21. Analisis Kontribusi Sektoral Terhadap

of 27/27
1 ANALISIS KONTRIBUSI SEKTORAL TERHADAP PDRB KOTA MALANG MENUJU KONSEP BALANCE GROWTH WIWIN PURNOMOWATI 1 SOPANAH ABSTRACT Planning of economic development can be arranged by considering the condition and sectoral potential in an area so the realistic of developing plan can be undertaken. The economic development can be optimal if it’s based on the comparative and competitive advantages. Related with the planning of development in Malang Regency, it’s needed a study about product domestic regional brutto (PDRB) of Malang Regency, because it can be used to know sectoral contribution and identify comparative and competitive advantages. The big three sectors contributed to PDRB of Malang Regency are industrial sector; trade, hotel and restaurant sector; and services sector. Then, LQ analysis shows that there are five sectors become prime mover of regional development in Malang Regency. They are industrial sector; trade, hotel and restaurant sector; transportation and communication sector; services sector. The result of BCG matrix shows that there is unbalanced of developmental performance in Malang Regency. This unbalance happens because more sectors are in “dog” position than other positions. The industrial sector; trade, hotel and restaurant sector and services sector give high growth and contribution to PDRB of Malang Regency, so they are in “star” position. Keywords: comparative advantage, location quotient, balance growth, BCG matrix 1.PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu realitas pembangunan adalah terciptanya kesenjangan pembangunan antardaerah dan antarkawasan. Menyadari hal tersebut, pemerintah mencoba melakukan perubahan konsep pembangunan dari pendekatan sektoral kepada pendekatan regional sejak repelita VI. “Pendekatan pengembangan wilayah tersebut 1 Dosen Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Widyagama Malang
  • date post

    06-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    8
  • download

    0

Embed Size (px)

description

people demands on public goods

Transcript of 21. Analisis Kontribusi Sektoral Terhadap

  • 1

    ANALISIS KONTRIBUSI SEKTORAL TERHADAP PDRB KOTA MALANG MENUJU KONSEP BALANCE GROWTH

    WIWIN PURNOMOWATI1 SOPANAH

    ABSTRACT

    Planning of economic development can be arranged by considering the condition and sectoral potential in an area so the realistic of developing plan can be undertaken. The economic development can be optimal if its based on the comparative and competitive advantages. Related with the planning of development in Malang Regency, its needed a study about product domestic regional brutto (PDRB) of Malang Regency, because it can be used to know sectoral contribution and identify comparative and competitive advantages. The big three sectors contributed to PDRB of Malang Regency are industrial sector; trade, hotel and restaurant sector; and services sector. Then, LQ analysis shows that there are five sectors become prime mover of regional development in Malang Regency. They are industrial sector; trade, hotel and restaurant sector; transportation and communication sector; services sector. The result of BCG matrix shows that there is unbalanced of developmental performance in Malang Regency. This unbalance happens because more sectors are in dog position than other positions. The industrial sector; trade, hotel and restaurant sector and services sector give high growth and contribution to PDRB of Malang Regency, so they are in star position.

    Keywords: comparative advantage, location quotient, balance growth, BCG matrix

    1.PENDAHULUAN

    1.1. Latar Belakang

    Salah satu realitas pembangunan adalah terciptanya kesenjangan

    pembangunan antardaerah dan antarkawasan. Menyadari hal tersebut, pemerintah

    mencoba melakukan perubahan konsep pembangunan dari pendekatan sektoral kepada

    pendekatan regional sejak repelita VI. Pendekatan pengembangan wilayah tersebut

    1 Dosen Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Widyagama Malang

  • 2

    dilakukan melalui penataan ruang sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah

    No. 47 tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), yang

    bertujuan untuk mengembangkan pola dan struktur ruang nasional melalui pendekatan

    kawasan, dan dilaksanakan melalui penetapan kawasan andalan (Witoelar 2000).

    Salah satu kebijakan yang diambil pemerintah untuk mempersempit

    ketimpangan regional adalah diterapkannya kebijakan pembangunan daerah melalui

    konsep kawasan andalan, yang dilakukan berdasarkan potensi yang dimiliki daerah.

    Kawasan andalan merupakan kawasan yang ditetapkan sebagai penggerak

    perekonomian wilayah (prime mover), yang memiliki kriteria sebagai kawasan yang

    cepat tumbuh dibanding lokasi lainnya dalam suatu wilayah, memiliki sektor unggulan

    dan memiliki keterkaitan ekonomi dengan daerah sekitar (hinterland) (Royat 1996:15).

    Pertumbuhan kawasan andalan diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi

    pertumbuhan ekonomi daerah sekitar (hinterland), melalui pemberdayaan sektor/

    subsektor unggulan sebagai penggerak perekonomian daerah dan keterkaitan ekonomi

    antardaerah. Penekanan pada pertumbuhan ekonomi sebagai arah kebijakan penetapan

    kawasan andalan adalah mengingat pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu

    variabel ekonomi yang merupakan indikator kunci dalam pembangunan (Kuncoro

    2000:18).

    Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu indikator

    untuk mengetahui kondisi ekonomi suatu daerah/wilayah dalam suatu periode tertentu.

    PDRB didefinisikan sebagai jumlah nilai tambah (value added) yang dihasilkan oleh

    seluruh unit usaha atau jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh

    unit kegiatan ekonomi dalam suatu daerah/wilayah. Secara kuantitatif PDRB

    merupakan nilai barang dan jasa, oleh karena itu PDRB dihitung atas harga berlaku (at

  • 3

    current price) dan PDRB atas dasar harga konstan (at constant price). Dengan kata

    lain, data PDRB menggambarkan kemampuan suatu daerah/wilayah dalam mengelola

    sumber daya yang dimilikinya. Oleh karena itu, nilai PDRB yang dihasilkan oleh

    masing-masing daerah/wilayah sangat tergantung pada potensi sumber daya alam,

    sumberdaya manusia dan teknologi (faktor produksi) di daerah/wilayah tersebut.

    Kondisi terbatasnya sumberdaya alam dan penyediaan faktor-faktor produksi tersebut

    menyebabkan besaran PDRB bervariasi antar daerah/wilayah.

    Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yaitu

    akumulasi modal, pertumbuhan penduduk, dan kemajuan teknologi (technological

    progress) (Todaro 2000:115). Penciptaan peluang investasi dapat dilakukan dengan

    memberdayakan potensi sektor unggulan yang dimiliki oleh kawasan bersangkutan.

    Sektor/subsektor unggulan yang diukur dengan analisis Location quotient (LQ)

    memiliki kesamaan dengan sektor ekonomi basis, yang pertumbuhannya menentukan

    pembangunan menyeluruh daerah itu, sedangkan aktivitas-aktivitas lain (non-basis)

    merupakan konsekuensi dari proses pembangunan menyeluruh tersebut (Soepono

    2000:41-53). Hasil analisa LQ dari studi sebelumnya menunjukkan bahwa sektor-sektor

    unggulan di Kota Malang adalah sektor industri pengolahan; sektor perdagangan, hotel

    dan restoran; sektor pengangkutan dan komunikasi; sektor keuangan dan sektor jasa-

    jasa.

