani Nonudang………………………….. 112 2. Pendapatan Off Farm ……………………………………… 116 3. Pendapatan Nonfarm ………………………………………. 117 4. Pendapatan Rumah Tangga Petambak……………………... 118 E. Analisis Pengeluaran dan Tingkat Kesejahteraan

    Rumah Tangga Petambak Udang Vaname di ………………….

    120

  • Desa Bratasena Adiwarna……………………………………… 120

    1. Pengeluaran Rumah Tangga Petambak Udang Vaname Di Desa Bratasena Adiwarna…………………………………...

    120

    2. Pengeluaran Lain…………………………………………… 125 3. Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Petambak…….……. 123 F. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kesejahteraan

    Rumah Tangga Petambak Udang Vaname……………………..

    129

    G. Pendapat Responden terhadap Perbandingan Kesejahteraan

    Saat Mitra dan Mandiri…...…………………….........................

    133

    VI. KESIMPULAN DAN SARAN…………………………………….. 142

    A. Kesimpulan…………………………………………………….. 142

    B. Saran…………………………………………………………… 143

    DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………….. 144

    LAMPIRAN……………………………………………………………… 150

  • DAFTAR TABEL

    Tabel Halaman

    1 Produksi perikanan budi daya tambak menurut jenis ikan, 2016...….... 2

    2 Penelitian Terdahulu ………………………………………………...... 31

    3 Data jumlah petambak aktif Desa Bratasena Adiwarna …………….... 47

    4 Sebaran responden petambak aktif .…………………………………... 48

    5 Luas wilayah, jumlah, dan kepadatan pendudukKecamatan Dente Teladas …………………………………..………... 59

    6 Sebaran penduduk Desa Bratasena Adiwarna menurut usia tahun2017………………………………………………………………........ 62

    7 Sebaran responden petambak udang vaname berdasarkan kelompokusia di Desa Bratasena Adiwarna……………………………………... 67

    8 Sebaran responden petambak udang vaname berdasarkan tingkatpendidikan di Desa Bratasena Adiwarna……………………………... 68

    9 Sebaran responden petambak udang vaname berdasarkan pengalamanbudi daya di Desa Bratasena Adiwarna………………………………. 68

    10 Sebaran responden petambak udang vaname berdasarkan jumlahtanggungan rumah tangga…………………………………………….. 69

    11 Sebaran responden petambak udang vaname berdasarkan pekerjaansampingan …………………………………………………………….. 70

    12 Jumlah benih udang vaname yang ditebar petambak di DesaBratasena Adiwarna …………………………....................................... 77

    13 Penggunaan pakan dan Biaya pakan udang vaname di Desa BratasenaAdiwarna...……………………………………….………… 79

    14 Penggunaan dan biaya kapur pada budi daya udang vaname di DesaBratasena Adiwarna ………………………………………...………… 80

  • v

    15 Penggunaan dan biaya Bintan pada budi daya udang vaname di DesaBratasena Adiwarna.……………………………………………….….. 83

    16 Penggunaan dan biaya kupri sulfat pada budi daya udang vaname diDesa Bratasena Adiwarna ….................................................................. 84

    17 Penggunaan dan biaya probiotik pada budi daya udang vaname diDesa Bratasena Adiwarna …….............................................................. 86

    18 Penggunaan dan biaya Super Ps pada budi daya udang vaname diDesa Bratasena Adiwarna……............................................................... 87

    19 Penggunaan dan biaya Klorin pada budi daya udang vaname di DesaBratasena Adiwarna ………................................................................... 88

    20 Penggunaan dan biaya pondfos pada budi daya udang vaname di DesaBratasena Adiwarna …………………………………………………... 89

    21 Penggunaan dan biaya saponin pada budi daya udang vaname di DesaBratasena Adiwarna ……………….………………………………….. 90

    22 Penggunaan tenaga kerja budi daya udang vaname di Desa BratasenaAdiwarna per 0,5 ha tambak ………..…………………………..…….. 93

    23 Total penggunaan tenaga kerja budi daya udang vaname di DesaBratasena Adiwarna per 0,5 ha tambak …………………...………….. 93

    24 Rata-rata penyusutan peralatan budi daya udang vaname di DesaBratasena Adiwarna per 0,5 ha….…………………………………….. 94

    25 Biaya solar dan air pada budi daya udang vaname di Desa BratasenaAdiwarna ……………………………………………………………… 98

    26 Biaya penjualan, transportasi, dan pajak pada budi daya udang diDesa Bratasena Adiwarna ……....…………………………………….. 99

    27 Total biaya budi daya udang vaname di Desa Bratasena Adiwarna…... 100

    28 Usia pemeliharaan dan harga jual udang vaname di Desa BratasenaAdiwarna ……………………..………………………………………. 102

    29 Produksi, harga jual, produktivitas, dan penerimaan udang vaname diDesa Bratasena Adiwarna..... …………………………………………. 103

    30 Penerimaan usaha budi daya udang vaname di Desa BratasenaAdiwarna …………………………..…………………………………. 106

    31 Pendapatan dan R/C rasio budi daya udang vaname di Desa Bratasena

  • vi

    Adiwarna periode I………..………………………………………….. 108

    32 Pendapatan dan R/C rasio budi daya udang vaname di DesaBratasena Adiwarna periode II…………………………..…………… 109

    33 Pendapatan dan R/C rasio budi daya udang vaname di Desa BratasenaAdiwarna periode III……...………………………………………….. 110

    34 Pendapatan usahatani nonudang rumah tangga petambak di DesaBratasena Adiwarna …….……….……………………………………. 112

    35 Pendapatan off farm rumah tangga petambak udang vaname di DesaBratasena Adiwarna …………………………….…………………….. 116

    36 Pendapatan nonfarm rumah tangga petambak udang vaname di DesaBratasena Adiwarna ………………………………………………… 117

    37 Pendapatan rumah tangga petambak udang vaname diDesa Bratasena Adiwarna…………………………………………….. 118

    38 Rata-rata pengeluaran rumah tangga petambak udang vaname diDesa Bratasena Adiwarna…………………….……………………….. 122

    39 Hasil regresi logistik faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraanrumah tangga petambak udang vaname di Desa BratasenaAdiwarna………………………………………………………………. 130

    40 Perbandingan kegiatan budi daya udang dan kesejahteraan petambakdi Desa Bratasena Adiwarna saat mitra dan mandiri………………….. 134

    41 Identitas responden dan anggota keluarga petambak udang vaname diDesa Bratasena Adiwarna ….….……………………………………… 151

    42 Luas, kepemilikan, dan harga sewa tambak di Desa BratasenaAdiwarna …………………………...….……………………………… 159

    43 Total biaya budi daya udang vaname di Desa Bratasena Adiwarnaperiode I (Rp/periode)………....….…………………………………... 163

    44 Total biaya budi daya udang vaname di Desa Bratasena Adiwarnaperiode II………………………….…………………………………… 170

    45 Total biaya budi daya udang vaname di Desa Bratasena Adiwarnaperiode III……………………...….…………………………………... 178

    46 Biaya penyusutan budi daya udang vaname di Desa BratasenaAdiwarna (Rp / tahun)……………………………………………….... 186

  • vii

    47 Usia panen dan persentase kematian udang vaname di Desa BratasenaAdiwarna …………………..…………………………………………. 201

    48 Produksi, produktivitas, dan penerimaan usaha budi daya udangvaname di Desa Bratasena Adiwarna…………………………………. 205

    49 Pendapatan usaha budi daya udang vaname di Desa BratasenaAdiwarna ………………………….……………………………….….. 213

    50 Pendapatan nonudang rumah tangga petambak udang vanamedi Desa Bratasena Adiwarna……………………………...………….... 221

    51 Pendapatan off farm rumah tangga petambak udang vaname di DesaBratasena Adiwarna…………………………………………………... 249

    52 Pendapatan nonfarm rumah tangga petambak udang vaname di DesaBratasena Adiwarna…………………………………………………… 253

    53 Pendapatan rumah tangga petambak udang vaname di Desa BratasenaAdiwarna………………………………………………………………. 257

    54 Pengeluaran rumah tangga petambak udang vaname di DesaBratasena Adiwarna (Rp/tahun)………………………………………. 261

    55 Investasi rumah tangga petambak udang vaname di Desa BratasenaAdiwarna………………………………………………………………. 276

    55 Tingkat kesejahteraan petambak udang vaname di Desa BratasenaAdiwarna berdasarkan indikator Sajogyo (1996)………...................... 280

    56 Faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan rumah tanggapetambak udang vaname di Desa Bratasena Adiwarna……………….. 284

    57 Hasil regresi binary logit faktor-faktor yang mempengaruhikesejahteraan rumah tangga petambak udang vanamedi Desa Bratasena Adiwarna…………………………………………... 288

  • DAFTAR GAMBAR

    Gambar Halaman

    1 Kerangka pemikiran analisis pendapatan dan kesejahteraan rumahtangga eks plasma PT Centralpertiwi BahariDesa Bratasena Adiwarna Kecamatan Dente Teladas………………... 38

    2 Peta administrasi Kecamatan Dente Teladas………………………..... 58

    3 Pola budi daya udang vaname di Desa Bratasena Adiwarna………… 71

    4 Tambak udang vaname di Desa Bratasena Adiwarna………………... 71

    5 Persentase biaya pada budi daya udang vaname diDesa Bratasena Adiwarna……………………………………………. 101

    6 Sumber pendapatan rumah tangga petambak udang vaname diDesa Bratasena Adiwarna……………………………………………. 119

    7 Golongan kesejahteraan petambak udang vaname diDesa Bratasena Adiwarna menurut indikator Sajoogyo (1996)(n=70)……………………………………………………………….... 128

  • I. PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Sektor pertanian menjadi sumber pendapatan utama bagi mayoritas penduduk

    Indonesia. Subsektor perikanan merupakan salah satu dari subsektor pertanian

    yang memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan di Indonesia. Menurut

    Badan Pusat Statistik (BPS) (2015a) pengembangan subsektor perikanan terbagi

    atas perikanan budi daya dan perikanan tangkap. Usaha perikanan budi daya

    terdiri dari budi daya laut, tambak, kolam, keramba, jaring apung, jaring tancap,

    dan sawah. Produksi perikanan budi daya terbesar di Indonesia adalah budi daya

    laut yang diikuti oleh tambak sebagai produksi terbesar kedua dengan jumlah

    berturut-turut 2.498.963 ton dan 10.174.024 ton per tahun. Di Provinsi Lampung,

    produksi perikanan budi daya terbesar dihasilkan oleh kolam dan tambak sebagai

    produksi terbesar kedua dengan jumlah produksi berturut-turut 55.350 ton dan

    53.076 ton per tahun.

    Budi daya tambak menjadi salah satu mata pencaharian terbesar di Provinsi

    Lampung. Kabupaten Tulang Bawang menjadi sentra produksi usaha tambak

    dengan jumlah produksi 28.204 ton per tahun (BPS Provinsi Lampung, 2016).

    Komoditas perikanan tambak yang dibudidayakan di Kabupaten Tulang Bawang

    adalah udang windu dan udang vaname. Menurut Kementerian Kelautan dan

  • 2

    Perikanan (2012) udang vaname memiliki pasaran yang luas di Internasional dan

    mudah dibudidayakan di Indonesia. Provinsi Lampung menjadi sentra penghasil

    produksi udang vaname terbesar di Indonesia dengan jumlah produksi 72.051 ton

    per tahun (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2013). Menurut Dinas Kelautan

    dan Perikanan Provinsi Lampung (2016), Kabupaten Tulang Bawang menjadi

    penyumbang produksi udang vaname terbesar bagi Provinsi Lampung dengan

    nilai produksi 27.440 ton. Jumlah poduksi ini jauh lebih besar bila dibandingkan

    dengan kabupaten lainnya. Hasil produksi udang vaname tahun 2016 disajikan

    dalam Tabel 1.

    Tabel 1. Produksi perikanan budi daya tambak menurut jenis ikan, 2016

    Kabupaten *)Udang (ton)

    UdangWindu

    UdangPutih

    UdangVaname

    UdangKrosok Jumlah

    Tanggamus - - 2.247,00 - 2.247,00

    Lampung Selatan 175,41 - 10.862,48 - 11.038,00

    Lampung Timur 382,49 60,15 1.481,27 55,05 1.979,00

    Tulang Bawang 253,30 - 27.440,00 - 27.693,00

    Pesawaran - - 10.214,00 - 10.214,00

    Pesisir Barat - - 2.908,50 - 2.908,50

    Lampung 811,20 60,15 55.152,75 55,05 56.079,00

    Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung, 2016.

    Keterangan: *) Hanya kabupaten yang memproduksi udang.

    Kecamatan Dente Teladas merupakan salah satu dari kecamatan yang ada di

    Kabupaten Tulang Bawang yang memproduksi udang vaname. Jumlah produksi

    udang vaname di Kecamatan Dente Teladas adalah 1.200 ton per tahun dengan

    jumlah plasma 2.127 orang (BPS Kabupaten Tulang Bawang, 2016). Pada tahun

    1994 sampai dengan 2016 petambak melakukan kemitraan dengan perusahaan.

  • 3

    Salah satu perusahaan yang menjalin hubungan mitra dengan plasma dalam

    membudidayakan udang vaname adalah PT Centralpertiwi Bahari.

    PT CPB adalah anak perusahaan dari PT Central Proteina Prima (CPP) yang

    bergerak dalam produksi udang beku dan berbagai olahan udang ekspor (CPP,

    2016). Dalam menjalankan kegiatannya, perusahaan ini melakukan kemitraan

    dengan para plasma. Seluruh mitra plasma diberikan subsidi sebagai jaminan

    kehidupan yang layak oleh perusahaan. Subsidi tersebut diantaranya adalah

    rumah, tambak beserta peralatan, beras, sembako, air bersih, listrik, dan gaji

    bulanan. Mitra plasma diperkenankan membawa anggota keluarga ke area

    perusahaan. Gaji yang diterima mitra plasma sesuai dengan upah minimum

    regional, namun apabila panen yang diperoleh mitra plasma melebihi target, maka

    mitra plasma akan mendapatkan bonus berupa uang sebagai reward.

    Berdasarkan informasi yang diperoleh dari petambak udang vaname eks plasma

    PT CPB, pada tahun 2009 terjadi masalah internal di lingkungan perusahaan.

    Masalah ini dimulai dari munculnya penyakit yang menyerang udang sehingga

    terjadi gagal panen di sebagian besar tambak. Berbagai macam penelitian dan

    usaha telah dilakukan perusahaan untuk mengatasi penyakit tersebut namun belum

    membuahkan hasil. Pada tahun 2011 telah ditemukan alternatif untuk mengatasi

    penyakit tersebut, sehingga plasma dapat melakukan budi daya secara normal

    kembali. Namun, di tahun yang sama terjadi aksi demonstrasi terhadap PT CPB

    yang dilakukan oleh para plasma, dimana para plasma menuntut kenaikan gaji dan

    penyetaraan gaji dengan karyawan. PT CPB tidak dapat memenuhi tuntutan dari

    plasma karena kondisi keuangan perusahaan yang belum stabil akibat terjadi

  • 4

    penurunan produksi. Hal ini mengakibatkan terjadinya tindakan kerusuhan dan

    pemberontakan yang disertai dengan kekerasan antara plasma dengan karyawan.

    Upaya penghentian konflik ini telah dilakukan oleh perusahaan, mulai dari

    penangkapan dan penahanan para provokator, serta pemberian insentif kepada

    para plasma. Akan tetapi hal ini tidak menyelesaikan masalah tersebut sehingga

    kondisi ini berlangsung hingga tahun 2016. Hal inilah yang menyebabkan

    perubahan pola budi daya di PT CPB dimana mitra plasma berubah menjadi

    petambak plasma mandiri atau dengan kata lain perusahaan memutuskan

    hubungan kemitraan dengan petambak. Perubahan ini dilakukan untuk menjaga

    kelangsungan budidaya di wilayah tersebut. PT CPB membebaskan pola budi

    daya dan sistem pemasaran udang vaname di lokasi tersebut. Namun, perusahaan

    membuka kesempatan untuk para petambak yang ingin menjual hasil produksinya

    ke perusahaan untuk diekspor (Market.bisnis, 2016).

    Perubahan pola budi daya menyebabkan perubahan penggunaan sarana produksi.

    Petambak harus mengeluarkan biaya pribadi untuk memenuhi kebutuhan sarana

    produksi. Kondisi perekomomian petambak mempengaruhi ketersediaan sarana

    produksi. Semakin tinggi perekonomian petambak maka semakin besar

    kemungkinan terpenuhinya sarana produksi, namun semakin rendah

    perekonomian petambak maka faktor-faktor produksi tidak dapat tersedia secara

    maksimal. Hal ini akan berdampak pada hasil produksi udang sehingga dapat

    mempengaruhi penerimaan petambak. Apabila produksi yang dihasilkan semakin

    besar maka penerimaan akan semakin tinggi. Besarnya penerimaan akan

    berakibat pada pendapatan yang diperoleh petambak. Semakin rendah biaya yang

  • 5

    dikeluarkan serta tingginya penerimaan petambak akan berakibat pada tingginya

    pendapatan. Pendapatan rumah tangga petambak diperoleh dari pendapatan

    udang, pendapatan usahatani di luar budi daya udang, dan pendapatan dari

    kegiatan di luar sektor pertanian. Besarnya pendapatan rumah tangga akan

    berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan. Menurut Sajogyo (1996) tingkat

    kesejahteraan diukur berdasarkan persentase pengeluaran rumah tangga yang

    disetarakan dengan nilai tukar beras per kapita per tahun sesuai dengan harga

    beras rata-rata daerah tersebut.

    Petambak udang di Desa Bratasena Adiwarna Kecamatan Dente Teladas

    mengandalkan hasil panen udang vaname sebagai pendapatan utama sehingga

    menjadi faktor utama dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan

    petambak. Oleh karena itu apakah pemberhentian hubungan kemitraan dan

    subsidi sembako dari PT CPB akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan eks

    plasma PT CPB, maka perlu dilakukan penelitian pendapatan dan tingkat

    kesejahteraan dengan menganalisis pendapatan dan pengeluaran rumah tangga.

    Berdasarkan latar belakang tersebut maka disusun rumusan masalah sebagai

    berikut:

    (1) Berapa pendapatan usaha budi daya udang vaname eks plasma

    PT Centralpertiwi Bahari?

    (2) Berapa pendapatan rumah tangga petambak udang vaname eks plasma

    PT Centralpertiwi Bahari?

    (3) Bagaimana tingkat kesejahteraan rumah tangga petambak udang vaname eks

    plasma PT Centralpertiwi Bahari?

  • 6

    (4) Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan rumah

    tangga petambak udang vaname eks plasma PT Centralpertiwi Bahari?

    B. Tujuan Penelitian

    Tujuan penelitian ini adalah untuk:

    (1) Menghitung pendapatan usaha budi daya udang vaname eks plasma

    PT Centralpertiwi Bahari.

    (2) Menghitung pendapatan rumah tangga petambak udang vaname eks plasma

    PT Centralpertiwi Bahari.

    (3) Menganalisis tingkat kesejahteraan rumah tangga petambak udang vaname

    eks plasma PT Centralpertiwi Bahari.

    (4) Mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan rumah

    tangga petambak udang vaname eks plasma PT Centralpertiwi Bahari.