    Untuk mempercepat pencapaian tujuan pembangunan ekonomi di Kota

    Malang maka dalam rangka menetapkan kawasan andalan pembangunan perlu diketahui

    sektor-sektor basis yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Di

    samping itu, perencana pembangunan daerah perlu pula memperhatikan pertumbuhan

    dan kontribusi dari 9 (sembilan) sektor ekonomi terhadap total PDRB di Kota Malang.

  • 4

    Kegiatan perencanaan ekonomi untuk pengembangan sektor kegiatan ekonomi dimulai

    dengan melakukan proses identifikasi sektor unggulan atau potensial ekonomi daerah.

    Ada 2 (dua) faktor utama yang perlu diperhatikan dalam mengidentifikasi potensi

    kegiatan ekonomi daerah. Pertama, sektor ekonomi yang unggul atau mempunyai daya

    saing dalam beberapa periode tahun terakhir dan kemungkinan prospek sektor ekonomi

    di masa mendatang. Kedua, sektor ekonomi yang potensial untuk dikembangkan di

    masa mendatang, walaupun pada saat ini belum mempunyai daya saing yang baik.

    Studi tentang model pengembangan ekonomi lokal di Kota Malang tahun 2006

    ditemukan bahwa sektor unggulan/prima meliputi industri pengolahan dan kerajinan

    dari kulit, industri barang dari karet dan kulit, industri barang dari kertas dan karton,

    industri tepung segala jenis, industri kayu dan rotan serta industri pengolahan dan

    pengawetan. Sektor potensial meliputi jasa perorangan dan rumah tangga. Sedangkan

    sektor sedang berkembang terdiri dari jasa-jasa perusahaan, industri rokok, bangunan,

    industri obat-obatan dan jamu, restoran, industri pakaian jadi, industri makanan dan

    minuman, industri makanan lainnya. Adapun sektor belum berkembang meliputi

    koperasi simpan pinjam, jasa penunjang angkutan, sayuran, buah, sewa bangunan, jasa

    hiburan, jasa kesehatan, sapi potong, jasa penunjang komunikasi dan angkutan darat

    lainnya.

    Studi tersebut juga berhasil menyusun model umum kemitraan dan klaster

    pengembangan ekonomi Kota Malang. Kemitraan dan klaster adalah suatu pendekatan

    untuk mendorong pengembangan ekonomi lokal yang bertujuan mengintegrasikan

    wilayah kurang berkembang dengan pusat perekonomian melalui penguatan keterkaitan

    antara produsen dengan pasar di tingkat lokal, nasional dan internasional. Model ini

    berupaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui jalinan

  • 5

    kerjasama antar semua komponen (pemerintah, pelaku usaha, lembaga keuangan dan

    profesional serta stakeholder lainnya).

    Dengan melihat struktur ekonomi yang ada di Kota Malang, perencanaan

    pembangunan ekonomi dapat disusun dengan memperhatikan kondisi dan potensi

    sektoral di wilayah tersebut sehingga perencanaan pembangunan yang realisitis dapat

    dilakukan. Pembangunan ekonomi akan optimal bila didasarkan pada keunggulan

    komparatif dan keunggulan kompetitif. Keunggulan komparatif lebih menekankan

    kepemilikan sumber daya ekonomi, sosial, politik dan kelembagaan suatu daerah,

    seperti; kepemilikan sumber daya alam, sumber daya manusia, infrastruktur dan lain-

    lain. Sementara keunggulan kompetitif lebih menekankan efisiensi pengelolaan

    (manajemen, perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan) penggunaan sumber-sumber

    tersebut dalam produksi, konsumsi maupun distribusi.

    Secara umum, keunggulan komparatif akan menuju keunggulan kompetitif.

    Artinya, kepemilikan faktor produksi (endowment) yang melimpah memungkinkan

    untuk mencapai kondisi skala ekonomis efisien (economic of scale) yang merupakan

    landasan keunggulan kompetitif. Tetapi, keunggulan kompetitif juga dapat diraih tanpa

    harus memiliki keunggulan komparatif ketika suatu daerah berhasil mengelola sumber

    daya secara efisien. Pembangunan ekonomi yang didasarkan pada keunggulan

    kompetitif akan lebih berkelanjutan (sustainable) daripada yang didasarkan pada

    keunggulan komparatif, karena memiliki kemampuan substitusi dan efisiensi

    penggunaan sumberdaya alam.

    Atas dasar uraian tersebut di atas, studi tentang kontribusi ekonomi sektoral

    terhadap PDRB Kota Malang merupakan suatu kebutuhan bagi perencanaan

    pembangunan ekonomi secara keseluruhan. Studi tersebut dapat menghitung kontribusi

  • 6

    dalam pembentukan PDRB Kota Malang sekaligus mengidentifikasi keunggulan

    komparatif wilayah. Dengan memperhatikan kondisi dan potensi sektoral serta

    mendasarkan pada keunggulan komparatif, maka pembangunan ekonomi akan berjalan

    optimal.

    1.2. Perumusan Masalah

    Berdasar latar belakang masalah tersebut di atas maka rumusan masalah dalam

    penelitian ini adalah Seberapa besar kontribusi sektoral terhadap PDRB Kota

    Malang?

    1.3. Tujuan

    Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran tentang kontribusi

    sektoral terhadap struktur PDRB Kota Malang.

    1.4. Manfaat Penelitian

    Manfaat penelitian diharapkan:

    1. Sebagai bahan acuan dalam penyusunan / penetapan sasaran, strategi dan kebijakan

    pembangunan ekonomi Kota Malang khususnya penciptaan investasi daerah

    berdasarkan peran sektor ekonomi terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah

    kecamatan.

    2. Sebagai informasi awal bagi para peneliti di bidang ekonomi regional khususnya

    ekonomi Kota Malang.

    2. TINJAUAN PUSTAKA

    2.1. Pengertian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

    Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu indikator

    untuk mengetahui kondisi ekonomi suatu daerah/wilayah dalam suatu periode

    tertentu. PDRB didefinisikan sebagai jumlah nilai tambah (value added) yang dihasilkan

  • 7

    oleh seluruh unit usaha atau jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh

    seluruh unit kegiatan ekonomi dalam suatu daerah/wilayah. Secara kuantitatif PDRB

    merupakan nilai barang dan jasa, oleh karena itu PDRB dihitung atas harga berlaku (at

    current price) dan PDRB atas dasar harga konstan (at constant price). PDRB atas dasar

    harga berlaku digunakan untuk melihat perubahan struktur ekonomi, sedangkan PDRB

    atas dasar harga konstan digunakan untuk melihat pertumbuhan ekonomi riil.

    PDRB disebut juga sebagai suatu neraca regional dimana muatannya dapat

    dipisahkan sebagai PDRB sektoral pada sisi kiri dan PDRB menurut penggunaan pada

    sisi kanan. Dari sisi pemanfaatannya PDRB digunakan sebagai dasar penghitungan

    ramalan, berbagai macam rasio, dan ukuran disparitas regional. Dalam pengertian lain,

    data PDRB menggambarkan kemampuan suatu daerah/wilayah dalam mengelola

    sumber daya yang dimilikinya. Oleh karena itu, nilai PDRB yang dihasilkan oleh

    masing-masing daerah/wilayah sangat tergantung pada potensi sumber daya alam,

    sumberdaya manusia dan teknologi (faktor produksi) di daerah/wilayah tersebut.