    C. Manfaat Penelitian

    Penelitian ini diharapkan berguna bagi:

    (1) Plasma sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan usaha dalam

    meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan.

    (2) Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang sebagai bahan pertimbangan untuk

    menetapkan kebijakan ekonomi sub sektor perikanan.

    (3) Peneliti lain sebagai referensi bagi penelitian dalam bidang yang sejenis dan

    menyempurnakan penelitian ini.

  • II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

    A. Tinjauan Pustaka

    1. Budi Daya Udang Vaname

    Menurut Rusmiyati (2017), udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan

    spesies introduksi yang dibudidayakan di Indonesia. Udang vaname berasal dari

    Perairan Amerika Tengah. Di Indonesia, udang vaname mulai dibudidayakan

    secara besar mulai awal tahun 2000-an dengan menunjukkan hasil yang baik.

    Dalam habitatnya, udang dewasa mencapai usia 1,5 tahun. Dalam kondisi budi

    daya, udang vaname hidup mendiami seluruh kolam air, dari dasar hingga lapisan

    permukaan. Sifat inilah yang memungkinkan udang tersebut dipelihara di tambak

    dalam keadaan padat.

    Udang vaname membutuhkan makanan dengan kandungan protein sekitar 35%

    lebih kecil jika dibandingkan dengan udang Asia seperti Penaeus monodon dan

    Penaeus japonicas yang membutuhkan pakan dengan kandungan protein hingga

    45 persen, sehingga akan berpengaruh terhadap harga pakan dan biaya produksi.

    Masa pemeliharaan udang vaname relatif cepat yaitu sekitar 100 sampai 110 hari.

    Udang vaname dapat dibudidayakan secara intensif dan tradisional (Rusmiyati,

    2017). Berikut adalah teknis budi daya udang vaname.

  • 8

    a. Persiapan tambak

    Persiapan ini meliputi proses pengeringan atau pengolahan tanah dasar,

    pemberantasan hama, pengapungan dan pemupukan, serta pengisian air. Air dan

    genangan air yang ada di tambak harus dipompa keluar. Selanjutnya tambak

    dikeringkan untuk membunuh bakteri pathogen yang ada di pelataran tambak.

    Kemudian ikan-ikan yang ada di tambak perlu diberantas. Untuk menunjang

    perbaikan kualitas tanah dan air dilakukan pemberian kapur bakar 1000 kg per ha,

    dan kapur pertanian 320 kg per ha, serta dilakukan pemupukan dengan pupuk urea

    150 kg per ha dan pupuk kandang 2.000 kg per ha. Pengisian air dilakukan

    setelah seluruh persiapan dasar tambak telah selesai. Ketinggian air tersebut

    dibiarkan dalam tambak selama 2 sampai 3 minggu dengan tinggi petak air lebih

    dari satu meter (Rusmiyati, 2017).

    b. Penebaran benih udang (benur)

    Menurut Suliswati (2016) kualitas benur berperan penting pada keberhasilan budi

    daya udang vaname karena akan menentukan kualitas setelah dipanen. Semakin

    tinggi kualitas benur maka hasil panen yang diperoleh cenderung baik. Benur

    vaname untuk budi daya harus sehat. Kriteria benur sehat dapat diketahui dengan

    melakukan observasi berdasarkan pengujian visual mikroskopik dan ketahanan

    benur. Hal tersebut dapat dilihat dari warna, ukuran panjang dan bobot sesuai

    umur.

    Penebaran benih udang vaname dilakukan setelah plankton tumbuh baik (7

    sampai 10 hari) sesudah pemupukan. Kriteria benur yang baik adalah mencapai

    ukuran PL – 10 atau organ insangnya telah sempurna, tubuh benih dan usus

  • 9

    terlihat jelas, dan berenang melawan arus. Padat penebaran untuk pola tradisional

    tanpa pakan tambahan dan hanya mengandalkan pupuk susulan 10 persen dari

    pupuk awal, yaitu 1 sampai 7 ekor per m2, sedangkan apabila menggunakan pakan

    tambahan pada bulan ke dua pemeliharaan, maka disarankan padat tebar 8 sampai

    10 ekor per m2 (Rusmiyati, 2017).

    c. Pemeliharaan

    Pemenuhan kebutuhan nutrisi udang vaname menjadi hal utama dalam proses

    pemeliharaan. Nutrisi yang diperlukan udang vaname antara lain protein, lemak,

    vitamin, dan asam amino esensial. Pemberian pakan berbentuk pellet dapat

    dilakukan sejak benur ditebar hingga udang siap panen. Frekuensi pemberian

    pakan dapat diperhitungkan berdasarkan sifat nokturnal udang vaname sehingga

    akan diperoleh nilai konversi yang ideal. Pelet udang dibedakan dengan

    penomoran yang berbeda sesuai dengan pertumbuhan udang yang normal.

    1) umur 1-10 hari pakan 01,

    2) umur 11-15 hari campuran pakan 01 dan 02,

    3) umur 16-30 hari pakan 02,

    4) umur 30-35 hari campuran pakan 02 dan 03,

    5) umur 36-50 hari pakan 03,

    6) umur 51-55 campuran pakan 03 dengan 04 atau 04S (jika memakai 04S,

    diberikan hingga umur 70 hari), dan

    7) umur 55 hingga panen pakan 04, jika pada umur 85 hari ukuran rata-rata

    mencapai 50, digunakan pakan 05 hingga panen.

  • 10

    Kebutuhan pakan awal untuk setiap 100.000 ekor benur adalah 1 kg, selanjutnya

    tiap 7 hari sekali ditambah 1 kg hingga umur 30 hari. Mulai umur tersebut

    dilakukan cek ancho dengan jumlah pakan di ancho 10% dari pakan yang

    diberikan. Waktu angkat anco untuk size 1000-166 adalah 3 jam, size 166-40

    adalah 2,5 jam, dan kurang dari 40 adalah 1,5 jam dari pemberian pakan

    (Suliswati, 2016). Selama pemeliharaan, dilakukan monitoring kualitas air

    meliputi suhu, salinitas, transparasi, pH dan kedalaman air dan oksigen setiap hari.

    Selain itu, juga dilakukan pemberian pupuk urea susulan dan hasil fermentasi

    probiotik setiap seminggu sebanyak 5 sampai 10 persen dari pupuk awal (urea 150

    kg per ha).

    Pengapuran susulan dengan dolomit super dilakukan apabila pH berfluktuasi.

    Pakan diberikan pada hari ke 70 dimana pada saat tersebut dukungan pakan alami

    sudah berkurang. Dosis pakan yang diberikan 5 sampai 2 persen dari biomassa

    udang dengan frekuensi pemberian 3 kali per hari yakni 30 persen pada pukul

    07.00 dan 16.00 serta 40 persen pada pukul 22.00. Pergantian air yang pertama

    kali dilakukan setelah udang berumur lebih dari 60 hari dengan volume pergantian

    10 persen dari volume total, sedangkan pada bukaan berikutnya hingga panen,

    volume pergantian air ditingkatkan mencapai 15- sampai 20 persen pada setiap

    periode pasang (Rusmiyati, 2017).

    d. Panen

    Panen dilakukan setelah umur pemeliharaan 100 sampai 110 hari dengan berat

    tubuh berkisar antara 16-20 gram per ekor. Pada umumnya panen bisa dilakukan

    kapan saja, tetapi sebaiknya panen dilakukan pada malam hari. Hal ini dilakukan

  • 11

    untuk mengurangi risiko udang ganti kulit selama panen akibat stress. Udang

    yang ganti kulit saat panen akan menurunkan harga jual. Perlakuan sebelum

    panen adalah pemberian kapur dolomit sebanyak 80 kg/ha (tinggi air tambak 1 m),

    dan mempertahankan ketinggian air (tidak ada pergantian air) selama 2 sampai 4

    hari yang bertujuan agar udang tidak mengalami pergantian kulit saat panen. Cara

    panen dilakukan dengan dengan menurunkan volume air secara gravitasi dan

    dibantu pengeringan dengan pompa (Suliswati, 2016).

    2. Potensi Bisnis Udang Vaname

    Menurut Rusmiyati (2017) udang vaname merupakan komoditas yang cukup

    diminati oleh petambak. Kehadiran varietas udang vaname diharapkan tidak

    hanya menambah pilihan bagi petambak tetapi juga menopang kebangkitan usaha

    pertambakan udang di Indonesia. Udang vaname memiliki sejumlah keunggulan

    antara lain lebih tahan penyakit, pertumbuhan lebih cepat, tahan terhadap

    gangguan lingkungan, waktu pemeliharaan udang yang lebih pendek, dan hemat

    pakan. Udang vaname memiliki prospek pasar yang sangat potensial terutama

    pasar ekspor.

    a. Pasar dalam negeri

    Data dari Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan, realisasi

    produksi udang nasional pada 2009 dan 2010 dikisaran 340 ribu ton. Itu artinya

    ada kelebihan produksi udang nasional setelah memenuhi kebutuhan ekspor.

    Kelebihan produksi itu mayoritas diserap pasar dalam negeri. Konsumsi udang

    dalam negeri terus menguat terutama udang ukuran kecil (ukuran 100 ekor per kg)

  • 12

    karena harganya cukup terjangkau. Permintaan udang di pasar dalam negeri

    memang cukup besar. Walaupun harga udang fluktuatif, akan tetapi harga standar

    yang kiranya dapat dijadikan acuan adalah udang vaname ukuran 100 di pasaran

    lokal harganya sekitar Rp 37.000 per kg. Komoditas udang sudah banyak

    dijajakan mulai dari restoran kelas atas, supermarket, sampai kaki lima. Oleh

    karena itu, pasar udang tidak hanya berpatokan pada pasar ekspor, tetapi juga

    potensi dalam negeri sangat besar.

    b. Pasar luar negeri

    Kinerja bisnis udang kedepan akan semakin bersinar. Ada beberapa faktor yang

    mendorong kondusifnya bisnis udang. Pertama, dimasukkannya udang sebagai

    salah satu komoditas utama dari 51 produk perikanan nasional yang memperoleh

    fasilitas bea masuk (BM) ke Jepang. Jepang merupakan Negara tujuan ekspor

    udang nasional terbesar kedua setelah Amerika Serikat (AS) dengan volume

    45.574 ton pada 2005. Ekspor udang ke AS pada tahun 2011 adalah 35.244 ton.

    Sebenarnya Indonesia juga telah mengekspor udang ke China. Namun, jumlahnya

    masih kecil yakni hanya sekitar 5.000 ton pada tahun 2010. Padahal, total

    kebutuhan udang di China selama 2010 adalah 50.000 ton. Saat ini, Thailand dan

    Vietnam adalah negara-negara pengekspor udang terbesar ke China. Penurunan

    produksi udang Indonesia terjadi karena terkendala bebrapa masalah, seperti

    tingkat suku bunga dan masalah keamanan.

    Negara penghasil udang terbesar di dunia tahun 2010 adalah Thailand sebesar

    640.00 ton, lalu disusul China 600.000 ton, dan Vietnam 224.000 ton, sedangkan

    Indonesia hanya menghasilkan udang sebesar 140.000 ton. Apabila dilihat saat

  • 13

    ini, permintaan udang jenis vaname dari Indonesia oleh pasar dunia masih terbuka

    dan prospektif. Pasar Amerika dan Jepang, misalnya, permintaan dari Indonesia

    bahkan mulai menggeser pasar udang windu yang sempat meraih masa keemasan

    pada tahun 1980-an. Namun eksistensi udang windu cendeung menurun karena

    berbagai sebab seperti bibit kurang sehat serta kondisi lingkungan yang terus

    dipacu berproduksi, sehingg hasilnya semakin tidak bisa optimal.

    Hal inilah yang menyebabkan budi daya udang vaname dilakukan secara besar.

    Potensi pasar terhadap udang vaname yang masih luas merupakan tantangan

    sekaligus peluang bagi pengusaha udang nasional untuk memanfaatkannya.

    Namun, upaya untuk meningkatkan ekpor udang tidak bisa hanya mengandalkan

    peran dari penguaahn saja karena kegiatan sektor ini terintegrasi dari hulu ke hilir

    (Rusmiyati, 2017).

    3. Konsep Usahatani dan Budi Daya Udang Tambak

    Menurut Soekartawi (2002) ilmu usahatani biasanya diartikan sebagai ilmu yang

    mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan sumber daya yang ada secara

    efektif dan efisien untuk tujuan memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu

    tertentu. Usahatani yang efektif terjadi apabila produsen dapat mengalokasikan

    sumber daya yang mereka miliki dengan sebaik-baiknya, dan dapat dikatakan

    efisien bila pemanfaatan sumber daya menghasilkan output yang lebih besar

    daripada input.

    Menurut Suratiyah (2006), usahatani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana

    individu mengusahakan dan mengkoodinir faktor-faktor produksi sebagai modal

  • 14

    sehingga memberikan manfaat sebaik-baiknya dan memberikan pendapatan

    semaksimal mungkin. Usahatani adalah ilmu terapan yang membahas atau

    mempelajari bagaimana menggunakan sumber daya secara efisien dan efektif

    pada suatu usaha pertanian agar diperoleh hasil maksimal. Sumber daya tersebut

    adalah lahan, tenaga kerja, modal dan manajemen (Shinta, 2011).

    Usahatani adalah proses pengorganisasian antara faktor produksi berupa lahan,

    tenaga kerja, modal dan manajemen untuk memproduksi komoditas pertanian.

    Pada dasarnya, usahatani merupakan bentuk interaksi antara manusia dan alam

    dimana terjadi saling mempengaruhi antara manusia dan alam sekitarnya

    (Djamali, 2000). Dapat disimpulkan bahwa usahatani merupakan kegiatan

    pengalokasian sumber daya secara efektif untuk menghasilkan output yang besar

    dengan meminimumkan input.

    Budi daya udang ialah usaha pemeliharaan atau pembesaran udang mulai dari

    ukuran benih (benur) sampai menjadi ukuran yang layak dikonsumsi. Kegiatan

    ini biasanya dilakukan di tambak. Tambak merupakan kolam buatan yang

    biasanya terdapat di daerah pantai yang diisi air dan dimanfaatkan sebagai sarana

    budi daya perairan. Secara alami, benih udang masuk ke dalam tambak bersama

    air pasang yang mengairi tambak. Melalui cara alami, produksi udang yang

    diperoleh tidak menentu karena hanya bergantung dari banyak dan sedikit benih

    udang yang ada secara alamiah di laut di sekitar pertambakan. Hal ini

    menyebabkan munculnya inovasi untuk merubah cara budi daya sehingga dapat

    meningkatkan produksi.

  • 15

    Perubahan cara berbudidaya dimulai dengan memilih benih udang yang lekas

    tumbuh dan jenisnya banyak digemari. (berekonomis penting). Kesuburan

    tambak bisa ditingkatkan dengan cara pemupukan dan pengelolaan air yang lebih

    besar sehingga daya dukung untuk memelihara udang lebih baik. Pengendalian

    hama lebih diintensifkan. Konstruksi petakan tambak, konstruksi tanggul dan

    saluran pengairannya diperbaiki sehingga kualitas air tabak dapat dikendalikan

    secara lebih baik dan cocok untuk kehidupan udang yang hendak dipeliharanya.

    Sistem budi daya udang di tambak yang berkembang sekarang dikenal ada tiga

    tingkatan menurut kategori penerapan tehnologi, yaitu tingkat budi daya

    sederhana (tradisional, ekstensif), tingkat budi daya madya (semi intensif), dan

    tingkat budi daya maju (intensif) (Suyanto dan Takarina, 2009).

    Budi daya udang sistem tradisional menggunakan sistem yang masih sangat

    sederhana, sehingga pengelolaannya tidak rumit namun hasil yang diperoleh

    cenderung rendah, kurang lebih 50 sampai 500 kg per ha per musim tebar. Budi

    daya udang sistem semi-intensif atau madya merupakan sistem yang sudah maju.

    Persiapan tambak mengikuti pola umum yaitu pengeringan, pembajakan,

    pemupukan, dan pengapuran. Padat penebaran 40 ekor/m2 untuk udang vaname.

    Untuk pengelolaan air, tambak dilengkapi dengan pompa air dan kincir.

    Pemberian pakan dilakukan secara kontinu sebanyak 2 sampai 3 kali sehari.

    Pakan yang diberikan berupa pelet yang mengandung protein 30 sampai 40

    persen. Pengelolaan yang baik akan berdampak pada hasil produksi yang

    diperoleh. Jumlah produksi tambak semi intensif kurang lebih 2 sampai 3 ton per

    ha per musim tebar.

  • 16

    Budi daya udang secara intensif menerapkan padat penebaran tinggi dan

    pengelolaan optimal. Padat penebaran udang vaname kurang lebih 40 sampai 80

    ekor per m2. Pengelolaan air yang dilakukan sama dengan budi daya semi

    intensif. Pemberian pakan dilakukan 4 sampai 6 kali sehari. Kandungan protein

    yang digunakan sama dengan budi daya semi intensif. Hasil panen yang diperoleh

    kurang lebih 6 sampai 10 ton per ha per musim tebar untuk udang vaname (Kordi,

    2010).

    4. Analisis Pendapatan

    Pendapatan merupakan sumber penghasilan seseorang untuk memenuhi

    kebutuhan sehari–hari dan sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup dan

    penghidupan seseorang secara langsung maupun tidak lagsung (Suroto, 2000).

    Pendapatan petani digolongkan menjadi pendapatan usahatani dan pendapatan

    rumah tangga.

    a. Pendapatan usahatani

    Menurut Soekartawi (2002), pendapatan usahatani adalah selisih antara

    penerimaan dan semua biaya. Penerimaan usahatani adalah perkalian antara

    produksi yang diperoleh dengan harga jual, sedangkan biaya adalah semua

    pengeluaran yang dipergunakan dalam suatu usahatani. Pernyataan penerimaan

    usahatani dapat dituliskan dengan rumus:

    Tri = Yi . Pyi

    Keterangan:

    TR = Total penerimaanY = Produksi yang diperoleh dalam suatu usahatani

  • 17

    PY = Harga Y

    Biaya usahatani dibedakan menjadi dua yaitu biaya tetap dan biaya variabel.

    Biaya tetap adalah segala biaya yang relatif dikeluarkan dalam jumlah yang sama,

    sedangkan biaya variabel adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh

    produksi yang diperoleh. Besarnya biaya akan mempengaruhi pendapatan yang

    dinyatakan dalam rumus:

    π = TR – TC

    π = (y.Py – (xi.Pi)

    Keterangan:

    Pd = Pendapatan usahataniy = OutputPy = Harga outputxi = Faktor produksiPi = Harga faktor produksi

    Menurut Diatin, Arifiyanti, dan Farmayanti (2008), biaya tunai yang dikeluarkan

    untuk budi daya udang vaname meliputi biaya benur, biaya pakan, biaya kapur,

    biaya pupuk, biaya vitamin, biaya probiotik, biaya obat, biaya kerja panen, dan

    biaya solar. Tenaga kerja dalam keluarga, sewa tambak, dan penyusutan alat

    merupakan biaya yang diperhitungkan dalam proses budi daya.

    Menurut Kadariah (2001), pendapatan usahatani dibagi menjadi dua pengertian,

    yaitu pendapatan kotor dan pendapatan bersih. Pendapatan kotor yaitu seluruh

    pendapatan yang diperoleh petani dalam usahatani yang dapat diperhitungkan dari

    hasil penjualan atau pertukaran hasil produksi yang dinilai dalam rupiah.