    Kondisi terbatasnya sumberdaya alam dan penyediaan faktor-faktor produksi tersebut

    menyebabkan besaran PDRB bervariasi antar daerah/wilayah.

    2.2. . Strategi Pembangunan Ekonomi Wilayah

    Agar berkembang dengan cepat dan selaras dengan potensi sumberdaya yang

    dimiliki dan sasaran ekonomi dan sosial yang telah ditetapkan, strategi apakah yang

    tepat untuk diterapkan oleh suatu wilayah. Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang

    pada akhirnya ditujukan kepada pemerintah daerah, karena pemerintah daerah

    merupakan pemegang kekuasaan untuk mengambil keputusan menentukan kebijakan

    pembangunan yang tepat.

    Suatu strategi pembangunan seharusnya mengacu pada perangkat kebijakan dan

  • 8

    kegiatan yang secara luas memberikan pada hal-hal yang berupa prasarana, penanaman

    modal pemerintah, keseimbangan antara berbagai sektor dan wilayah, serta peranan

    yang timbul dari perdagangan antar wilayah.

    a. Strategy Pembangunan yang seimbang atau Tidak Seimbang (Balanced or Unbalanced Growth Strategy)

    Strategi pembangunan yang seimbang adalah melaksanakan pembangunan

    sektor pertanian dan sektor industri secara serentak dan serempak (Adisasmita, 2005).

    Sektor pertanian merupakan sebagian besar penduduk daerah pedesaan, komoditas yang

    dihasilkan sub sektor tanaman pangan adalah untuk memenuhi kebutuhan pangan

    penduduk pedesaan dan perkotaan, serta digunakan sebagai bahan baku industri dan

    sebagian lainnya diantarpulaukan dan diekspor. Sektor industri selain memberikan

    lapangan pekerjaan juga meningkatkan nilai tambah (value added) terhadap produk

    yang dihasilkan. Pembangunan sektor pertanian dan sektor industri akan memperkokoh

    struktur perekonomian suatu wilayah.

    Mengingat sumberdaya ekonomi di negara berkembang sangat terbatas, maka

    pemerintah hanya dapat membiayai program pembangunan yang tidak seimbang. Dalam

    strategi pembangunan yang tidak seimbang, yang harus diperhatikan adalah pemilihan

    bidang usaha atau sektor yang dapat memberikan daya imbas menumbuhkan bidang

    usaha atau sektor-sektor lainnya dalam perekonomian. Konsep saling keterkaitan

    ekonomi antar sektor sangat penting artinya dalam melaksanakan strategi pembangunan

    yang tidak seimbang (Adisasmita, 2005).

    Pertumbuhan tidak seimbang secara wilayah dapat dikatakan pula dengan istilah

    desentralisasi yang terkonsentrasi. Pertimbangannya yaitu melaksanakan

    pembangunan di beberapa wilayah utama (leading regions) dan mendorong program-

    program yang diharapkan dapat meningkatkan sektor produksi utama dalam lingkungan

  • 9

    wilayah utama tersebut.

    b. Strategi Keseimbangan antar Wilayah (Interregional Equilibrium Strategy)

    Keseimbangan antar daerah adalah salah satu tujuan strategi pembangunan yang

    tidak berat sebelah. Pemerintah menyusun perencanaan pembangunan yang tidak

    dipusatkan di suatu daerah (sub wilayah), melainkan di beberapa daerah (sub wilayah)

    tergantung pada besar kecilnya potensi sumberdaya dan kondisi geografis daerah-daerah

    (sub-sub wilayah) yang bersangkutan. Keseimbangan antar daerah adalah penting

    artinya bagi suatu wilayah atau negara yang luas. Sebaliknya tidak penting bagi sebuah

    negara atau wilayah yang relatif kecil.

    Dalam upaya mewujudkan keseimbangan antar daerah dapat dipilih strategi

    pusat-pusat pertumbuhan (growth pole strategy). Pusat pertumbuhan adalah tempat

    dilaksanakannya berbagai proyek pembangunan yang besar, yang mempunyai daya tarik

    dan daya dorong terhadap pengembangan industri-industri yang terkait, yang

    selanjutnya keberhasilan pembangunan di kutub pertumbuhan disebarkan ke daerah-

    daerah sekitarnya, sehingga pertumbuhan terjadi secara luas.

    c. Strategi pembangunan yang berkiblat ke luar dan ke dalam (outward and inward looking)

    Agar supaya pembangunan ekonomi suatu negara dapat terlaksana secara cepat

    dan selaras dengan sasaran yang telah ditetapkan, diperlukan kebijakan pembangunan

    yang tepat dan selanjutnya dijabarkan ke dalam strategi pembangunan yang tepat pula.

    Strategi pembangunan yang berkiblat ke luar menganggap sektor perdagangan luar

    negeri dapat memainkan peranan sebagai sumber utama pertumbuhan atau dikatakan

    sebagai motor pertumbuhan. Perekonomian dalam negeri digerakkan ke arah

    pembangunan industri ekspor untuk melayani permintaan pasar dunia. Barang-barang

    diproduksi secara murah, sehingga memiliki daya saing yang kuat. Hasil produksi

  • 10

    barang ekspor digunakan untuk membayar barang yang diimpor.

    Penggunaan strategi ini berdasar dalil yang menyatakan bahwa negara-negara

    yang sedang berkembang pada umumnya adalah pengekspor produk primer (produk

    pertanian), secara bertahap menempati posisi yang rawan dalam kaitannya dengan impor

    barang industri, yang nilai tukarnya dalam jangka panjang akan melemah. Harga barang

    yang diimpor (sebagian besar barang industri) naik lebih cepat dibandingkan harga

    barang yang diekspor. Oleh karena itu perlu dikembangkan industri baru untuk

    menggantikan impor beberapa barang. Strategi pertumbuhan industri menggantikan

    barang-barang impor dikenal sebagai strtaegi substitusi impor (import substitution).

    Dari segi yang lain, strategi substitusi impor ini berakibat ke dalam yaitu

    mengembangkan industri di dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan masyarakat

    terhadap barang-barnag yang tadinya diimpor, artinya kiblatnya pembangunan yang

    semula diarahkan ke luar (outward looking) kemudian diarahkan ke dalam (inward

    looking).

    2.3. Analisa Potensi Relatif Perekonomian Wilayah

    Seorang perencana wilayah harus memiliki kemampuan untuk menganalisis

    potensi ekonomi wilayahnya. Hal ini terkait dengan kewajibannya di satu sisi

    menentukan sector-sektor riil yang perlu dikembangkan agar perekonomian daerah

    tumbuh cepat dan di sisi lain mampu mengidentifikasi faktor-faktor yang membuat

    potensi sektor tertentu rendah dan menentukan apakah prioritas untuk menanggulangi

    kelemahan tersebut. Setelah otonomi daerah, masing-masing daerah sudah lebih bebas

    dalam menetapkan sector/komoditi yang dirioritaskan pengembangannya. Kemampuan

    pemerintah daerah untuk melihat sektor yang memiliki keunggulan/kelemahan di

  • 11

    wilayahnya menjadi semakin penting. Sektor yang memiliki keunggulan, memiliki

    prospek yang lebih baik untuk dikembangkan dan diharapkan dapat mendorong sector-

    sektor lain untuk berkembang.