    Pendapatan bersih yaitu seluruh pendapatan yang diperoleh petani dikurangi

  • 18

    dengan biaya produksi selama proses produksi. Biaya produksi meliputi biaya riil

    tenaga kerja dan biaya riil sarana produksi.

    Usahatani dapat dikatakan berhasil apabila usahatani tersebut dapat membayarkan

    modal dan bunga modal, alat yang digunakan, serta seluruh sarana produksi yang

    digunakan dalam usahatani. Petani sebagai individu yang melakukan usahatani

    menggunakan modal, tenaga, dan berbagai sarana produksi untuk memperoleh

    hasil produksi yang diharapkan. Hasil produksi yang besar diharapkan akan

    memberikan pendapatan yang besar pula (Suratiyah, 2006). Dari beberapa

    penjelasan mengenai pendapatan maka dapat disimpulkan bahwa pendapatan

    usahatani adalah hasil yang biasanya berbentuk sejumlah uang yang diperoleh dari

    pengurangan antara penerimaan dengan biaya yang dikeluarkan untuk produksi

    suatu kegiatan usahatani.

    b. Pendapatan rumah tangga

    Menurut Subandriyo (2016), pendapatan rumah tangga adalah sejumlah uang

    yang diterima oleh anggota keluarga yang melakukan usaha baik dari usahatani,

    nonusahatani, maupun kegiatan lain diluar sektor pertanian. Pendapatan rumah

    tangga adalah pendapatan yang didapatkan oleh suatu rumah tangga yang berasal

    dari pendapatan kepala rumah tangga maupun pendapatan annggota rumah

    tangga. Pendapatan rumah tangga dapat diperoleh dari balas jasa faktor produksi

    tenaga kerja (upah dan gaji, bonus), balas jasa kapital (bunga, bagi hasil) dan

    pendapatan yang diterima dari pemberian dari pihak lain (BPS, 2015).

    Pendapatan rumah tangga pertanian dapat berasal dari usaha pertanian dan usaha

    di luar sektor pertanian seperti perdagangan, industri, pengolahan, pengangkutan,

  • 19

    dan lainnya. Usaha pertanian masih menjadi usaha utama dan sumber pendapatan

    utama bagi sebagian rumah tangga pertanian. Bagi sebagian besar masyarakat

    pedesaan yang memiliki tingkat kontribusi pendapatan yang rendah dari sektor

    pertanian akan berupaya untuk meningkatkan pendapatannya dari luar sektor

    pertanian. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan diluar sektor pertanian tidak lagi

    dianggap sebagai kegiatan sampingan, karena memiliki peranan yang penting

    dalam pendapatan rumah tangga. Pendapatan di luar sektor pertanian telah

    menjadi komponen penting untuk diperhitungkan dalam menyumbang pendapatan

    rumah tangga (Putri, 2011). Definisi menurut beberapa sumber tersebut

    menghasilkan kesimpulan bahwa pendapatan rumah tangga merupakan

    pendapatan yang diperoleh oleh seluruh anggota keluarga yang berasal dari

    usahatani, non usahatani maupun kegiatan diluar sektor pertanian.

    5. Kontribusi Pendapatan Usahatani terhadap PendapatanRumah Tangga

    Kontribusi berasal dari kata contribute yang berarti keikutsertaan, keterlibatan,

    dan sumbangan. Kontribusi dapat berupa materi ataupun tindakan. Kontribusi

    juga dapat diartikan sebagai sumbangan terhadap suatu perkumpulan atau usaha

    yang dijalankan (Ahira, 2012). Menurut Anton (2016), kontribusi adalah

    sumbangan atau besarnya bagian pendapatan yang disumbangkan dari usahatani

    tertentu terhadap total pendapatanrumah tangga. Pada umumnya pendapatan yang

    diperoleh dari matapencaharian utama memiliki kontribusi yang besar terhadap

    pendapatan rumah tangga.

  • 20

    Menurut Bahua (2014) kontribusi pendapatan usahatani adalah besarnya

    pendapatan yang berpengaruh terhadap pendapatan rumah tangga yang dinyatakan

    dalam persen. Analisis kontribusi pendapatan usahatani dilakukan dengan

    membandingkan persentase pendapatan suatu usahatani dengan pendapatan rumah

    tangga. Kontribusi pendapatan yang diberikan oleh sektor pertanian berpengaruh

    terhadap pembangunan ekonomi nasional. Semakin besar kontribusi yang

    diberikan maka pembangunan nasional semakin meningkat. Kontribusi

    pendapatan usahatani terhadap pendapatan rumah tangga dapat ditulis dengan

    rumus:

    Pendapatan usahataniPendapatan rumah tangga

    6. Teori Kesejahteraan

    Kesejahteraan adalah rasa tentram yang dirasakan oleh individu atau kelompok

    akibat terpenuhinya hajat hidup lahir dan batin. Kesejahteraan lahir didasarkan

    pada standar universal yang menyangkut kesehatan, sandang, pangan, dan papan,

    sedangkan kesejahteraan batin menyangkut persepsi yang bersifat intelektual,

    emosional, maupun spiritual (Maeswara, 2009).

    Menurut BPS (2013), tingkat kesejahteraan dapat diukur melalui data

    pengeluaran. Data pengeluaran dapat mengungkap tentang pola konsumsi rumah

    tangga secara umum menggunakan indikator proporsi pengeluaran untuk makanan

    dan non makanan. Perubahan pendapatan seseorang akan berpengaruh pada

    pergeseran pola pengeluaran. Semakin tinggi pendapatan, semakin tinggi

    pengeluaran bukan makanan. Dengan demikian, pola pengeluaran dapat dipakai

    Kontribusi pendapatan usahatani = X 100%

  • 21

    sebagai salah satu alat untuk mengukur tingkat kesejahteraan penduduk, dimana

    perubahan komposisinya digunakan sebagai petunjuk perubahan tingkat

    kesejahteraan. Komposisi pengeluaran rumah tangga dapat dijadikan ukuran

    untuk menilai tingkat kesejahteraan ekonomi penduduk, makin rendah persentase

    pengeluaran untuk makanan terhadap total pengeluaran makin membaik tingkat

    kesejahteraan pengeluaran rumah tangga dibedakan menurut kelompok makanan

    dan bukan makanan.

    Menurut Sajogyo (1996), data tingkat pengeluaran rumah tangga dinilai lebih

    tepat untuk mengukur tingkat kesejahteraan rumah tangga. Hal ini dikarenakan

    dalam survai data pengeluaran lebih mudah dilaporkan dibandingkan dengan data

    pendapatan. Selain itu data pengeluaran sudah mencakup penghasilan bukan

    uang, pemakaian tabungan, pinjaman, pengeluaran konsumsi, dan transfer

    penghasilan dilingkungan tersebut. Data dari BPS juga telah tersedia dalam

    sampel yang besar dan akan lebih baik apabila mencakup data minimal setahun

    penuh. Garis kemiskinan dibedakan menjadi tiga klasifikasi yaitu miskin, miskin

    sekali, dan paling misikin dimana terdapat perbedaan kriteria antara penduduk

    desa dan kota. Klasifikasi tersebut adalah sebagai berikut:

    (1) Miskin = untuk pedesaan pengeluaran rumah tangga di bawah 320 kg nilai

    tukar beras per orang per tahun, untuk perkotaan pengeluaran rumah tangga

    di bawah 480 kg nilai tukar beras per orang per tahun.

    (2) Miskin sekali = untuk pedesaan pengeluaran rumah tangga di bawah 240 kg

    nilai tukar beras per orang per tahun, untuk perkotaan pengeluaran rumah

    tangga di bawah 380 kg nilai tukar beras per orang per tahun.

  • 22

    (3) Paling miskin = untuk pedesaan pengeluaran rumah tangga di bawah 180 kg

    nilai tukar beras per orang per tahun, untuk perkotaan pengeluaran rumah

    tangga di bawah 270 kg nilai tukar beras per orang per tahun.

    Menurut BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional)

    (2014) keluarga sejahtera adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan atas

    perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materiil

    yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang

    serasi, selaras dan seimbang antar anggota dan antar keluarga dengan masyarakat

    dan lingkungan.

    Tingkat kesejahteraan keluarga dikelompokkan menjadi 5 (lima) tahapan, yaitu:

    (1) Tahapan Keluarga Pra Sejahtera (KPS), yaitu keluarga yang tidak memenuhi

    salah satu dari 6 (enam) indikator Keluarga Sejahtera I (KS I) atau indikator

    ”kebutuhan dasar keluarga” (basic needs).

    (2) Tahapan Keluarga Sejahtera I (KSI), yaitu keluarga mampu memenuhi 6

    (enam) indikator tahapan KS I, tetapi tidak memenuhi salah satu dari 8

    (delapan) indikator Keluarga Sejahtera II atau indikator ”kebutuhan

    psikologis” (psychological needs) keluarga.

    (3) Tahapan Keluarga Sejahtera II, yaitu keluarga yang mampu memenuhi 6

    (enam) indikator tahapan KS I dan 8 (delapan) indikator KS II, tetapi tidak

    memenuhi salah satu dari 5 (lima) indikator Keluarga Sejahtera III (KS III),

    atau indikator ”kebutuhan pengembangan” (develomental needs) dari

    keluarga.

  • 23

    (4) Tahapan Keluarga Sejahtera III, yaitu keluarga yang mampu memenuhi 6

    (enam) indikator tahapan KS I, 8 (delapan) indikator KS II, dan 5 (lima)

    indikator KS III, tetapi tidak memenuhi salah satu dari 2 (dua) indikator

    Keluarga Sejahtera III Plus (KS III Plus) atau indikator ”aktualisasi diri” (self

    esteem) keluarga.