    Ada beberapa alat analisis yang dapat digunakan untuk menentukan potensi

    relative perekonomian suatu wilayah. Alat analisis itu antara lain keunggulan

    komparatif, dan location quotient..

    2.3.1. Keunggulan Komparatif

    Istilah comparative advantage (keunggulan komparatif) mula-mula dikenalkan

    oleh David Ricardo Tahun 1917 sewaktu membahas perdagangan antara dua Negara.

    Dalam teori tersebut, Ricardo membuktikan bahwa apabila dua Negara saling berdagang

    dan masing-masing Negara mengkonsentrasikan diri untuk mengekspor barang yang

    bagi Negara tersebut memiliki keunggulan komparatif maka kedua Negara tersebut akan

    beruntung. Ternyata ide tersebut bukan saja bermanfaat dalam perdagangan

    internasional tetapi juga sangat penting diperhatikan dalam ekonomi regional.

    Keunggulan komparatif suatu komoditi bagi suatu negara atau daerah adalah

    bahwa komoditi itu lebuh unggul secara relatif dengan komoditi lain di daerahnya.

    Pengertian unggul dalam hal ini adalah dalam bentuk perbandingan dan bukan dalam

    bentuk nilai tambah riil. Apabila keunggulan itu dalam bentuk nilai tambah riil maka

    dinamakan keunggulan absolut. Komoditi yang memiliki keunggulan walaupun hanya

    dalam bentuk perbandingan, lebih menguntungkan untuk dikembangkan dibanding

    dengan komoditi lain yang sama-sama diproduksi oleh kedua negara atau daerah.

    Saat ini istilah yang lebih sering dipakai adalah competitive advantage

    (keunggulan kompetitif) yang menganalisis kemampuan suatu daerah untuk

    memasarkan produknya ke luar daerah/luar negeri/pasar global. Istilah keunggulan

  • 12

    kompetitif lebih mudah dimengerti, yaitu cukup melihat apakah produk yang kita

    hasilkan bisa dijual di pasar global secara menguntungkan. Jadi kita tidak lagi

    membandingkan potensi komoditi yang sama di suatu negara dengan negara lainnya,

    melainkan membandingkan potensi komoditi suatu negara terhadap komoditi semua

    pesaingnya di pasar global.

    2.3.2. Analisis LQ (Location quotient)

    Untuk menganalisis basis ekonomi suatu wilayah, salah satu teknik yang lazim

    digunakan adalah location quotient (LQ). LQ digunakan untuk mengetahui seberapa

    besar tingkat spesialisasi sektor-sektor basis atau unggulan (leading sectors). Suatu

    sektor dikatakan sektor basis bila melayani pasar lokal dan pasar luar daerah (ekspor),

    sedangkan sektor non basis adalah sektor yang hanya melayani pasar lokal saja. Dalam

    teknik LQ berbagai peubah (faktor) dapat digunakan sebagai indikator pertumbuhan

    wilayah, misalnya kesempatan kerja (tenaga kerja) dan PDRB (Produk Domestik

    Regional Bruto) suatu wilayah.

    Analisis LQ dimaksudkan untuk mengidentifikasi dan merumuskan komposisi

    dan pergeseran sektor-sektor basis suatu wilayah dengan menggunakan produk

    domestik regional bruto (PDRB) sebagai indikator pertumbuhan wilayah. Formulasi

    matematisnya : (Adisasmita, 2005)

    LQ = (VR1 / VR) : (V1 / V)

    Dimana :

    VR1 = jumlah PDRB suatu sektor di suatu kabupaten/kodya VR = jumlah PDRB seluruh sektor di suatu kabupaten/kodya V1 = jumlah PDRB suatu sektor di tingkat provinsi V = jumlah PDRB seluruh sektor di tingkat provinsi

    Berdasarkan hasil perhitungan LQ dapat dianalisis dan disimpulkan sebagai berikut : - Jika LQ > 1, merupakan sektor basis, artinya daerah yang bersangkutan di

    samping dapat memenuhi kebutuhannya sendiri akan sektor i, juga memberi

  • 13

    peluang dan memiliki potensi ekspor ke wilayah lain karena ada surplus di sektor i. Dapat pula dikatakan bahwa wilayah tersebut berspesialisasi pada sektor basis atau sektor unggulan.

    - Jika LQ < 1, merupakan sektor non basis, yaitu sektor i tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan wilayahnya sendiri, artinya daerah tersebut memiliki kecenderungan untuk melakukan impor dari daerah lain.

    - Jika LQ = 1, berarti sektor i hanya dapat memenuhi kebutuhan wilayahnya sendiri. Produksi domestik habis dikonsumsi daerah tersebut.

    2.4. Pendekatan BCG Matriks dan Tipologi Klassen

    Pendekatan Matriks BCG (Boston Consulting Group) sesungguhnya digunakan

    dalam menyusun suatu perencanaan unit bisnis strategik dengan melakukan

    pengklasifikasian terhadap potensi keuntungan perusahaan (Kotler, 2002). BCG adalah

    sebuah perusahaan konsultasi manajemen terkemuka yang mempopulerkan matriks

    pertumbuhan-share (growth-share matrix). Matriks BCG membantu analisis strategik

    untuk mengetahui penghasil dan pengguna optimal sumber daya perusahaan.

    Perusahaan yang teridentifikasi dalam matriks menunjukkan tingkat

    pertumbuhan pasar (market growth) dan share pasar relatif (relative market share),

    yang masing-masing ditunjukkan oleh garis vertikal dan horizontal. Tingkat

    pertumbuhan pasar adalah proyeksi laju pertumbuhan penjualan untuk pasar yang

    dilayani suatu bisnis. Biasanya diukur sebagai prosentase kenaikan penjualan atau unit

    volume pasar selama dua tahun terakhir, laju ini berfungsi sebagai indikator daya tarik

    relatif pasar yang dilayani masing-masing bisnis dalam portofolio bisnis perusahaan.

    Posisi bersaing relatif biasanya dinyatakan sebagai bagian pasar suatu bisnis dibagi

    dengan bagian pasar pesaing terbesarnya. Jadi posisi bersaing relatif memberikan dasar

    untuk membandingkan kekuatan relatif bisnis-bisnis dalam portofolio perusahaan dari

    segi posisi mereka di pasar yang bersangkutan.

  • 14

    Analisis dengan pendekatan BCG akan dapat menghasilkan empat implikasi

    yang berbeda dalam hal peran perusahaan dalam strategi tingkat korporasi (Pearce dan

    Robinson, 1997) :

    1. Bisnis dalam pasar yang pertumbuhannya cepat dan bagian pasar besar (Star). Bisnis ini merupakan peluang (pertumbuhan dan profitabilitas) jangka panjang yang terbaik dalam portofolio perusahaan. Bisnis ini membutuhkan investasi besar untuk mempertahankan (dan mengembangkan) posisi dominan mereka di pasar yang sedang tumbuh. Kebutuhan akan investasi ini seringkali lebih besar daripada dana yang dapat mereka hasilkan sendiri. Karenanya, bisnis ini seringkali merupakan pengguna prioritas jangka pendek sumber daya perusahaan.

    2. Bisnis yang pertumbuhan pasarnya tinggi tetapi bagian pasarnya rendah (Question Marks). Bisnis tanda tanya (question marks) adalah pemakan dana yang rakus karena pertumbuhan yang tinggi menuntut arus kas yang tinggi pula, sementara bagian pasar yang kecil membuat mereka tidak banyak menghasilkan dana (kas). Di tingkat korporasi, masalahnya adalah mengidentifikasi bisnis-bisnis tanda tanya yang akan meningkatkan bagian pasar mereka dan beralih mnejadi kelompok bintang jika sumber daya extra perusahaan dicurahkan untuk mereka. Bila pergeseran jangka panjang dari posisi tanda tanya ke posisi bintang ini tidak mungkin, matriks BCG menyarankan untuk mendivestasi saja bisnis tanda tanya ini dan mereposisikan sumber dayanya secara lebih efektif ke komponen portofolio perusahaan yang lain.

    3. Bisnis yang memiliki bagian pasar besar di pasar atau industri yang pertumbuhannya rendah (Cash Cow). Karena posisi mereka yang kuat dan kebutuhan akan reinvestasi yang minimal, bisnis-bisnis ini seringkali menghasilkan dana (kas) lebih besar dari yang mereka butuhkan. Oleh karena itu, mereka secara selektif diperah sebagai sumber dana korporasi untuk dimanfaatkan di bisnis lain (untuk bisnis bintang dan tanda tanya). Bisnis sapi perah adalah bisnis bintang masa lalu dan fondasi masa kini dalam portofolio korporasi. Mereka menyediakan dana (kas) yang dibutuhkan untuk membiayai overhead korporasi dan deviden serta memberikan kemampuan berutang. Mereka dikelola untuk mempertahankan bagian pasar mereka yang kuat sambil terus menghasilkan sumber daya lebih untuk digunakan di seluruh korporasi.

    4. Bisnis yang bagian pasarnya rendah dan pertumbuhan pasar juga rendah (Dog). Bisnis ini berada di pasar yang sudah jenuh, dewasa dengan persaingan yang ketat dan marjin laba yang rendah. Karena posisi mereka yang lemah, mereka dikelola untuk mendapatkan arus kas jangka pendek (misal melalui pemotongan biaya) untuk suplemen kebutuhan sumber daya korporasi. Menurut resep BCG yang orisinil, bisnis seperti ini didivestasi atau dilikuidasi setelah pemanenan (harvesting) jangka pendek ini maksimal.

  • 15

    Tingkat pertumbuhan pasar seringkali dipisahkan menjadi tinggi dan rendah

    oleh suatu garis yang begitu saja ditetapkan pada angka 10%. Titik pemisah antara

    posisi bersaing tinggi dan rendah biasanya ditetapkan antara 1,0 dan 1,5 karena

    setiap angka di atas 1,0 menggambarkan bagian pasar yang lebih besar daripada bagian

    pasar pesaing terbesar.

    Matriks BCG merupakan pengembangan awal yang bermanfaat dalam

    rancangan portofolio untuk strategi tingkat korporasi. Tujuannya adalah untuk

    menentukan strategi korporasi yang paling baik dalam menyeimbangkan portofolio

    unit-unit usaha (business unit). Portofolio BCG yang ideal adalah penjualan terbesar

    oleh bisnis sapi perah dan bintang, sementara hanya sedikit saja ada bisnis tanda tanya

    dan sangat sedikit bisnis lapuk (dog).

    Pendekatan Matriks BCG sesungguhnya tidak jauh berbeda jika dibandingkan

    dengan pendekatan Tipologi Klassen (Klassen Typology). Pendekatan Tipologi Klassen

    digunakan untuk mengetahui gambaran tentang pola dan pertumbuhan ekonomi tiap-

    tiap daerah (Bank Indonesia, 2006). Pendekatan Tipologi Klassen pada dasarnya

    membagi daerah berdasarkan dua indikator utama, yaitu pertumbuhan ekonomi daerah

    dan pendapatan per kapita daerah. Pendekatan ini akan menghasilkan empat

    karakteristik pola dan struktur pertumbuhan ekonomi yang berbeda, yaitu :

    1 Daerah cepat maju dan cepat tumbuh (high grow and high income)

    2. Daerah maju tetapi tertekan (high income but low growth)

    3. Daerah berkembang cepat (high growth but low income)

    4. Daerah relatif tertinggal (low growth and low income)

  • 16

    3. METODOLOGI PENELITIAN

    3.1. Jenis dan Sumber Data

    Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data tentang usaha-usaha

    ekonomi masyarakat Kota Malang yang bergerak di 9 sektor perekonomian, yaitu sektor

    pertanian; pertambangan dan penggalian; industri pengolahan, perdagangan, hotel,

    restoran; listrik, gas dan air bersih; konstruksi/bangunan; pengangkutan dan komunikasi;

    keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dan sektor jasa-jasa. Gambaran besarnya

    peran masing-masing sektor terhadap perekonomian Kota Malang tercermin dalam nilai

    PDRB (Product Domestic Regional Bruto) Kota Malang.

    Data primer diperoleh dari wawancara dengan responden (pelaku ekonomi di 9

    sektor) maupun dari SKPD terkait. Sedangkan data sekunder diperoleh dari publikasi

    yang diterbitkan BPS, Bappeda, Bank Indonesia maupun SKPD terkait.

    3.2. Analisa Data

    3.2.1. Analisis LQ (Location quotient)

    Analisis LQ dimaksudkan untuk mengidentifikasi dan merumuskan komposisi

    dan pergeseran sektor-sektor basis suatu wilayah dengan menggunakan PDRB sebagai

    indikator pertumbuhan wilayah. Formulasi matematisnya : (Adisasmita, 2005)

    LQ = (VR1 / VR) : (V1 / V)

    Dimana :

    VR1 = jumlah PDRB suatu sektor di Kota Malang

    VR = jumlah PDRB seluruh sektor di Kota Malang

    V1 = jumlah PDRB suatu sektor di Propinsi Jawa Timur

    V = jumlah PDRB seluruh sektor di Propinsi Jawa Timur

  • 17

    3.2.2. Matriks BCG

    Penerapan pendekatan Matrikss BCG untuk menganalisis kinerja pembangunan

    kecamatan-kecamatan di Kota Malang berdasarkan PDRB, di mana pertumbuhan pasar

    (market growth) dan share (relative market share), dalam BCG dimaknai sebagai

    pertumbuhan PDRB dan kontribusi persentase PDRB berdasarkan lapangan usaha.

    Analisis dengan pendekatan BCG akan dapat menghasilkan empat tipe lapangan usaha

    yang masing-masing mempunyai klasifikasi sebagai berikut.

    1. Lapangan usaha dengan pertumbuhan tinggi dan distribusi presentase tinggi (Star).

    2. Lapangan usaha dengan pertumbuhan tinggi dan distribusi persentase yang rendah

    (Question Marks).

    3. Lapangan usaha dengan pertumbuhan rendah dan distribusi persentase tinggi (Cash

    Cow).

    4. Lapangan usaha dengan pertumbuhan rendah dan distribusi persentase rendah

    (Dog).

    Dalam penelitian ini klasifikasi tinggi adalah apabila indikator lapangan

    usaha lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata lapangan usaha seluruhnya.

    Sebaliknya, klasifikasi rendah apabila indikator lapangan usaha lebih rendah daripada

    rata-rata lapangan usaha seluruhnya.