    (5) Tahapan Keluarga Sejahtera III Plus, yaitu keluarga yang mampu memenuhi

    keseluruhan dari 6 (enam) indikator tahapan KS I, 8 (delapan) indikator KS

    II, 5 (lima) indikator KS III, serta 2 (dua) indikator tahapan KS III Plus.

    Menurut BPS (2016) kesejahteraan adalah suatu kondisi terpenuhinya keutuhan

    jasmani dan rohani pada suatu rumah tangga berdasarkan taraf hidup tertentu yang

    hanya dapat terlihat melalui suatu aspek tertentu. Tingkat kesejahteraan rakyat

    dikaji menurut delapan bidang yaitu:

    a. Kependudukan

    Sumber daya manusia yang dalam hal ini adalah penduduk suatu negara,

    memegang peran penting dalam pembangunan untuk memanfaatkan sumber daya

    alam dan lingkungan dalam mewujudkan kesejahteraan bersama secara

    berkelanjutan. Kualitas penduduk akan berpengaruh terhadap proses

    pembangunan. Oleh karena itu, dalam menangani masalah kependudukan,

    pemerintah tidak saja mengarahkan pada upaya pengendalian jumlah penduduk,

    tetapi juga meningkatan kualitas sumber daya manusia, dan memprioritaskan

    program perencanaan pembangunan sosial di segala bidang untuk peningkatan

    kesejahteraan penduduk.

  • 24

    b. Kesehatan

    Kesehatan merupakan indikator penting untuk menggambarkan mutu

    pembangunan manusia suatu wilayah. Semakin sehat kondisi suatu masyarakat,

    maka akan semakin mendukung proses dan dinamika pembangunan ekonomi

    suatu negara atau wilayah semakin baik. Berkaitan dengan pembangunan

    kesehatan, pemerintah sudah melakukan berbagai program kesehatan untuk

    meningkatkan derajat kesehatan masyarakat khususnya memberikan kemudahan

    akses pelayanan publik, seperti puskesmas yang sasaran utamanya menurunkan

    tingkat angka kesakitan masyarakat, menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi,

    menurunkan Prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang, serta meningkatkan Angka

    Harapan Hidup.

    c. Pendidikan

    Pemenuhan atas hak untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu merupakan

    ukuran keadilan dan pemerataan atas hasil pembangunan dan sekaligus

    merupakan investasi sumber daya manusia yang diperlukan untuk mendukung

    keberlangsungan pembangunan. Semakin tinggi tingkat pedidikan penduduk

    suatu negara maka semakin maju negara tersebut sehingga akan berdampak

    terhadap kesejahteraan.

    d. Ketenagakerjaan

    Ketenagakerjaan memiliki potensi masalah yang dapat menurunkan kesejahteraan

    masyarakat. Berbagai masalah bidang ketenagakerjaan yang dihadapi pemerintah

    antara lain tingginya tingkat pengangguran, rendahnya perluasan kesempatan

  • 25

    kerja yang terbuka, rendahnya kompetensi dan produktivitas tenaga kerja, serta

    masalah pekerja anak.

    e. Taraf dan pola kosumsi

    Salah satu indikator yang dapat menggambarkan keadaan kesejahteraan penduduk

    adalah dengan melihat pengeluaran rumah tangga. Pengeluaran rumah tangga

    dibedakan menurut kelompok makanan dan non makanan. Semakin tinggi tingkat

    pendapatan maka porsi pengeluaran akan bergeser dari pengeluaran makanan ke

    pengeluaran non makanan. Pergeseran pola pengeluaran dari makanan ke non

    makanan terjadi karena elastisitas permintaan terhadap makanan pada umumnya

    rendah, sebaliknya permintaan terhadap barang non makanan pada umumnya

    tinggi.

    f. Perumahan dan lingkungan

    Rumah merupakan kebutuhan primer manusia yang dapat dijadikan sebagai

    indicator kesejahteraan. Rumah selain sebagai tempat tinggal, juga dapat

    menunjukkan status sosial seseorang, yang berhubungan positif dengan kualitas

    atau kondisi rumah. Selain itu, rumah juga merupakan sarana pengamanan dan

    pemberian ketentraman hidup bagi manusia dan menyatu dengan lingkungannya.

    Kualitas lingkungan rumah tinggal memengaruhi status kesehatan penghuninya.

    g. Kemiskinan

    Kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk

    memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi

    pengeluaran. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata

  • 26

    pengeluaran perkapita perbulan di bawah garis kemiskinan Pengentasan

    kemiskinan menjadi syarat untuk pembangunan berkelanjutan.

    h. Sosial lainnya

    Persentase penduduk yang melakukan perjalanan wisata, persentase yang

    menikmati informasi dan hiburan meliputi menonton televisi, mendengarkan

    radio, membaca surat kabar, dan mengakses internet merupakan indikator sosial

    lainnya yang menggambarkan kesejahteraan. Indikator kesejahteraan juga dapat

    diukur melalui persentase rumah tanggga yang menguasai media informasi seperti

    telepon, handphone, dan komputer, serta banyaknya rumah tangga yang membeli

    beras murah/miskin (raskin) juga dapat dijadikan sebagai indikator kesejahteraan.

    Tingkat kesejahteraan juga dapat diketahui melalui persepsi rumah tangga

    terhadap taraf hidup masing-masing dengan mendeskripsikan kondisi saat ini.

    Persepsi adalah pandangan orang tentang kenyataan. Persepsi juga dapat diartikan

    sebagai proses seseorang dalam memilih, mengatur, dan memberi makna pada

    kenyataan yang ada disekitar kehidupannya. Persepsi dipengaruhi oleh

    pengalaman, pendidikan, dan kebudayaan. Persepsi dibedakan atas persepsi

    selektif, dan stereotipe. Pesepsi selektif merupakan kecenderungan untuk menilai

    objek atau kondisi bukan sebagaimana adanya, sedangkan stereotipe membuat

    orang untuk cenderung melihat kenyataan menurut pola yang tetap (Hardjana,

    2003).

    Menurut Rangkuti (2009) kata kunci dari definisi persepsi dalah individu.

    Persepsi adalah proses yang digunakan oleh seorang individu untuk memilih,

    mengorganisasi, dan menginterprestasi masukan-masukna infomasi guna

  • 27

    menciptakan gambaran dunia. Terdapat tiga proses persepsi yang menyebabkan

    perbedaan penilaian seseorang terhadap objek yang sama, yaitu perhatian selektif,

    distorsi selektif, dan ingatan selektif. Perhatian selektif adalah proses yang terjadi

    pada seseorang dalam menyaring beberapa rangsangan karena tidak dapat

    menerima semua rangsangan. Distorsi selektif adalah kecenderungan seseorang

    untuk mengubah informasi menjadi bermakna pribadi dengan cara mendukung

    prakonsepsi mereka. Persepsi merupakan penerimaan dari suatu peristiwa yang

    mempunyai konsekuensi terhadap orang atau kelompok (Winarno, 2008).

    Dari tiga indikator kesejahteraan yang telah diuraikan maka digunakan kriteria

    Sajogyo (1996) sebagai indikator pengukuran tingkat kesejahteraan petambak di

    Desa Bratasena Adiwarna Kecamatan Dente Teladas. Hal ini dikarenakan

    petambak yang cenderung bersifat homogen. Luas tambak, perumahan, kondisi

    lingkungan, serta faktor produksi yang digunakan relatif sama sehingga tidak ada

    variasi yang dapat membedakan. Oleh karena itu, kesejahteraan diukur

    berdasarkan pengeluaran per kapita yang disetarakan dengan harga beras.

    7. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesejahteraan

    Menurut BKKBN (2015) kesejahteraan keluarga dipengaruhi oleh faktor intern

    dan ekstern.

    a. Faktor intern keluarga segala hal yang mempengaruhi kesejahteraan yang

    berkaitan dengan keluarga seperti jumlah anggota keluarga, tempat tinggal,

    keadaan sosial keluarga dan keadaan ekonomi keluarga.

  • 28

    2) Jumlah anggota keluarga. Perkembangan zaman berdampak pada

    peningkatan tuntutan keluarga akan pemenuhan kebutuhan hiburan,

    transportasi, rekreasi, dan sarana ibadah. Peningkatan kebutuhan dan

    jumlah anggota keluarga yang tidak disertai dengan peningkatan

    pendapatan akan menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan keluarga.

    3) Tempat tinggal. Keadaan tempat tinggal yang diatur sesuai dengan

    seleran penghuninya akan menimbulkan suasana gembira.

    4) Keadaan sosial keluarga. Keadaan sosial dalam keluarga dapat

    dikatakan baik bila terdapat hubungan yang baik dan didasari ketulusan

    hati serta rasa kasih sayang antara anggota keluarga.

    5) Keadaan ekonomi keluarga. Ekonomi dalam keluarga meliputi

    keuangan dan sumber-sumber yang dapat meningkatkan taraf hidup

    anggota keluarga.

    b. Faktor ekstern merupakan hal berpengaruh terhadap kesejahteraan yang berasal

    dari kondisi kejiawaan anggota keluarga. Kesejahteraan keluarga perlu

    dipelihara dan terus dikembangan agar tidak terjadi ketegangan jiwa diantara

    anggota keluarga. Hal ini perlu dilakukan untuk memperoleh ketentraman dan

    kenyamanan kehidupan dan kesejahteraan keluarga.

    Menurut Zebua, dkk (2017), faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan

    nelayan perlu diketahui mengingat Indonesia memiliki sumber daya laut yang

    besar. Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan nelayan:

  • 29

    a. Kualitas Sumber daya manusia. Semakin rendah kualitas sumber daya

    manusia maka produktivitas yang dihasilkan akan rendah. Rendahnya

    produktivitas akan berpengaruh pada rendahnya pendapatan.

    b. Metode penangkapan ikan yang masih tradisonal. Kemampuan melaut nelayan

    mayoritas didapat turun temurun dari orangtua dan lingkungan. Hal ini

    berakibat pada terbatasnya pengetahuan bagaimana menangkap ikan yang

    efektif serta kurangnya kepercayaan nelayan terhadap informasi prakiraan

    cuaca dari BMKG.

    c. Kebiasaan nelayan yang buruk dalam hal pengelolaan keuangan. Hal ini dapat

    dilihat dari kebiasaan ketika sedang panen hasil laut, mereka akan

    menghabiskan dengan cepat. Sebaliknya, ketika hasil tangkapan sedikit,

    mereka tidak jarang meminjam kepada rentenir untuk memenuhi kebutuhan

    hidup rumahtangga yang harus dipenuhi.

    d. Kepemilikan modal. Peralatan yang digunakan nelayan masih sangat

    sederhana. Banyak dari nelayan yang harus menyewa atau meminjam peralatan

    untuk dapat pergi melaut. Hal ini berdampak pada laba bersih hasil tangkapan

    yang harus dikurangi dengan biaya sewa.

    e. Teknologi yang digunakan masih sangat sederhana. Peralatan yang dipakai

    berupa perahu dan jaring hanya bisa menjangkau laut sejauh 12 mil.

    Menurut Hartoyo dan Aniri (2010), faktor yang berpengaruh signifikan terhadap

    tingkat kesejahteraan pembudidaya ikan adalah jumlah anggota keluarga (negatif)

    dan pendapatan (positif). Faktor lain seperti usia, lama pendidikan, aset, lokasi,

    dan status pekerjaan kepala keluarga berpengaruh tidak signifikan terhadap

    tingkat kesejahteraan keluarga.

  • 30

    B. Kajian Penelitian Terdahulu

    Kajian penelitian terdahulu dilakukan untuk mengetahui hasil penelitian yang

    berkaitan dengan topik penelitian ini. Perbedaan penelitian ini yakni adanya

    analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan rumah tangga petambak

    udang vaname yang belum pernah ada pada berbagai kajian penelitian terdahulu.

    Selain itu belum pernah dilakukan analisis kesejahteraan rumah tangga petambak

    udang vaname di Desa Bratasena Adiwarna. Akan tetapi, penelitian ini penelitian

    ini memiliki persamaan dengan penelitian terdahulu seperti analisis pendapatan

    dan tingkat kesejahteraan rumah tangga. Oleh karena itu, kajian penelitian

    terdahulu digunakan sebagai referensi peneliti dalam menentukan metode analisis

    yang digunakan dan berbagai hal lainnya. Beberapa penelitian yang terkait

    dengan penelitian ini disajikan dalam Tabel 2.

  • 31

    Tabel 2. Penelitian terdahulu

    No(1)

    Peneliti dan Judul Penelitian(2)

    Tujuan(3)

    Metode Analisis(4)

    Hasil Penelitian(5)

    1 Mahasari, Lestari, danIndriani (2014),Kesejahteraan RumahTangga Pengolah Ikan TeriAsin Di Pulau PasaranKecamatan Teluk BetungBarat Kota Bandar Lampung

    Mengetahui tingkatkesejahteraan rumah tanggapengolah ikan teri asin, danmengetahui pemerataankesejahteraan rumah tanggapengolah ikan teri asin..

    1. Kriteria kesajahteraan BadanPusat Statistik (2011), danindikator Sajogyo (1977).

    2. Indeks Gini Oshima.

    Pengolah ikan teri asin di Pulau PasaranKecamatan Teluk Betung Barat Kota BandarLampung yang berjumlah 38 orang respondentermasuk ke dalam kriteria sejahtera, danhidup layak menurut BPS Provinsi Lampung(2011) dan Sajogyo (1977). Nilai Gini Rasioberdasarkan kriteria Oshima untukpengeluaran pangan sebesar 0,0948,pengeluaran nonpangan sebesar 0,1586, danpengeluaran total rumah tangga sebesar0,1108.

    2 Sutawijaya, Angger,Rochaeni, dan Tjahja (2013),Analisis TingkatKesejahteraanRumah Tangga Petani IkanHias Air Tawar diKelurahan CipedakKecamatan Jagakarsa KotaMadya Jakarta Selatan

    1. Mengetahui tingkatkesejahteraan rumahtangga petani ikan hiasair tawar di KelurahanCipedak.

    2. Menganalisis Pengaruhindikator-indikatorkesejahteraan BPSbedasarkan SUSENAS2005 terhadap tingkatkesejahteraan rumahtangga petani ikan hiasair tawar di KelurahanCipedak. dan BPS.

    1. Analisis deskriptif kualitatif.2. Indikator kesejahteraan

    menurut BPS, Sajogyo, danTata Guna Tanah.

    1. Berdasarkan indikator BPS 2005, kriteriaSajogyo, dan indikator Tata Guna Tanahmaka sebanyak 30 rumah tangga (100%)petani ikan hias air tawar termasuk kategoritidak miskin.

    2. Terdapat pengaruh yang signifikan darivariabel fasilitas tempat tingga, kesehatananggota keluarga dan kemudahanmenyekolahkan anak terhadap tingatkesejahteraan rumah tangga petani ikan hiasair tawar di Kelurahan Cipedak KecamatanJagakarsa Kota Madya Jakarta Selatan.

  • 32

    Tabel 2. Lanjutan

    (1) (2) (3) (4) (5)3 Andrianto, Qurniati, dan

    Setiawan (2016), PengaruhKarakteristik Rumah TanggaTerhadap TingkatKemiskinan MasyarakatSekitar Mangrove (Kasus diDesa Sidodadi KecamatanTeluk Pandan KabupatenPesawaran)

    Mengetahui pengaruhkarakteristik rumah tanggaterhadap kemiskinanmasyarakat pesisir.

    Indikator kemiskinan Sajogyo(2016)

    Rumah tangga yang tinggal berbatasan denganhutan mangrove di Desa Sidodadi sebagian(45%) masih tergolong miskin. Kemiskinanyang terjadi tidak dipengaruhi oleh umur, jenispekerjaan, kesehatan, suku/etnis dan kondisirumah. Karakteristik rumah tangga yangberpengaruh terhadap kemiskinan di DesaSidodadi adalah pendidikan, pendapatan,jumlah anggota keluarga yang bekerja danfasilitas rumah.

    4 Dewi, Sihombing, dan Artini(2013), KontribusiPendapatan Nelayan IkanHias Terhadap PendapatanTotal Rumah Tangga di DesaSerangan.

    1. Mengetahui strukturbiaya dan penerimaannelayan ikan hias di DesaSerangan.

    2. Mengetahui kontribusipendapatan ikan hiasterhadap total pendapatanrumah tangga nelayanikan hias di DesaSerangan.

    1. Analisis deskriptif kualitatif.Analisis kuantitatif

    1. Rata-rata biaya produksi usaha ikan hias diDesa Serangan adalah sebesar Rp10.034.339,00 Rata-rata besarnyapenerimaan yang diperoleh yaitu sebesar Rp.17.329.412,00/siklus dan Rata-ratapendapatan nelayan adalah sebesar Rp.7.082.328,00/siklus.

    2. Kontribusi budi daya ikan hias terhadappendapatan total rumah tangga nelayan diDesa Serangan sebesar 48,56%.

  • 33

    Tabel 2. Lanjutan

    (1) (2) (3) (4) (5)5 Budiardi, Muzaki, dan

    Utomo (2005), ProduksiUdang Vaname (Litopenaeusvannamei) Di TambakBiocrete Dengan PadatPenebaran Berbeda

    Mengetahui produksi udangvannamei yangdibudidayakan di tambakbiocrete pada tingkat padatpenebaran yang berbeda.

    Metode kuantitatif denganmenggunakan Anova RepeatedMeasurement In Time programSAS 6.0.

    Dari hasil penelitian menunjukkan bahwapetak dengan kepadatan rendah memiliki nilaiproduktifitas, bobot rata-rata, kelangsunganhidup dan konversi pakan (FCR) yang lebihbaik dibanding dengan yang berkepadatantinggi.

    6 Pulungan, Fauzia, danEmalisa (2015), AnalisisKelayakan Usaha TambakUdang (Studi Kasus :Desa Sei Meran,Kec. Pangkalan Susu,Kab. Langkat )

    Mengetahui bagaimanasistem budidaya udang didaerah penelitian, danuntuk menganalisiskelayakan usahatanitambak udang di daerahpenelitian.

    Analisis deskriptif kualitatif. Sistem budidaya udang di daerah penelitianmenggunakan sistem semi intensif karenasarana dan prasaran produksinya yang relatifkecil dan perlakuan budidaya udang sepertiperalatan, pemeliharaan, obat-obatan,penanggulangan hama yang kurangdiperhatikan dan kepadatan bibit yang sedikitlebih sedikit dibandingkan dengan sistemintensif yang mempunyai alat seperti kincir,pompa sehingga dapat meningkatkankepadatan bibit didalam kolam dan dapatmeminimalisir kematian udang, sehinggasistem intensif memiliki produksi tinggi danmengeluarkan biaya yang sangat besardibandingkan semi intensif. Berdasarkananalisis kelayakan, semua usaha budidayaUdang Vannamei dinyatakan layak untukdiusahakan karena produksi > BEP produksi,harga > BEP harga, penerimaan > BEPpenerimaan, R/C > 1.

  • 34

    Tabel 2. Lanjutan

    (1) (2) (3) (4) (5)7 Hartoyo, dan Aniri (2010),

    Analisis TingkatKesejahteraan KeluargaPembudi daya Ikan danNonpembudi daya Ikan diKabupaten Bogor.

    1. Mengidentifikasiperbedaan tingkatkesejahteraan keluargapembudi daya dannonpembudi daya ikan.

    2. Menganalisis faktor-faktor yangmempengaruhi tingkatkesejahteraan keluarga;dan

    1. Uji korelasi Pearson.2. Ananlisis spesifitas

    menggunakan benchmarkindikator BPS.