    Ketidakseimbangan pembangunan terjadi ditunjukkan oleh kondisi di mana

    terlalu banyak lapangan usaha terletak pada posisi Dog atau Question Mark dan atau

    terlalu sedikit pada posisi Star dan Cash Cow. Strategi yang dapat diterapkan untuk

    lapangan usaha menuju pada keseimbangan pembangunan adalah strategi

    pengembangan, strategi mempertahankan, strategi efisiensi, dan strategi sinergi.

  • 18

    4. HASIL DAN PEMBAHASAN

    4.1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Malang

    PDRB Kota Malang menurut harga berlaku tahun 2007 sebesar 20.543 milyar.

    PDRB atas dasar harga berlaku ini dapat digunakan untuk melihat struktur ekonomi

    Kota Malang. Tiga sektor penyumbang terbesar terhadap PDRB Kota Malang tahun

    2007 adalah sektor industri pengolahan (36.06 persen), diikuti sektor perdagangan,

    hotel dan restoran (33.95 persen) dan sektor jasa-jasa (11.99 persen). Sektor yang

    sumbangannya paling kecil terhadap PDRB adalah sektor pertambangan dan penggalian

    (0.05 persen).

    Bila dilihat dari segi laju pertumbuhan sektoral, maka sektor keuangan, persewaan

    dan jasa perusahaan merupakan sektor yang laju pertumbuhannya paling tinggi (15.99

    persen), sedangkan sektor yang laju pertumbuhannya paling rendah adalah sektor

    pertambangan dan penggalian (4.83 persen).

    Tabel 2: PDRB Kota Malang Kota Malang Atas Dasar Harga Berlaku (milyar rupiah)

    No

    Sektor PDRB atas dasar harga berlaku

    2006 2007 Laju PDRB % PDRB % PDRB

    1 Pertanian 90.48 0.5 94.88 0.46 4.85 2 Pertambangan dan Penggalian 9.28 0.05 9.73 0.05 4.83 3 Industri Pengolahan 6,460.24 35.71 7,406.96 36.06 14.65 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 74.41 0.41 78.59 0.38 5.62 5 Bangunan 526.86 2.91 589.48 2.87 11.88 6 Perdagangan, Hotel, Restoran 6,181.16 34.16 6,975.24 33.95 12.85 7 Angkutan dan Komunikasi 899.62 4.97 943.89 4.59 4.92 8 Keuangan, Persewa,Jasa Perus 1,707.95 9.44 1,981.02 9.64 15,99 9 Jasa-Jasa 2,142.14 11.84 2,463.20 11.99 14.99 Total 18,092.17 100 20,543.00 100 Sumber : BPS Kota Malang tahun 2008

  • 19

    Sektor industri pengolahan memberikan sumbangan terbesar terhadap PDRB

    Kota Malang, yaitu sebesar 35.71 persen di tahun 2006. Sumbangan ini meningkat di

    tahun 2007 menjadi 36.06 persen. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya usaha

    kecil ataupun home industry di sekitar kita. Sektor perdagangan, hotel, restoran

    meskipun sumbangannya terhadap PDRB besar, namun sumbangan ini menurun sebesar

    0.21 persen di tahun 2007. Hal ini salah satu penyebabnya adalah adanya bencana

    lumpur lapindo di Porong Sidoarjo, sehingga arus perdagangan dari dan keluar kota

    Malang terganggu, begitu pula kunjungan wisatawan ke Malang juga berkurang yang

    berakibat turunnya tingkat hunian hotel.

    Kontribusi sektor listrik, gas dan air bersih menurun sedikit, tahun 2005 sebesar

    0.49 persen, tahun 2006 menjadi 0.41 persen dan tahun 2007 semakin menurun menjadi

    0.38 persen. Hal ini dikarenakan turunnya konsumsi air bersih, dimana jumlah

    konsumsi tahun 2005 sebesar 24.311.336 m kubik dan tahun 2006 turun menjadi

    23.343.824 m kubik (BPS, 2007). Sektor angkutan dan komunikasi juga mengalami

    penurunan sedikit, tahun 2005 sebesar 7.24 persen dan tahun 2006 sebesar 7.03 persen.

    Hal ini dikarenakan turunnya laju pertumbuhan subsektor angkutan, dimana salah satu

    indikatornya adalah turunnya jumlah penumpang angkutan kota dan bis terutama sejak

    kenaikan harga BBM pada bulan Oktober 2005.

    Sektor keuangan, persewaan dan sektor jasa-jasa mengalami peningkatan

    kontribusi terhadap PDRB. Hal ini bisa dipahami karena semakin tingginya peran sektor

    perbankan maupun koperasi dalam menunjang kegiatan ekonomi masyarakat.

    Sedangkan meningkatnya peran sektor jasa dikarenakan semakin berkembangnya usaha

    jasa kemasyarakatan seperti rental komputer, laundry, bengkel, salon dan lain-lain.

    Selain itu, naiknya peran sektor jasa juga disebabkan adanya otonomi daerah, dimana

  • 20

    dampak otonomi adalah adanya beberapa instansi dilikuidasi dan pegawai yang

    berstatus sebagai pegawai pusat sebagian besar dilimpahkan ke daerah untuk

    selanjutnya menjadi pegawai daerah. Penambahan jumlah pegawai di pemerintahan

    daerah menimbulkan penambahan terhadap nilai tambah yang dihasilkan sub sektor

    pemerintah. Hal ini terlihat dari peranan pemerintah yang semakin besar dalam

    pembentukan PDRB.

    Salah satu indikator yang dapat menggambarkan kemajuan suatu wilayah adalah

    pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dihitung dari perubahan PDRB atas

    dasar harga konstan, dimana keadaan ini dapat menggambarkan kenaikan produksi

    dengan menghilangkan faktor perubahan harga. Dari nilai PDRB atas dasar harga

    konstan diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi Kota Malang tahun 2006 sebesar 5.95

    persen dan pada tahun 2007 pertumbuhan ekonomi tersebut naik menjadi 5.98 persen

    (BPS, 2008).

    Tabel 3: PDRB Kota Malang Atas Dasar Harga Konstan (milyar rupiah)

    No

    Sektor PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2006 2007 Laju

    PDRB % PDRB % PDRB 1 Pertanian 59.75 0,56 58.95 0,52 -1,34 2 Pertambangan dan Penggalian 7.02 0,07 7.00 0,06 -0,36 3 Industri Pengolahan 3,675.09 34,22 3,873.93 34,04 5,41 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 44.41 0,41 45.99 0,40 3,54 5 Bangunan 249.53 2,32 205.21 2,33 6,28 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 3,934.74 36,64 4,197.67 36,88 6,68 7 Angkutan dan Komunikasi 500.20 4,66 520.26 4,57 4,01 8 Keuangan, Persewa,Jasa &

    Perusahaan 907.76 8,45 972.43 8,54 7,12

    9 Jasa-Jasa 1,360.53 12,67 1,439.32 12,65 5,79 Total 10,739.07 100 11,380.77 100 5,98

    Sumber: BPS Kota Malang 2008 Keterangan : * = 5,95% adalah laju pertumbuhan PDRB Kota Malang tahun 2006

    Dilihat dari nilai PDRB atas dasar harga konstan, maka sektor yang mendukung

    pertumbuhan ekonomi tahun 2007 antara lain sektor keuangan, sewa dan jasa

    perusahaan (7.12 persen), sektor perdagangan, hotel, restoran (6.68 persen), dan sektor

  • 21

    bangunan (6.28 persen). Laju pertumbuhan sektor pertanian -1.34 persen artinya

    pertumbuhan sektor pertanian mengalami penurunan. Hal ini terjadi karena luas lahan

    pertanian berkurang sehingga hasil produksi sektor pertanian juga berkurang.

    Pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian juga negatif yaitu sebesar -0.36

    persen. Pertumbuhan negatif sektor ini terjadi karena lahan untuk penggalian juga

    berkurang sehingga kontribusi sektor ini turun.

    4.2. Analisis LQ (Location quotient)

    Hasil analisis LQ pada tahun 2005 dan 2006 menemukan lima sektor yang nilai

    LQnya di atas 1 yaitu sektor industri pengolahan; perdagangan, hotel, restoran; sektor

    pengangkutan dan komunikasi; sektor keuangan dan sewa serta sektor jasa-jasa. Hal itu

    menunjukkan bahwa Kota Malang memiliki keunggulan komparatif pada kelima sektor

    tersebut. Sebaliknya nilai LQ kurang dari 1 ditemukan pada sektor pertanian;

    pertambangan dan penggalian; sektor listrik, gas dan air serta sektor konstruksi.

    Tabel 4. Hasil Analisis LQ

    SEKTOR PDRB JAWA TIMUR (milyar rupiah)

    PDRB KOTA MALANG

    (milyar rupiah)

    LQ KOTA MALANG

    2005 2006 2005 2006 2005 2006 Pertanian 44,700 46,476 60 59.75 0.03 0.03 Pertambangan & galian 5,024 5,455 7 7.02 0.00 0.03 Industri Pengolahan 70,635 72,786 3,494 3,675.09 1.27 1.30 Listrik, air dan gas 4,429 4,610 43 44.41 0.25 0.25 Konstruksi 8,903 9,030 234 249.53 0.67 0.71 Perdagangan,hotel&restoran 74,546 81,715 3,561 3,934.74 1.23 1.17 Angkutan & komunikasi 14,521 15,504 605 500.20 1.07 1.09 Keu,sewa&jasa perusahaan 12,665 13,611 837 907.76 1.69 1.68 Jasa-jasa 20,945 22,048 1,139 1,360.53 1.39 1.42 JUMLAH 256,374 271,238 9,984 10,739.07 Sumber : BPS (Data diolah).

    Sementara itu, nilai LQ kurang dari 1 pada sektor pertanian; pertambangan dan

    penggalian; sektor listrik, gas dan air serta sektor konstruksi menunjukkan rendahnya

    keunggulan komparatif sektor-sektor tersebut. Dengan kata lain ketiga sektor kurang

  • 22

    potensial sebagai penggerak perekonomian daerah. Hal ini dapat dibandingkan dari

    share sektor yang sama pada tingkat Jawa Timur. Rendahnya keunggulan komparatif

    tersebut disebabkan oleh beberapa faktor berikut:

    1. Berkembangnya Malang menjadi wilayah urban center sehingga terjadi alih fungsi

    dan perubahan perilaku secara signifikan dari sistem produksi pertanian ke arah

    industri manufaktur dan jasa-jasa. Hal ini juga berdampak kepada menurunnya

    peran sektor primer lainnya, khususnya penggalian yang bergeser ke wilayah

    kabupaten.

    2. Sektor listrik dan air di Kota Malang beroperasi relatif stabil sehingga tidak

    menghasilkan peningkatan nilai tambah yang signifikan dibanding yang terjadi di

    tingkat Jawa Timur. Hal sama juga terjadi pada sektor konstruksi. Meskipun

    demikian, dua sektor terakhir tersebut memiliki kecenderungan meningkat dari

    tahun 2005 ke 2006. Salah satu pemicunya adalah aktivitas pembangunan fisik dan

    properti untuk perumahan baru dan juga rumah toko (ruko).

    4.3. ANALISA MATRIKS BCG

    Selanjutnya untuk mengetahui sektor-sektor yang pertumbuhannya tinggi/rendah

    maupun sektor-sektor yang bagian pasarnya tinggi/rendah terhadap PDRB Kota Malang

    dilakukan analisa BCG matriks. Analisa BCG dilakukan dengan terlebih dahulu

    menghitung tingkat pertumbuhan masing-masing sektor dalam PDRB kemudian

    dihitung rata-rata tingkat pertumbuhan sektor.

    Dari perhitungan pertumbuhan dan kontribusi sektoral maka dapat dikategorikan

    matriks BCG terhadap 9 sektor dalam PDRB Kota Malang tahun 2007 sebagai berikut :

    Rata-rata pertumbuhan sektor = 4.12 persen; rata-rata kontribusi sektor 11.11 persen.

    a. Sektor pertanian = pertumbuhan rendah, kontribusi rendah (dog)

  • 23

    b. Sektor pertambangan dan galian = pertumbuhan rendah, kontribusi rendah (dog) c. Sektor industri pengolahan = pertumbuhan tinggi, kontribusi tinggi (star) d. Sektor listrik,gas dan air bersih = pertumbuhan rendah, kontribusi rendah (dog) e. Sektor bangunan = pertumbuhan tinggi, kontribusi rendah (question mark) f. Sektor perdagangan,hotel, restoran = pertumbuhan tinggi, kontribusi tinggi (star) g. Sektor angkutan dan komunikasi = pertumbuhan rendah, kontribusi rendah (dog) h. Sektor keuangan, sewa dan jasa perusahaan = pertumbuhan tinggi, kontribusi rendah

    (question mark) i. Sektor jasa-jasa = pertumbuhan tinggi, kontribusi tinggi (star)

    DOGShare rendah, growth rendah

    Kontribusi/share Sektor(11.11%)

    STARShare tinggi, growth tinggi

    Pertumbuhan/growth

    Sektor (4.12%)CASH COWShare tinggi, growth rendah

    QUESTION MARKShare rendah, growth tinggi

    TinggiRendah

    Rendah

    Tinggi

    Matrik BCG Kota Malang Tahun 2007

    PerdaganganIndustri PengolahanJasa-jasa

    Keu,sewa & jasa perusBangunan

    Listrik, Air dan gasPertambangan & galianPertanianAngkutan dan komunikasi

    Gambar 2. Matriks BCG Kota Malang tahun 2007

    Dari matriks BCG di atas menunjukkan adanya prestasi pembangunan yang

    tidak seimbang dilihat secara sektoral di Kota Malang. Ketidakseimbangan terjadi pada

    kondisi dimana lebih banyak sektor terletak pada posisi dog. Sektor industri

    pengolahan, perdagangan hotel restoran serta sektor jasa-jasa masih mendominasi

    PDRB Kota Malang dengan pertumbuhan dan kontribusi yang tinggi sehingga terletak

    pada posisi star. Dalam tipologi Klassen sektor ini disebut cepat maju dan cepat

    tumbuh. Strategi yang dapat dilakukan adalah mempertahankan posisi star sehingga

    dapat memberi sinergi pada sektor-sektor lainnya.

  • 24

    Sektor keuangan dan sektor bangunan berada pada posisi question mark. Posisi

    ini menunjukkan bahwa sektor memiliki pertumbuhan tinggi namun kontribusi sektor

    terhadap PDRB masih rendah. Posisi question mark menunjukkan bahwa sektor tersebut

    merupakan sektor berkembang cepat seperti disebutkan dalam tipologi Klassen. Strategi

    yang dapat dilakukan adalah memacu peningkatan usaha pemberdayaan sektor tersebut

    untuk meningkatkan kontribusinya sehingga lambat laun dapat mencapai posisi star.

    Sektor listrik dan air, sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian,

    sektor angkutan dan komunikasi terletak pada posisi dog. Sektor ini memiliki kontribusi

    dan pertumbuhan yang rendah. Dalam analisis tipologi Klassen sektor ini tergolong

    sektor relatif tertinggal yang berarti tertinggal dalam pencapaian pertumbuhan dan

    kontribusi terhadap PDRB dibandingkan sektor lainnya. Sektor listrik dan air serta

    sektor angkutan dan komunikasi merupakan usaha publik yang mementingkan

    pelayanan terhadap publik sehingga pertumbuhannya rendah. Sebaliknya sektor

    pertanian dan sektor pertambangan penggalian merupakan sektor langka di Kota

    Malang sehingga tingkat pertumbuhannya rendah.

    5. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

    5.1. Kesimpulan

    1. PDRB Kota Malang menurut harga berlaku tahun 2007 sebesar 20,543 trilyun.

    PDRB atas dasar harga berlaku ini dapat digunakan untuk melihat struktur ekonomi

    Kota Malang. Tiga sektor penyumbang terbesar terhadap PDRB Kota Malang tahun

    2007 adalah sektor industri pengolahan (36.06 persen), diikuti sektor perdagangan,

    hotel dan restoran (33.95 persen) dan sektor jasa-jasa (11.99 persen).

    2. Hasil analisis LQ pada tahun 2005 dan 2006 menemukan ada lima sektor yang nilai

    LQ nya di atas 1 yaitu sektor industri pengolahan; perdagangan, hotel, restoran;

  • 25

    sektor pengangkutan dan komunikasi; sektor keuangan dan sewa serta sektor jasa-

    jasa. Dengan kata lain kelima sektor tersebut merupakan sektor unggulan

    (mempunyai keunggulan komparatif) di Kota Malang sehingga mampu menjadi

    penggerak perekonomian daerah.

    3. Hasil matriks BCG menunjukkan adanya prestasi pembangunan yang tidak

    seimbang dilihat secara sektoral di Kota Malang. Ketidakseimbangan terjadi pada

    kondisi dimana lebih banyak sektor terletak pada posisi dog. Sektor industri

    pengolahan, sektor perdagangan hotel restoran serta sektor jasa-jasa masih

    mendominasi PDRB Kota Malang dengan pertumbuhan dan kontribusi yang tinggi

    sehingga terletak pada posisi star.

    4. Analisa Matriks BCG menunjukkan bahwa sektor keuangan dan sektor bangunan

    berada pada posisi question mark. Poisisi ini menunjukkan bahwa sektor memiliki

    pertumbuhan tinggi namun kontribusi sektor terhadap PDRB Kota Malang masih

    rendah. Posisi question mark menunjukkan bahwa sektor tersebut merupakan sektor

    berkembang cepat seperti disebutkan dalam tipologi Klassen.

    5. Sektor listrik dan air, sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, sektor

    angkutan dan komunikasi berdasar hasil analisa matriks BCG terletak pada posisi

    dog. Sektor ini memiliki kontribusi dan pertumbuhan yang rendah. Dalam analisis

    tipologi Klassen sektor ini tergolong sektor relatif tertinggal dalam pencapaian

    pertumbuhan dan kontribusi terhadap PDRB dibandingkan sektor lainnya.

    5.2. Rekomendasi

    1. Balance growth untuk Kota Malang seyogyanya merupakan agenda yang harus

    dilaksanakan. Balance growth merupakan model pembangunan untuk meningkatkan

    pemerataan kesejahteraan.

  • 26

    2. Strategi yang dapat dilakukan untuk sektor-sektor di posisi star (sektor industri

    pengolahan; perdagangan, hotel, restoran dan sektor jasa) adalah mempertahankan

    posisi star sehingga dapat memberi sinergi dan mendorong perkembangan sektor-

    sektor lainnya.

    3. Strategi yang dapat dilakukan untuk industri-industri pada posisi question mark

    (sektor keuangan dan sektor bangunan) adalah memacu peningkatan usaha dan

    memberdayakan sektor tersebut untuk meningkatkan kontribusinya sehingga lambat

    laun dapat mencapai posisi star

    4. Sektor-sektor yang berada pada posisi dog adalah sektor pertanian, sektor

    penggalian, sektor listrik dan air, sektor angkutan dan komunikasi. Sektor listrik dan

    air serta sektor angkutan dan komunikasi merupakan usaha publik yang

    mementingkan pelayanan terhadap publik sehingga pertumbuhannya rendah.

  • 27

    DAFTAR PUSTAKA

    Adisasmita, Rahardjo. 2005. Dasar-dasar Ekonomi Wilayah. Penerbit Graha Ilmu. Yogyakarta.

    Adisasmita, Rahardjo. 2008. Pengembangan Wilayah Konsep dan Teori. Penerbit Graha Ilmu. Yogyakarta.

    Arsyad, L. 1999. Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah. Yogyakarta : BPFE.

    Azis, Iwan Jaya.1994. Ilmu Ekonomi Regional dan beberapa Aplikasinya di Indonesia. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta.

    Badan Pusat Statistik Kota Malang. 2007. Kota Malang Dalam Angka Tahun 2007.

    Badan Pusat Statistik Kota Malang. 2008. Kota Malang Dalam Angka Tahun 2008.

    Bank Indonesia. 2007. Statistik Ekonomi Keuangan Daerah Jawa Timur.

    BPMKB Kota Malang. 2006-2007. Daftar Isian Potensi Kelurahan dan Tingkat Perkembangan Kelurahan.

    Blakely, Edward J. 1998, Planning Local Economic Development: Theory and Practice, Sage Publications

    Kuncoro, Mudrajad. 2000. Ekonomi Pembangunan : Teori, Masalah dan Kebijakan, UPP AMP YKPN. Yogyakarta.

    Kuncoro, Mudrajad. 2004. Otonomi dan Pembangunan Daerah. Penerbit Erlangga. Nugroho, Iwan dan Dahuri, Rochmin. 2004. Pembangunan Wilayah : Perspektif

    Ekonomi, Sosial dan Lingkungan. Penerbit Pustaka LP3ES. Jakarta.

    Partadiredja, Ace. 1986. Perhitungan Pendapatan Nasional. LP3ES. Jakarta. Sanapiah, Faizal, 1990, Metodologi Penelitian Kualitatif, Yayasan Asah Asih Asuh,

    Malang.

    Soediyono. 1986. Analisa Pendapatan Nasional. BPFE. Yogyakarta.

    Tambunan, Tulus T.H. 2003. Perekonomian Indonesia. Penerbit Ghalia Indonesia. Jakarta.

    Tarigan, Robinson. 2006. Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi. Penerbit Bumi Aksara.