    3. Analisis regresi modellogistik

    1. Berdasarkan indikator BPS dan sosiometrik,sebagian besar keluarga pada keduakelompok berada pada kategori tidaksejahtera (tidak miskin), sedangkan menurutindikator BKKBN sebanyak 42,5% dan56,7% dari keluarga kelompok pembudidaya ikan dan nonpembudi dayadikategorikan sebagai keluarga miskin.

    2. Faktor yang berpengaruh signifikan terhadaptingkat kesejahteraan adalah jumlah anggotakeluarga (negatif) dan pendapatan (positif).Faktor lain seperti usia, lama pendidikan,aset, lokasi, dan status pekerjaan kepalakeluarga berpengaruh tidak signifikanterhadap tingkat kesejahteraan keluarga.

    8 Susanti, Lestari, dan Kasymir(2017), Sistem AgribisnisIkan Patin (Pangasius sp)Kelompok Budidaya IkanSekar Mina Di KawasanMinapolitan PatinKecamatan Kota GajahLampung Tengah

    Mengetahui sistempengadaan sarana produksibudidaya ikan patin,pendapatan dari hasilbudidaya ikan patin, nilaitambah hasil olahan ikanpatin (abon, pastel dan kuetusuk gigi).

    1. Deskriptif kualitatif.2. Pendapatan usaha menurut

    Lipsey et al.

    Pengadaan sarana produksi budidaya ikanpatin Pokdakan Sekar Mina (kolam, benih,vitamin dan tenaga kerja) sudah memenuhikriteria 6 tepat. Besarnya rata-rata pendapatanper-ha yang diperoleh pembudidaya ikan patinPokdakan Sekar Mina yaitu pada MT I sebesarRp124.303.944,44 dengan nilai R/C 2,66 danpada MT II yaitu Rp165.798.467,59 dengannilai R/C sebesar 2,87. Nilai tambah produkolahan ikan patin (abon, pastel dan kue tusukgigi) bernilai positif (NT>0).

  • 35

    Tabel 2. Lanjutan

    (1) (2) (3) (4) (5)9 Satriana, Suwarni, dan

    Nugraheni (2016) DeskripsiUsaha Petani Tambak UdangVannemei Di Desa BumiDipasena Sentosa KecamatanRawa Jitu Timur KabupatenTulang Bawang Tahun 2016

    Mengkaji informasi tentangusaha tambak udang diDesa Bumi DipasenaSentosa Kecamatan RawaJitu Timur KabupatenTulang Bawang yang terdiridari luas lahan garapan,biaya produksi, hasilproduksi, dan pendapatanpetani tambak udangvannamei di Desa BumiDipasena Sentosa.

    1. Analisis distribusi frekuensidan persentase.

    2. Analisis kuantitatif.

    Luas rata-rata lahan garapan yang dimilikipetani tambak udang vannamei di Desa BumiDipasena Sentosa adalah 0,63 Ha. Biayaproduksi rata-rata yang dikeluarkan petanitambak dalam budi daya sekali panen Rp.24.700.000. Rata-rata produksi udangvannamei yang dihasilkan setiap petani yaitusebanyak 0,60 ton/Ha. Rata-rata pendapatanpetani tambak yang diperoleh dari usaha budidaya udang vannamei yaitu Rp. 12.000.000.

    10 Fadilah, Abidin, dan Kalsum(2014), Pendapatan DanKesejahteraan RumahTangga Nelayan OborDi Kota Bandar Lampung

    Mengkaji tingkatpendapatan rumah tangga,alokasi pengeluaran rumahtangga, dan tingkatkesejahteraan rumah tangganelayan obor.

    1. Deskriptif tabulasi2. Indikator kemiskinan

    Sajogyo (1996)

    Rata-rata pendapatan rumah tangga nelayanobor adalah sebesar Rp30.187.572,00/tahun.Pendapatan tersebut dialokasi untukpengeluaran pangan sebesar 60,09%,sedangkan untuk pengeluaran konsumsi nonpangan sebesar 39,91%. Terkait dengantingkat kesejahteraan rumah tangga nelayanobor, dapat disimpulkan bahwa kesejahteraanrumah tangga nelayan obor sebagian besarmasuk dalam kriteria cukup (74,42%). Selainitu, terdapat juga rumah tangga nelayan yangtergolong nyaris miskin (9,3%) dan hiduplayak (16,28%).

  • 36

    C. Kerangka Pemikiran

    Kecamatan Dente Teladas menjadi salah satu daerah yang relatif besar

    berkontribusi dalam produksi udang vaname bagi Kabupaten Tulang Bawang

    (BPS Kabupaten Tulang Bawang, 2016). Perubahan pola budi daya setelah

    pemutusan hubungan kemitraan dengan PT Centralpertiwi Bahari berpengaruh

    terhadap pendapatan rumah tangga petambak dan penggunaan faktor produksi

    budi daya udang vaname. Sumber pendapatan petambak udang di Desa Bratasena

    Adiwarna Kecamatan Dente Teladas terdiri dari budi daya udang, kegiatan di luar

    budi daya udang, dan kegiatan di luar sektor pertanian.

    Faktor produksi yang digunakan dalam kegiatan budi daya udang adalah benih

    udang, pakan, obat-obatan, kapur, tenaga kerja, dan solar. Faktor poduksi

    digunakan untuk memenuhi kebutuhan saat proses produksi sehingga akan

    menghasilkan output (udang). Faktor produksi dikalikan dengan harga akan

    menghasilkan biaya produksi, sedangkan hasil produksi dikalikan dengan harga

    akan menghasilkan penerimaan. Selisih antara penerimaan dan biaya produksi

    akan menghasilkan pendapatan udang.

    Pendapatan usahatani di luar budi daya udang diperoleh dari selisih antara

    penerimaan dan biaya produksi dari hasil kegiatan usahatani di luar budi daya

    udang. Pendapatan di luar sektor pertanian diperoleh dari kegiatan di luar sektor

    pertanian, seperti berdagang, ojek, guru, dan sebagainya. Hasil penjumlahan dari

    pendapatan udang, pendapatan usahatani di luar budi daya udang, dan pendapatan

    di luar sektor pertanian merupakan pendapatan rumah tangga petambak. Sebagian

  • 37

    besar masyarakat di Desa Bratasena Adiwarna Kecamatan Dente Teladas

    mengandalkan hasil produksi udang sebagai pendapatan utama sehingga

    pendapatan udang memiliki kontribusi yang relatif besar bagi pendapatan rumah

    tangga.

    Kebutuhan rumah tangga baik dari pangan maupun nonpangan akan bergantung

    pada pendapatan rumah tangga yang diperoleh petambak. Pendapatan rumah

    tangga petambak akan berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan. Tingkat

    kesejahteraan dapat diukur melalui pengeluaran rumah tangga yang disetarakan

    dengan nilai tukar beras per kapita per tahun yang diklasifikasikan dalam

    kelompok kemiskinan berdasarkan indikator Sajogyo (1996). Tingkat

    kesejahteraan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah pendapatan

    rumah tangga, jumlah tanggungan keluarga, tingkat pendidikan, lama budi daya,

    dan usia responden.

    Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk peningkatan taraf hidup

    petambak udang vaname di Desa Bratasena Adiwarna Kecamatan Dente Teladas

    dengan melakukan pengkajian terhadap pendapatan rumah tangga, tingkat

    kesejahteraan petambak, serta faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan

    petambak. Kerangka pemikiran analisis pendapatan dan tingkat kesejahteraan

    rumah tangga petambak udang vaname eks plasma PT Centralpertiwi Bahari Desa

    Bratasena Adiwarna Kecamatan Dente Teladas disajikan dalam Gambar 1.

  • 38

    Gambar 1. Kerangka pemikiran analisis pendapatan dan kesejahteraan rumah tangga eks plasma PT Centralpertiwi BahariDesa Bratasena Adiwarna Kecamatan Dente Teladas

    Fakor produksi ProsesProduksi

    Output(udang)

    Usahataninonudang

    Kegiatan diluarsektor pertanian

    (nonfarm)

    Budidaya udang vaname

    Biaya produksi

    Sumber pendapatanpetambak udang

    Penerimaan

    Pendapatanusahataninonudang

    Pendapatan dari kegiatandiluar sektor pertanian

    Pendapatan udang Pendapatan rumah tangga

    Tingkat kesejahteraanKontribusi pendapatan udangterhadap pendapatan rumah

    tanggaFaktor-faktor yang mempengaruhi: Pendapatan rumah tangga (X1) Jumlah tanggungan RT (X2) Pendidikan (X3) Pengalaman budidaya (X4) Usia responden (X5)

    Indikatorkesejahteraan:

    Sajogyo (1996)

    HargaHarga

    Kegiatan diluar budidaya dan usahatani

    (off farm)

    Pendapatan offfarm

  • 39

    D. Hipotesis

    Berdasarkan latar belakang masalah dan tujuan penelitian maka hipotesis yang

    digunakan dalam pemecahan masalah adalah sebagai berikut:

    Diduga pendapatan rumah tangga petambak (X1), jumlah tanggungan rumah

    tangga (X4), pendidikan (X3), lama pengalaman budidaya (X4), dan usia

    responden (X5) berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan rumah tangga

    petambak udang vaname eks plasma PT Centralpertiwi Bahari Desa Bratasena

    Adiwarna Kecamatan Dente Teladas.

  • III. METODE PENELITIAN

    A. Metode, Lokasi, dan Waktu Penelitian

    Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah survai. Metode

    survai adalah salah satu metode yang digunakan dalam penelitian untuk

    memperoleh fakta-fakta tentang gejala-gejala atas permasalahan yang timbul .